Header Ads

Gambar1

Optimalisasi Sektor Lokal Unggulan

Baca Juga


oleh M. Ulin Nuha*
Awal tahun 2010 Indonesia memasuki era perdagangan bebas yang melibatkan China dan negara-negara ASEAN atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Era perdagangan bebas Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001. Ini menyusul ratifikasi (pengesahan) perdagangan bebas oleh presiden Megawati Soekarno Putri presiden waktu itu.
Disusul, pada bulan Oktober 2008 Indonesia kembali terlibat penandatanganan kontrak perjanjian perdagangan bebas dengan skala lebih spesifik, yaitu ACFTA. Perdagangan bebas negara-negara ASEAN dan China.

Pelaksanaan ACFTA dimulai sejak awal tahun 2009. Terompet pun ditiup, tanda memasuki tahun baru 2010 sekaligus dimulainya babak baru perekonomian Indonesia.
Bila dilihat sebelum memasuki ACFTA pasar produk di Indonesia telah dijejali dengan produk-produk China. Produk-produk China seperti barang elektronik, mainan anak, handphone, hingga sepeda motor selalu tampak disejumlah rak-rak di setiap sudut toko, otlet, sourum, dan dealer.
Bila ditinjau dari produk China, produsen China lebih memainkan dalam kepemimpinan harga. Harga produk-produk cenderung lebih rendah. Selain itu, produk China terdapat diberbagai tempat. Inilah yang nampaknya membuat produk China menang di pasaran.
Setrategi kepemimpinan harga (cost leadher), dengan menerapkan harga rendah memiliki kemungkinan berhasil jika pasar yang dituju relatif besar dan tumbuh, seperti di ASEAN, khususnya Indonesia. Apalagi, jika konsumen lebih mementingkan penghematan biaya dibanding kualitas yang diterima.
Gerakan cinta produk dalam negeri dianggap upaya terbaik untuk mengimbangi penguasaan pasar oleh produk China. Namun, program ini tak akan berjalan mulus tanpa diimbangi dengan kualitas dan keunggulan produk lokal.
Membumikan gerakan cinta produk dalam negeri tak semudah dan tak secepat membalikkan telapak tangan. Alasannya konsumen dalam negeri memiliki kecenderungan memilih produk yang terjangkau oleh ”kantong kecil”. Selain itu, merubah mind set konsumtif produk luar negeri perlu waktu dan proses. Disisi lain ACFTA telah berjalan cepat.
Jika produk-produk China memiliki kemungkinan berhasil di ASEAN, khususnya di Indonesia. Bagaimana nasib produk-produk dalam negeri? Mampukah Indonesia membuat peluang dalamACFTA?
Kedua pertanyaan tersebut selalu menghantui dan menyemai ketakutan bagi sejumlah pengusaha lokal. Tak sebatas pengusaha besar, pengusaha kecil di berbagai daerah pun tak luput terkena efek. Salah satunya kota industri Kudus.
Sebagai kota industri, Kudus mempunyai perusahaan berskala kecil sampai besar, seperti industri konveksi, kerajinan, makanan, elektronik, rokok, logam mesin, dan pariwisata.
Imbas dari ACFTA memang belum begitu terasa di Kudus. Namun, pengusaha, pemerintah daerah (Pemda) dan pihak terkait perlu pasang ”kuda-kuda”, agar nantinya tak sebatas menjadi pasar potensial bagi negara China dan negara-negara ASEAN lain.
Para pengusaha tak perlu takut secara akut atas ancaman ACFTA. Ketakutan dan kecemasan berlebihan malah akan memberi efek buruk pada kinerja sektor. Justru pengusaha harus memandang ini merupakan peluang yang musti digarap secara optimal.
Produk-produk China dengan strategi kepemimpinan harga, yang cenderung murah masih mungkin diimbangi bahkan dikalahkan. Strategi differensiasi (differenciation strategi) dapat dijadikan pilihan. Strategi ini menerapkan perhatian pada produk yang mempunyai ciri khusus (unik) dan tidak mungkin ada di produk China, sehingga mampu menarik konsumen.
Strategi differensiasi cocok diterapkan di Kudus. Kudus memiliki banyak perusahaan kerajianan (handycraft) dengan pengerjaan hand made kreatif dan inovatif dirasa mampu untuk memenuhi kriteria unik dan menarik. Maka, sektor riil perlu diperkuat.
Selain memperkuat sektor riil, sektor pariwisata juga musti garap. Potensi wisata Kudus meliputi religi, alam, kegiatan budaya, dan kuliner perlu digarap optimal.
Perkuat Sektor Riil
Menjamurnya sektor riil seperti UMKM di Kudus sudah selayaknya diberi perhatian yang lebih. Pasalnya, sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dari penduduk setempat, selain itu menambah pendapatan asli daerah, serta membawa citra Kudus sebagai kota industri produktif.
Searah dengan penerapan strategi differensiasi yang layak diterapkan. UMKM di Kudus harus mempunyai produk unggulan yang mampu memberikan citra dan ciri khas berbeda.
Tak sebatas itu, mengubah mind set pengusaha UMKM yang mendirikan usaha hanya sebatas untuk pemenuhan bertahan hidup (strategi for live), perlu diubah menjadi jiwa enterpreuner (strategi enterprenuer) merupakan perkara urgen.
Tak kalah pentingnya, penerapan sistem manajemen yang sistematis, karena kebanyakan UMKM lebih nyaman dengan “manajemen tukang bakso”. Misalnya, memiliki pandangan sempit tentang perlunya pemisahan keuangan usaha dan keluarga (dapur) yang dirasa ribet. Inilah yang terkadang menjadi titik awal kolapnya usaha yang telah dirintis.
Dalam hal ini peran pemerintah daerah (Pemda) sangat diharapkan. Pemda dengan menggandeng ahli atau akademisi diharapkan memberi penyuluhan tentang pentingnya menerapkan jiwa wirausaha (enterprenuer) dan manajemen sistematis pada UMKM.
Kebijakan UU Nomor 20 tahun 2008 tentang permodalan bagi UMKM perlu dijalankan secara konsisten dan konsekuen. Sebagai pemegang kebijakan, Pemda diharapkan memberi kelonggaran pengajuan bantuan atau pinjaman modal untuk pendirian serta pengembangan usaha. Selain itu, perlu adanya insentif bagi sektor riil berupa penurunan retribusi daerah, dan bunga kredit pinjaman.
Optimalisasi Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata perlu digarap dan dioptimalkan perannya dalam menghadapi ACFTA. Sektor ini diyakini tidak terkena imbas langsung oleh perdagangan bebas khususnya ACFTA seperti yang dikhawatirkan bakal menerpa sektor lain.
Peluang di sektor pariwisata masih terbuka lebar, hal ini menyusul jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah (Jateng) tahun 2010 optimis akan mengalami peningkatan sekitar 10 persen. Salah satu indikatornya ialah sering merapatnya 11 kapal pesiar dari sejumlah negara Eropa. (Kompas, 4 Pebruari 2010)
Namun, daerah yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing di Jateng masih terbatas di sekitar Solo dan Pekalongan karena lebih tertarik dengan industri batik.
Bila dikelola dengan baik, Kudus tidaklah kalah dengan Solo dan Pekalongan. Jika Solo dan Pekalongan punya batik, Kudus juga punya batik dengan ciri khasannya sendiri. Tak kalah menarik Kudus juga mempunyai perayaan adat, seperti Ampyang di desa Loram Kulon pada bulan Mulud pada penanggalan Jawa, untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Peran Pemda diharapkan mengemas berbagai potensi yang berkembang, tak melulu terfokus pada obyek, namun juga terhadap kemasan seni dan budaya serta kuliner.
Pertajam Promosi
Usaha untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat tak lengkap jika hanya digarap hanya dari segi produknya saja. Promosi juga tak boleh dilupakan demi mendukung produk unggulan yang kompetitif.
Untuk meningkatkan promosi dan citra Kudus sebagai kota industri produktif dan pariwisata, perlu media yang tepat dengan cakupan luas.
Situs resmi atau website di internet dapat dijadikan alternatif untuk promosi potensi unggulan Kudus kepada dunia. Website akan menjadi semacam etalase atau shourum virtual yang dapat menampilkan potensi produk unggulan dan daya dukung pariwisata Kudus, seperti hotel, restauran, akomodasi, transportasi, dan kalender kegiatan budaya.
Namun, promosi haruslah diikuti dengan kenyataan. Jangan sampai potensi unggulan hanya menarik di media promosi, tapi tidak dengan sebenarnya.(*)

*penulis Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Peminat kajian ekonomi sektor riil dan pariwisata, Peneliti di Pena Kampus (Peka), Universitas Muria Kudus (UMK)
Powered by Blogger.