Ikut Tren atau Tidak, Tergantung Jati Diri

Baca Juga

Tren dalam berpakaian atau yang sering disebut dengan fashion kini taka sing lagi bagi masyarakat terutama mahasiswa. Namun, gaya berpakaian tak selamanya memberikan dampak positif. Karena justru fashion untuk gaya hidup mampu menjerat mahasiswa.Dampak dari mengikuti tren, seseorang tidak menjadi dirinya sendiri dan cenderung sekedar ikut-ikutan. Hal itu karena mahasiswa gampang berubah dan mudah terbawa oleh lingkungan. Seperti perempuan berjilbab yang dikarenakan trend akan cenderung gampang untuk melepas jilbabnya. ’’Sehingga ketika mengenakan jilbab harus berdasarkan niat dari dalam, bukan karena ikut trennya,” kata Latifah Nor Ahyani Dosen Fakultas Psikologi UMK.
Sebetulnya, bukan suatu keharusan seorang mahasiswa mengikuti perkembangan trend yang ada. Salah-salah banyak hal dikorbankan hanya demi tak ingin disebut mahasiswa “kuno”. Praktis, mahasiswa harus mampu bersikap selektif terhadap apa yang dianut. ’’Kalau mahasiswa ya jangan asal ikut hal baru dan langsung dimakan mentah,” terangnya.
Menerutnya, mahasiswa sebaiknya berpenampilan sesuai dengan apa yang menjadi karakter pada dirinya. Bukan karena apa yang sedang menjadi tren, karena belum tentu apa yang dianut sesuai dengan karakter mahasiswa.
Sehingga dapat dikatakan, mahasiswa yang mengikuti tren belum menemukan jati dirinya. Karena belum menemukan jati diri, imbasnya mahasiswa mudah terpengaruh dengan lingkungannya.
Padahal, ketika mahasiswa telah menemukan jati dirinya, tidak akan mudah terpengaruh dengan perkembangan tren. Karena seseorang akan merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika berpakaian sesuai dengan apa yang dia punya.
Cara menemukan jati diri, kuncinya harus melakukan introspeksi diri. Selain itu, selalu memasang target untuk sesuatu yang hendak dicapai agar segalanya bisa berjalan maksimal sesua dengan yang diharapkan. ’’Kejujuran diri itu paling penting, karena dengan itu mahasiswa sulit terpengaruh dengan orang lain,” jelasnya.
Dia menambahkan, trend boleh saja diikuti asal sesuai dengan diri mahasiswa. Tapi segala sesuatu harus dipertimbangkan dan disesuaikan dengan apa yang memang menjadi kebutuhan seorang mahasiswa. Apalagi mahasiswa masih tergantung kepada orang tua untuk memenuhi keinginannya. ’’Jangan sampai kita menambah beban orang tua hanya demi fashion dan agar tidak dikatakan jadul. Karena masih ada yang lebih penting daripada fashion,” ujarnya.(Rizka/Elsya/Lensa)
Powered by Blogger.