Header Ads

Gambar1

Usia tak Menghalangi untuk Berkarya

Baca Juga




Aktif mengajar sebagai dosen Ilmu Hukum di Universitas Muria Kudus (UMK) tak lantas membuat Suparnyo terjebak pada rutinitas. Boleh dikatakan bahwa dia sebagai salah satu dosen yang gemar dalam berkarya terutama dalam menulis buku.
Pria paruh baya yang sudah mengajar sejak 1 Juli 1987 itu, senang dalam melakukan peningkatan-peningkatan terhadap kualitas ilmu yang dimilikinya lewat berbagai karya. Hal tersebut senada dengan prinsip hidupnya. Hidup sehat berkualitas dan bermanfaat. Menurutnya, dengan banyak berkarya itu menunjukkan berkualitas tidaknya ilmu yang dimiliki oleh seseorang.
Ketua Program Magister Ilmu Hukum (MIH) periode 2008-2011, ini merupakan  lulusan S2 yang pertama di UMK pada tahun 1992. Selanjutnya, dia juga menempuh pendidikan hingga S3 meski dalam usia yang tidak muda lagi. Pada 2008, beliau menyabet gelar S3 PDIH UNDIP Semarang.
Saat ditemui reporter PEKA, dengan antusias dia membincangkan masalah semangat berkarya sivitas akademik. Dengan wajah sumringah dia menjawab setiap pertanyaan yang menghampirinya.
Dia menyebutkan, beberapa dosen di beberapa fakultas, mempunyai semangat tinggi untuk berkarya. Kegiatan yang dilakukan misalnya, kegiatan penelitian atau penulisan di berbagai jurnal atau media.
Jika dilihat di Jurnal UMK yang berada di perpustakaan, memang tak banyak karya yang terpampang di sana. Hal itu karena banyak faktor. Salah satunya yakni terdapat karangan yang terbit di jurnal luar UMK, sehingga penulis hanya mendapatkan dua eksemplar dari pihak penerbit karyanya. Dua eksemplar tersebut tentunya akan dipakai sendiri oleh penulisnya untuk keperluan kenaikan jabatan fungsional.
Hak yang paling disukai oleh Suparnyo adalah  gemar menulis. Itu terbukti dengan terpampangnya beberapa hasil karya ilmiahnya di jurnal Mawas, jurnal tempat dosen-dosen UMK mempublikasikan hasil tulisannya.
Tak hanya itu, pria penggemar gado-gado itu juga mempunyai dua tulisan ilmiah di jurnal terakreditasi FH UNDIP dan FH UNISSULA. ”Itu tak ada di perpustakaan UMK, karya itu akan saya pakai untuk mengurus profesor/guru besar,” terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, saat ini semangat meneliti dan berkarya juga sudah tumbuh di beberapa fakultas meskipun belum sebanyak yang diharapkan. Suparnyo mengungkapkan, bahwa budaya menulis belum membudaya di kalangan dosen dan mahasiswa. Kebanyakan dari mereka hanya tersibukkan untuk aktifitas kampus seperti rutinitas perkulihan setiap hari. Sehingga lupa dengan aktifitas menulis.
Menurut dia, kurangnya penghargaan terhadap karya tulis merupakan salah satu yang menjadi alasan kenapa di UMK sangat lemah dalam hal karya menulis. ”Perlu adanya penghargaan moril maupun materiil untuk mendorong semangat berkreativitas dosen maupun mahasiswa,” tutur bapak tiga anak ini.
Dia menambahkan, selain penelitian, akan sangat baik jika dosen juga bisa membuat buku. Agar dapat mendorong para dosen atau sivitas akademika di UMK untuk juga meniru menulis.  Dia berharap akan adanya badan penerbit buku di UMK. ”Saya pernah mengusulkan pada rektor agar di UMK dibuat atau dibentuk badan penerbit,” ungkapnya.
Dengan badan penerbit, akan mendorong dosen dan mahasiswa untuk mendapatkan hak cipta dalam mempublikasikan karya-karyanya.
Hingga saat ini, dosen yang juga gemar berorganisasi ini telah berhasil merampungkan karyanya yang telah dibukukan. ”Sebentar lagi akan terbit dua buku saya yang ber ISBN dari badan penerbit UNDIP,” ungkapnya dengan penuh rasa bangga.

Reporter : Karmila Sari
Pena Kampus
Powered by Blogger.