Bom Waktu Pertumbuhan Kendaraan

Baca Juga


Reporter : Sri Haryati dan Taufiqur Rohman

ANCAMAN kemacetan lalu lintas di berbagai tempat ibarat bom waktu. Kapan pun bisa meledak, tak terkecuali di Kabupaten Kudus. Apalagi kabupaten terkecil di Jawa Tengah ini mengalami peningkatan jumlah kendaraan baru pertahun secara signifikan.
Kepala Unit Pelayanan Pendapatan dan Pemberdayaan Aset Daerah (UP3AD)/SAMSAT Kudus, Kotot Rachmana menyebutkan adanya peningkatan jumlah kendaraan baru, baik kendaraan roda dua maupun roda empat rata-rata mencapai 20.404 unit pertahun.
Fakta ini menunjukkan daya beli masyarakat cukup tinggi. Selain itu, menurut Kotot, diler sepeda motor serentak memberikan kemudahan kepada calon pembeli untuk mendapatkan kendaraan baru. ”Bayangkan, sekarang hanya dengan 500 ribu sudah dapat motor,” ujarnya.
Untuk menekan ledakan populasi kendaraan, Pemerintah mulai Juni lalu menerapkan kutipan pajak progresif. Pajak progresif merupakan pajak yang ditanggung pemilik kendaran secara berjenjang sesuai dengan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor.
Semakin banyak seseorang memiliki kendaraan bermotor, maka semakin tinggi pajak yang harus dibayar. Hana saja cara itu dinilai belum ampuh. Sebab ketentuan pajak ini hanya dikenakan untuk kendaraan pribadi jenis sedan, jeep, dan microbus dan kendaraan pribadi roda dua diatas 200 cc dengan nama dan alamat kepemilikan yang sama.
“Jika kendaraan pertama dikenai pajak progresif sebesar 1,5 persen dari nilai jual kendaraan, maka pajak yang ditanggung pada kendaraan kedua sebesar 2 persen, ketiga 2,5 dan seterusnya,” ungkap Kotot.
Meskipun begitu, bapak empat anak ini menanggapi positif kenaikan jumlah kendaraan baru. Sebab, hal ini justru memberi kontribusi besar bagi pendapatan asli daerah (PAD). Pendapatan dan penerimaan pajak yang masuk akan semakin bertambah sebanding dengan jumlah kendaraan baru yang terdaftar.
Data Kantor UP3AD menyebutkan, jumlah PAD dari kendaraan bermotor baru pada 2010 lalu sebesar Rp 46,3 milliar. Dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk keperluan pembangunan, seperti perbaikan jalan rusak, atau yang lainnya.
Ditemui terpisah, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kudus AKP Wahyudi Satriyo Bintoro menyatakan, bertambahnya jumlah kendaraan baru justru akan menambah deret permasalahan lalu lintas.
Wahyudi mencontohkan, di jalanan Kecamatan Kota misalnya, kerap mengalami masalah kemacetan terutama pada saat jam sibuk. Persoalan lain juga muncul, seperti meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di wilayah Kabupaten Kudus.
Data Polres Kudus menyebutkan, angka lakalantas selalu bertambah dari tahun ke tahun. Pada 2010, jumlah kecelakaan hanya sebesar 209 kejadian, dengan jumlah korban sebanyak 327 orang. Sebanyak 12 korban meninggal dunia, 57 orang luka berat dan 258 orang korban lainnya mengalami luka ringan. Kerugian material yang diderita sebesar Rp 180.125.000.
Pada 2011 (Januari – Juli), angka lakalantas melonjak hingga 255 kejadian. Korban keseluruhan mencapai 351 orang. Sebanyak 26 korban meninggal dunia, luka berat (52) dan luka ringan (373). Kerugian material yang diakibatkan mencapai Rp 208.325.000.
Dari pantauannya, ada empat faktor penyebab kecelakaan, yakni faktor manusia, keadaan kendaraan, kondisi jalan dan lingkungan. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka laka lantas.
Salah satunya dengan membuat pos jaga di daerah rawan kecelakaan seperti di KM 8 sampai KM 12 jalan raya Kudus – Pati. “Kondisi jalan yang lurus, sempit, bergelombang dan kurang penerangan memicu banyak terjadi kecelakaan hingga jatuh korban jiwa,” jelasnya.
Upaya lainnya yang tengah digalakan adalah pendidikan masyarakat lalu lintas (Dikmaslantas). Kegiatan Dikmaslantas diberikan kepada masyarakat yang terorganisasi seperti anak sekolah maupun yang tidak terorganisasi seperti masyarakat umum.
“Sudah ada sebanyak 70 persen seluruh TK dan SD di Kudus kami didatangi setiap seminggu sekali untuk menyampaikan program Polisi Sahabat Anak (PSA). Langkah ini sebagai upaya pengenalan sejak dini mengenai tertib berlalu lintas dengan menggunakan alat peraga rambu-rambu lalu lintas,” paparnya.
Kegiatan pelatihan safety riding di Sejumlah SMA di Kudus dan perusahaan juga sudah sering digelar. Koordinasi bersama dinas instansi terkait terkait permasalahan di lapangan juga terus dilakukan.
Apabila permasalahan yang ditemukan seputar kerusakan jalan, kata dia, maka secepatnya akan dikoordinasikan dengan dinas yang berwenang seperti pihak Bina Marga. Sedangkan, menyangkut rambu-rambu lalu lintas koordinasi dengan Dishubkominfo. “Terkadang rekomendasi sudah dilayangkan dari pihak kami, tetapi tidak ada tindak lanjut dari instansi terkait,” keluh Wahyudi.
Kasatlantas yang baru dilantik 19 Juli 2011 lalu itu berharap kondisi lalu lintas di Kudus aman, tertib dan lancar. Untuk itu ia berpesan kepada para pengendara agar tertib berlalu lintas sehingga tidak membahayakan diri sendiri dan pengemudi lain. Sehingga, angka Lakalantas pun dapat ditekan. (*)

Powered by Blogger.