Masih Mungkin, Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Baca Juga


oleh Muhammad Ulin Nuha

Awal tahun 2009, Indonesia memasuki babak baru perekonomian di kawasan asia tenggara. Babak dengan lakon Perdagangan Bebas ASEAN-China (FTA ASEAN-China), dengan aktor utama negara-negara ASEAN vs negara produktif, China.
Salah satu aktor pendukung dalam babak ini adalah Indonesia. Keterlibatan Indonesia merupakan konsekuensi atas penandatanganan kesepakatan FTA ASEAN-China.
Mampukah Indonesia menjalani babak ini dengan total acting, ketika menghadapi peran antagonis produk-produk China? Ketika menilik masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif. Faktanya, barang konsumsi apapun yang masuk ke Indoneia dengan harga terendah sampai tertinggi laris manis terjual. Mobil mewah terbaru dengan harga Rp 1,3 M, sampai mobil-mobilan seharga hanya Rp 1.000,- mampu di beli walaupun dengan luka pengorbanan.

Disisi lain, keprihatinan produksi dalam negeri terasa sekali ketika, Indonesia yang dulunya terkenal dengan lumbung padi dengan ketersediaan lahan pertanian luas, sekarang berbalik arah menjadi pengimpor beras. Ini menjadi ironis ketika kita justru mengimpor dari negara tetangga, Thailand dan Vietnam.
Bila ditinjau dari produk China, produsen China lebih memainkan dalam kepemimpinan harga yang cenderung rendah dan terdapat diberbagai tempat, walaupun dengan kualitas pula. Inilah yang nampaknya membuat produk China menang di pasaran.
Setrategi kepemimpinan harga, dengan menerapkan harga rendah memiliki kemungkinan berhasil jika pasar yang dituju relatif besar dan tumbuh, seperti di Asean, khususnya Indonesia. Apalagi, jika konsumen lebih mementingkan penghematan biaya biaya dibanding kualitas yang diterima.
Strategi ini sebenarnya satu dari tiga strategi generik bersaing perusahaan. Strategi lainnya, strategi different yang lebih menonjolkan kekhasan karakteristik produk yang akhirnya disebut unik. Serta strategi fokus, dengan berusaha memusatkan perhatian produsen untuk melayani satu segmen pasar tertentu saja.
Dua strategi tersebutlah yang masih mungkin dikembangkan oleh produsen dalam negeri. Strategi dapat dipakai secara terpisah ataupun kolaborasi. Penerapan strategi different dapat mengimbangi produk China dengan keunikan produk namun dengan harga yang masih dianggap bersaing. Keunikan produk inilah yang nantinya akan menjadi daya tarik konsumen.
Sementara strategi fokus, dapat diterapkan dengan cluster produsen yang menghasilkan produk tertentu dan dapat menekan biaya produk, karena terjadi spesialisasi produksi. Dengan demikian tak perlu khawatir lagi dengan produk China yang harganya tergolong rendah.
Disamping dua strategi bersaing yang dapat diterapkan, produsen dalam negeri harus mengimbangi dengan industri yang berwawasan lingkungan dan hemat energi. Disamping itu, produsen dalam negeri tak bisa berpuas diri dengan hanya memproduksi produk mentah, kalau ingin bertahan di persaingan pasar bebas.
Namun demikian, dukungan dari pemerintah sangat diharapkan demi terwujudnya industri dalam negeri yang mampu bersaing. Diantaranya dengan, mempermudah akses modal serta mempercepat standarisasi industri. Sehingga produk-produk kita mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

*penulis Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Muria Kudus (UMK)
Powered by Blogger.