Perpus Tak Lengkap, Pake Gadget Solusinya Tergantung Pengguna Gadjet

Baca Juga

UMK – Peralatan canggih yang terus bermunculan, mulai dari pemutar musik hingga alat telemunikasi kini sangat digemari masyarakat terutama pemuda. Peralatan canggih yang lebih dikenal Gadget, mempunyai efek luar biasa terhadap kehidupan remaja, apalagi mahasiswa.Namun pemanfaatannya tergantung pengguna Gadget sendiri. Bisa digunakan untuk negative seperti buka situs porno atau pun untuk meningkatkan wawasan di dunia pendidikan. Seperti mahasiswa saat ini yang sangat tergantung gadget untuk mencari referensi untuk pelajaran di kampusnya.
Sedangkan bagi mahasiswa, gadget merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi. ’’Gadget itu kayak smartphone, laptop, proyektor, pemutar musik dan masih banyak lagi lainnya,” kata Yusuf Satya Negara, dosen Fakultas Teknik.
Salah satu manfaatnya, gadget mempermudah mahasiswa dalam mecari bahan referensi. Karena dengan membuka internet lebih cepat mencarai data ketimbang harus membuka buku. ’’ Mahasiswa dapat belajar multimedia atau via internet misalnya lewat mesin pencari seperti google,” terangnya.
Hal itu dirasa sangat bermanfaat. Seperti menurut (Jenenge sopo) salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang mengaggap gadget seperti laptop telah menjadi kebutuhan.
Alasanya, jika buku di perpustakaan tak lengkap, internet menjadi pilihan paling baik untuk mencari referensi yang mereka butuhkan. ’’Tinggal download, lalau dibaca di rumah. Apalgi saat ini UMK ada wifinya, kan geratis pakai internetnya,” terang mahasiswa semester enam ini.
Kendati demikian, dampak negative dari gadget pun ada. Meskipun sebetulnya bukan gadget yang bersifat negative, namun penyedia layanan internet sudah atau belum memblok konten negative berbau porno.
’’Google diibaratkan pedang bermata dua. Bisa mencari informasi yang benar secara cepat dan bisa mencari informasi yang merugikan secara cepat pula. Tergantung orangnya,” terang Yusuf Satya Negara saat dijumpai di sekretariat Fakultas Teknik (kapan Ketemune).
Dia menambahkan, pihak UMK harus berupaya menyediakan internet yang sehat. Selain itu, jangan sampai jaringan internet menghabiskan waktu pengguna dengan sia-sia. Jaringan di UMK harus ada satu orang atau badan yang mengawasi isi gadget mahasiswanya dari konten porno. Sehingga mahasiswa masuk ke UMK dalam keadaan bersih. ’’Nah, yang terpenting itu dari mahasiswanya, mau jadi orang bersih dan baik tau tidak. Semua tergantung pengguna layanan internet,” tambahnya. (Zaenal/Ulum/Hanif)
Powered by Blogger.