Open Source Masih Belum Sempurna

Baca Juga


Oleh Imam Khanafi*

Open source adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu orang/lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet). Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak. Pengembangan Linux bersifat open source artinya source code dari aplikasi pembentuk sistem dan aplikasi lainnya diberikan secara terbuka sehingga setiap orang dapat melakukan modifikasi atau kustomisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sejak lisensi open source pertama kali dirilis hingga sekarang masih ada banyak yang tidak mengetahui perbedaan antara aplikasi open source dengan aplikasi gratis. Tetapi miskonsepsi paling besar tentang open source adalah semua aplikasi yang dirilis dengan lisensi open source tidak dilindungi hak cipta dan boleh dipakai sesukanya. Dan banyak individu maupun perusahaan di seluruh dunia yang memperlakukan aplikasi open source seakan-akan aplikasi tersebut tidak dilindungi hak cipta sama sekali.
Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, merevisi ulang, membenarkan ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab. Pada intinya konsep sumber terbuka adalah membuka “kode sumber” dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya. Sumber terbuka hanya sebatas itu. Artinya, dia tidak harus gratis. Definisi sumber terbuka yang asli adalah seperti tertuang dalam OSD (Open Source Definition)/ Definisi sumber terbuka. Pergerakan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka saat ini membagi pergerakannya dengan pandangan dan tujuan yang berbeda. Sumber terbuka adalah pengembangan secara metodelogi, perangkat lunak tidak bebas adalah solusi suboptimal. Bagi pergerakan perangkat lunak bebas, perangkat lunak tidak bebas adalah masalah sosial dan perangkat lunak bebas adalah solusi.

Sebagai Layanan Informasi
Pemerintah kota seharusnya selangkah lebih maju dalam memanfaatkan sistem teknologi informasi. Meski Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) menetapkan pemanfaatan itu paling lambat 2011, namun seharusnya pemerintah kota harus bisa lebih cepat merespon hal tersebut.
Penulis yang telah melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Kota Surabaya melihat, Inisiatif menyediakan pusat data itu telah dilakukan di Surabaya idealnya memang dilakukan swasta. Sebab kalau mengandalkan pemerintah kota butuh waktu lama mengingat penyediaan infrastruktur IT bukan hal utama. Dukungan swasta bisa melampaui akselerasi dan kemajuan ekonomi Surabaya. Dukungan ini sekaligus bisa mempercepat menjadikan Surabaya sebagai Cyber City, dimana nantinya di setiap area yang mempunyai nilai komersial tersedia hot spot, akses internet mudah dan terjangkau serta tersedia layanan konten. Saat ini, Surabaya baru memiliki 41 titik hot spot.
Wujudnya aplikasi pun sudah hadir dan layak operasional melalui kehadiran Sistem Operasi utama berbasis Open Source bernama lengkap Soerya Jembatan Merah 9.8 yang meliputi Sistem Integrasi Database Pemkot Surabaya, Sistem Gateway for Short-Message (GESSY), Sistem Close Circuit TV (CCTV) dan redesign web. Bahkan telah berkolaborasi dengan salah satu perusahaan TI terkemuka untuk menjalankan sistem operasi ini.
Sejak hadirnya aplikasi berbasis open source ini, pihak pemerintah kota Surabaya semakin mudah dalam mengakses data karena sistem database yang digunakan itu hanya satu dan saling teri00000000ntegrasi. Hal itu menyebabkan informasi yang disajikan pun akan sama. Selain itu, masyarakat Surabaya pun bisa mengakses tentang informasi kependudukan melalui aplikasi GESSY (Gateway Short Message System). Mengenai proses pengintegrasian layanan
Pada awalnya dalam menyajikan data dan informasi di pemerintah kota Surabaya itu sering terjadi asinkron data sehingga dalam mengatasi masalah dalam pemerintahan itu sering tarjadi kesalahan. Hal itu disebabkan karena pembangunan dari database pemerintah kota Surabaya ini masih berdiri sendiri dan jumlah sumber datanya itu banyak.
Oleh karena itu, lalu dibangunlah sebuah sistem aplikasi berbasis open source yang diberi nama Soerya 9.8 Jembatan Merah. Namun biasanya sering disebut aplikasi Soerya 9.8 saja. Aplikasi ini merupakan sebuah sistem operasi yang dibangun oleh pemerintah kota Surabaya dengan layanan teknologi guna menyelesaikan persoalan-persoalan dalam pemerintahan serta pelayanan masyarakat yang berbasis open source.
Soerya atau Sistem Operasi Masyarakat yang mejadi Sistem Operasi utama SKPD adalah transformer atau intrumen yang merubah secara dramatis cara Pemkot Surabaya berteknologi. Soerya sebagai sistem operasi diletakan sebagai tulang punggung teknologi layanan seperti GESSY yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi kependudukan, dan Integrasi Data.
Sistem database yang digunakan pun sudah terintegrasi dengan baik. Hal itu sangat menguntungkan bagi pihak pemerintah kota Surabaya karena sejak hadirnya aplikasi ini, proses pelaporan dan hasil laporan bisa sinkron. Selain itu, intervensi program pemerintah dan perencanaan program pemerintah yang menggunakan basic data kependudukan bisa optimal dan lebih akurat.
Manfaat dari penggunaan aplikasi Soerya 9.8 ini memang sangat besar. Sejak diluncurkannya aplikasi ini, data kependudukan bisa segera ter-update. Melalui GESSY masyarakat bisa mengetahui jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hanya dengan SMS saja. Selain itu, verifikasi data perizinan, prosentase fisik dan penggunaan dana tiap Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) serta informasi pembayaran biaya retribusi bisa diketahui dengan cara melalui SMS. Masyarakat Surabaya juga dimudahkan dengan pembuatan KTP secara on-line sehingga tidak memerlukan waktu yang lama. Dengan hanya mengecek database kependudukan pihak pemerintah kota Surabaya dapat mengecek KTP dan KSK baru di kecamatan serta dapat mengetahui gedung sekolah berapa kapasitasnya langsung. Melalui program LAMPID, kita juga bisa mengetahui jumlah kelahiran dan kematian dari penduduk Surabaya. Jadi jelas sekali bahwa kehadiran dari aplikasi Soerya 9.8 ini berperan penting dalam kehidupan masyarakat, terkait dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kemandirian, daya saing serta kreatifitas dan inovasi bangsa.
Penulis menyarankan agar Memberikan sebuah pelatihan kepada kecamatan-kecamatan mengenai aplikasi yang dikembangkan oleh dinkominfo agar penggunaan dari sistem itu bisa berhasil karena merekalah yang menjembatani antara pihak pemerintah kota dengan masyarakat. Sosialisasi penggunaan dari sistem operasi ini juga perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar mereka dapat merasakan manfaat dari sistem ini sehingga sistem operasi ini dapat berjalan dengan baik
Selain itu diperlukan adanya pengintegrasian sistem antara data center statistik dengan data center penduduk sehingga terjadi kesamaan data penduduk. Dibutuhkannya sistem keamanan yang canggih agar sistem ini tidak mudah untuk dijebol orang lain. Mengingat sistem operasi ini bersifat kompleks. Sistem backup data juga perlu disiapkan untuk menanggulangi jikalau ada salah satu SKPD yang putus jaringannya. Jadi dengan adanya sistem backup data maka permasalahan ini bisa teratasi.


*Penulis adalah mahasiawa Sistem Informasi
Fakultas Teknik
Universitas Muria Kudus
Powered by Blogger.