Gaul atau Copy Paste

Baca Juga


Oleh: Septianti
Kehidupan masyarakat kini tak sepi dari gejolak dunia fashion yang terus berkembang, apalagi bagi kaum remaja. Mereka selalu ingin terus memperbaiki penampilannya, disamping mencari jati diri, agar tak dikatakan ketinggalan zaman (kuno) dan tidak gaul.

Dunia fashion selalu berkembang pesat. Tak hanya untuk melindungi tubuh dari hawa ekstrim dan menutup aurat, fashion berkembang untuk memperindah diri dalam ber penampilan.
Selanjutnya, muncul beragam jenis dan model fashion. Perancang berlomba membuat bermacam model demi menyesuaikan perkembangan zaman. Tak jarang, jenis dan model tersebut terpengaruh oleh model fashion luar negeri. Meski model dan jenis dalam negeri juga tak kalah beragamnya.
Masuknya model dari luar negeri, terutama negara barat (west mode) membuat kita musti selektif dalam menentukan pilihan. Apakah masih memperhatikan kaidah budaya ketimuran, yang dipandang lebih sopan atau justru merongrong budaya asal.
Tak ada salahnya selektif, model mana yang lebih cocok untuk kita kenakan. Karena terkadang orang pertama menilai kepribadaian kita dari model berpakaian.
Senada dengan teori fashion system dari Roland Barthes (1990). Yang mengatakan, fashion adalah sebuah sistem tanda (signs system). Teori tersebut menandakan cara berpakaian tak hanya dilihat sebagai fungsi dasar, yakni untuk menutup tubuh guna menghindari udara dingin atau terik matahari.
Cara kita berpakaian adalah sebuah tanda untuk menunjukkan siapa diri kita, serta nilai budaya apa yang kita anut. Maka cara berpakaian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang netral dan sesuatu yang lumrah.
Dahulu jika seseorang berjalan-jalan mengenakan rok mini, akan dipandang negatif karena bertentangan dengan norma kesopanan budaya timur yang dianut bangsa Indonesia. Jadi, budaya mencitrakan diri melalui pakaian yang dikenakan.
Gaul tak musti meniru budaya orang. Namun lebih arif, jika gaul tetap bertumpu pada budaya lokal yang dikemas dengan perkembangan zaman. Contohnya, mengenakan pakaian batik yang dulunya kawula muda ogah menyandangnya. Namun, sekarang lewat kreatifitas dan beberapa polesan justru digandrungi.
Gaul seharusnya bagaimana mengemas sesuatu, dalam hal ini fashion yang semula biasa menjadi trendi. So, gaul tak sekadar copy paste budaya asing tanpa paham kebutuhan diri dan keadaan sekitar.
Powered by Blogger.