Header Ads

Gambar1

Hilang Karena Tidak Ada Regenerasi Berusaha Menjaga Keaslian Motif Batik Khas Kudus

Baca Juga


Oleh: Nor kholidin dan Agus Sulistiyanto

DARI Universitas Muria Kudus (UMK) kami bergerak ke barat menelusuri jalan hingga perempatan Panjang, lampu merah pun memberhentikan kami. Saat lampu berubah hijau, kami pun berjalan lurus hingga menemui perempatan kembali. Kali ini, lampu merah tak menghadang kami, sehingga perjalanan berlanjut. Kami berjalan lurus menyusuri jalan yang di sisi kanan dan kiri terhampar sawah tanpa tanaman. Gersang.
Setelah itu, melewati beberapa belokan, kami memasuki Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di sinilah kami akan menemui salah seorang perajin batik khas Kudus. Akhirnya, setelah melintas beberapa menit di sisi kiri jalan kami menemukan toko bernama ALFA Batik.


Kami pun berhenti untuk memastikan bahwa ruko tersebut milik ibu Umu Asiyati, salah satu perajin batik khas Kudus. Kami pun memasuki toko tersebut mendapat suguhan beragam kerajinan batik dan bordir yang tertata rapi digantungan dan almari.
Sambil menunggu kehadiran ibu beranak empat ini, kami sempat melihat-lihat hasil kerajinan batik yang dipajang di tokonya. Lewat sepuluh menit menunggu, akhirnya kami ditemui Ibu Umu.
Dari keterangannya, pada mulanya, batik Kudus terpengaruh dari batik Lasem. Hal ini terjadi karena kebudayaan Lasem merembet hingga Kudus. Sehingga tak heran jika di Lasem terdapat nama batik yang sama namun berbeda motifnya.
Menurut Umu, batik khas Kudus sudah ada sejak 1930. Sedangkan batik Kudus menemui puncak ketenaran pada 1960 hingga 1980. “Setelah tahun 80an batik khas Kudus mulai kehilangan ketenarannya disebabkan berbagai alasan,” katanya.
Penyebabnya antara lain, minimnya warga Kudus yang mampu membatik. Umu menjelaskan, dulu pengusaha batik Kudus mengambil orang dari Pekalongan atau mengirim kain untuk di batik di Pekalongan, Setelah itu baru dijual. Hal tersebut berdampak pada regenerasi pembatik di Kudus.
Tidak adanya pembinaan bagi warga dalam pembuatan batik, memaksa pengusaha batik untuk mengambil karyawan dari luar Kudus. Sehingga upah karyawan dari luar Kudus pun lebih mahal, bahkan kadang-kadang mereka menentukan gajinya sendiri. “Kalau gajinya minta mahal, lalu batiknya kita jual berapa,” jelasnya.
Selain itu, penyebab ambruknya industri batik juga disebabkan adanya usaha rokok yang membludak. Sehingga warga Kudus lebih memilih bekerja di perusahaan rokok dari pada membatik yang membutuhkan ketelitian dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. “Padahal, dulu pemilik perusahaan rokok Nitisemito dan Langsep juga bergerak di bidang batik sebelum pindah ke rokok,” jelasnya.
Dari permasalahan tersebut, yang paling mengkhawatirkan baginya adalah tidak adanya regenerasi pembatik. Sehingga, dirinya tergugah mengajak beberapa orang untuk mempelajari bagaimana cara untuk membatik. Sampai saat ini, Umu mempunyai lima belas orang pekerja yang bisa membatik. “Ini saya lakukan agar batik khas Kudus bisa tetap eksis, yang dikerjakan oleh orang asli Kudus yang mampu membatik,” tambah lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang ini.
Diceritakan, sebetulnya pihak pemerintah pernah mengadakan pelatihan membatik. Namun, peserta terlihat tidak serius dalam pelatihan tersebut. Padahal, pemerintah sudah mengucurkan dana yang tak sedikit. “Selain itu, jadwal pelatihan yang seharusnya lima hari, diganti menjadi tiga hari. Hasilnya tak ada satu pun yang akhirnya menjadi pembatik,” tambahnya.
Selain pelatihan dari pemerintah, sebelumnya ia juga belajar membatik hingga, Yogjakarta, Semarang, Pekalongan, Lasem hingga Bandung. Biasanya, Dia juga mengajak beberapa pekerjanya untuk turut serta untuk bersama-sama belajar mengenai segala hal mengenai pembatikan.
Disamping melaksanakan pelatihan dengan biaya pribadi. Umu pun pernah meminta pemerintah untuk melakukan pembinaan dalam mengembangkan batik khas Kudus. “Tentunya dengan segala kekurangannya. Disamping mohon kritikan yang membangun,” jelas ibu kelahiran 25 Nopember 1962 ini.
Dalam perjalanan usaha batiknya, Dia juga mangembangkan batik cap. Tujuannya untuk menunjang keberlangsungan pembuatan batik khas Kudus. Pasalnya, pembuatan batik tulis membutuhkan waktu yang lama dan penjualannya pun agak susah.
Dengan batik cap, penjulannya lumayan cepat, keuntungannya bisa digunakan untuk menunjang pembuatan batik Kudus. “Jika saya mengandalkan penjualan batik tulis saja, usaha batik saya pasti akan menemui kesulitan permodalan,” jelasnya.
Batik cap yang dibuatnya, sempat menuai kritik dari pemerintah. Mereka mempertanyakan tentang kekhasan motif batik Kudus yang terdapat pada batik capnya. Karena menurut mereka, batik cap tersebut bukanlah motif batik khas Kudus.
Namun, Dia juga mengakui bahwa motif batik cap buatannya bukanlah motif batik khas Kudus. Tapi jika Dia mengandalkan penjualan dari batik tulis yang pembuatannya membutuhkan waktu hingga tiga bulan. Sementara modal yang dimiliki tak bisa berputar. “Padahal usaha saya bukan batik saja, tapi saya juga mempunyai usaha bordir,” tuturnya.
Dalam pembuatan batik cap, Dia melakukan beberapa inovasi motif batik. Seperti motif Menara Kudus, Jenang, Gunung Muria, alat pembuat rokok tradisional, dan Lentog Tanjung. Menurutnya, inovasi tersebut, juga bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan dan pariwisata yang berada di Kota Kretek ini.
Sedangkan untuk batik tulis, keaslian motif tetap dijaga tanpa ada modifikasi yang terlalu eksrim. Ini dilakukan untuk menjaga kekhasan batik agar tidak pudar karena modifikasi yang terlalu ekstrim. Pudarnya motif akan berpengaruh juga pada filosofi batik tersebut. Seperti yang terjadi pada batik khas Papua, yang dimodifikasi terlalu banyak sehingga menghilangkan keaslian motif batik papua sendiri.
Sementara untuk batik khas Kudus, kendati ada modifikasi, namun tetap menjaga keaslian motif khas Kudusnya. untuk motif batik khas Kudus antara lain, Kapal Kandas, Romo Kembang, Alas Kobong dan Beras Utah. “Motif yang paling saya pahami adalah Kapal Kandas dan Romo Kembang, selain itu saya belum menemukan motif patennya,” jelasnya.
Selain itu, pudarnya kekhasan batik juga karena persaingan harga. Dari persaingan tersebut, masing-masing produsen mencoba untuk memberikan harga murah agar mampu bersaing dengan produsen lainnya.
Dengan harga jual yang murah, berimbas kepada kualitas produk batik yang dihasilkan, dan bisa dipastikan akan mengurangi keaslian motif batik. “Kalau sudah terjadi persaingan, batik yang seharusnya dibatik dua kali bolak-balik, malah dibatik cuma satu kali,” tutur warga asal Grobogan ini.
Untuk pemasarannya sendiri, Umu mengakui terdapat banyak kendala. Ini disebabkan pangsa pasarnya hanya untuk masyarakat kalangan atas, mengingat harganya yang cukup tinggi. Harga batik yang paling murah dibandrol hingga Rp 1,5 juta.
Sedangkan untuk memaksimalkan penjualan, Dia juga sering mengikuti pameran. Seperti saat kali pertama mengikuti pameran Gelar Batik Nasional (GBN) di Jakarta, yang diadakan setiap dua tahun sekali. “Di sana kami mendapat sambutan hangat dari pengunjung, rata-rata mereka belum tahu kalau di Kudus juga ada batik khas Kudus,” jelasnya.
Saat pameran, Dia juga belajar mengenai segala hal tentang batik. Dia terus menimba ilmu walau saat pameran sekalipun. Dia mengakui, merasa senang jika mendapatkan kritik yang membangun dari rekan senior sesama pembatik.
Dulu, hasil batik yang Dia buat juga diminta dikritik dari orang yang lebih senior. Untuk pertama kali, produk batik yang dihasilkannya baru 25 persen, kedua kalinya sudah 50 persen, dan seterusnya hingga mencapai 100 persen.
Belajar dari kesalahan adalah hal yang sangat penting baginya. Pasalnya, dari itulah Umu bisa meningkatkan keahlian dalam membatik. Yang selanjutnya disebarkan kepada generasi muda yang berminat untuk menjaga kebudayaan daerahnya. “Dengan regenerasi yang baik, kebudayaan daerah akan selalu ada dan tidak hilang ditelan masa,” harapnya. (*)
Powered by Blogger.