Inikah Karma?

Baca Juga

Malam semakin larut, Ardian sudah terlelap dengan mimpi-mimpinya yang memacu lajunya entah kemana, sedang aku masih tenggelam dengan pekerjaanku. Sebagai seorang dosen, pekan ini memang sangat menyibukkanku. Aku harus memeriksa beberapa file yang berisikan tugas-tugas dari mahasiswaku.
Jam menunjukan pukul dua malam, aku pun mematikan laptop yang ada di hadapanku lalu beranjak menuju ke kamar Nila anakku. Aku belai wajahnya yang terlalu polos untuk anak seusianya. Anak semata wayangku ternyata telah menjelma menjadi gadis manis dengan usianya yang beranjak limabelas tahun. Butir-butir air mata jatuh di kedua pipiku, dan tanpa sengaja menetes di telapak tangan Nila. Nila terbangun dan mengucek matanya. 
“Ada apa, Mah?” tanya Nila.
 “Tak apa sayang, boleh mamah tidur di sampingmu?” tanyaku sambil menahan air mata. Nila membuka matanya dan hanya menjawab dengan anggukan.
 Aku mencoba merebahkan tubuhku dan menyesuaikan posisi tubuhku dengan posisi tidur Nila, mencoba membuat Nila merasa nyaman dengan kehadiranku di sampingnya. Kubelai rambut dan kuusap keningnya. Tak begitu lama, Nila telah kembali pulas. Air mataku mengalir lagi, aku menerawang dalam cahaya temaram yang di pantulkan dari lampu ruang keluarga. Ratapan hatiku memang tak pernah dirasakan oleh Ardian. Suamiku itu lebih suka menyibukan dirinya dengan pekerjaan kantornya lalu pulang dengan keadaan yang sangat lelah, setelah itu tertidur pulas tanpa menegur Nila walau kamar kami bersebelahan.
 *** 
Aku tak pernah mengerti apa yang dipikirkan oleh Ardian hingga sekarang dia benar-benar tak pernah mau menyayangi Nila, bahkan mencium pipinya pun sekarang tak mau. Padahal dulu Ardian sangat senang sekali ketika mendengar kehamilanku, dia yang sangat antusias dengan perkembangan janin yang ada dalam kandunganku. Tak pernah sekalipun dia lupa untuk mengabsen si jabang bayi yang ada di perutku. Dia seakan menjelma menjadi calon bapak yang sangat menyayangi calon keluarga baru yang segera datang itu. Saat usia kandunganku mencapai enam bulan, Ardian bersikeras memeriksakan sekaligus mengUSGkannya. Betapa besar harapan Ardian dengan janin itu, dia sangat mendambakan bayi laki-laki yang sehat. 
Namun harapan itu pupus. Setelah melalui proses pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa bayi kami perempuan. Terlihat kekecewaan di wajah Ardian, namun segera dia alihkan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Tak apa lah dok, yang penting Mila dan anak saya sehat,” ujarnya dan aku sambut dengan senyum disusul tawa dokter yang memeriksaku. Namun aku sangat tahu kekecewaan yang Ardian rasakan, dengan suara lirih aku ucapkan kata maaf saat kami menempuh perjalanan pulang. Ardianpun terdiam sejenak lalu menyambutku dengan senyumnya yang khas. “Aku nggak papa Mil, bukankah anak itu pemberian Tuhan, terserah dia mau memberi laki-laki ataupun perempuan, aku akan bahagia menyambut kelahirannya esok,” ujar Ardian, dan itu adalah kata-kata indah yang tak pernah aku lupakan. Ya, kata- kata yang membuatku bersemangat menjalani kehamilan karena Ardian telah menunjukkan kasih sayangnya. Sebulan kemudian, aku mengalami sedikit kecelakaan, aku terpeleset dan terbanting di lantai rumahku. Pendarahan hebat membuatku harus melahirkan Nila sebelum waktunya, melalui operasi aku melahirkannya. Nila terlahir prematur, hal ini membuat Ardian sangat menghawatirkan kami terlebih dia sangat menghawatirkan Nila. “Bagaimana keadaan anak saya Dok?” tanya Ardian. “Semuanya baik baik saja tapi si kecil harus mendapatkan perawatan lebih,” jawab dokter. Aku sangat bangga, Nila adalah anak yang sangat kuat. Walau masih harus diinkubator, Ardian tetap bisa mengadzaninya. Dan hanya dengan beberapa hari diinkubator, Nila diperbolehkan pulang bersama kami. Rumah yang kami tempati saat itu telah menjadi rumah seutuhnya. Seorang gadis mungil yang dengan keriangannya memanggilku dengan sebutan mamah dan memanggil Ardian dengan sebutan papah. Ardian sangat menaruh harapan terhadap peri mungil kami itu. Dia selalu menggadang-gadangkan cita-cita yang tinggi terhadap Nila. Mulanya aku menganggap bahwa semua itu sangat wajar. Harapan-harapan Ardian hanyalah harapan seorang ayah terhadap anak semata wayangnya. Namun tak tahu mengapa Ardian semakin menjadi, semakin lama aku semakin takut. Harapan yang berlebihan membuat Nila menjadi tertekan. Ketika Nila berada di kelas tiga sekolah dasar, Ardian tega memukulinya hanya karena Nila mendapat nilai lima di tes matematikanya. “Papah berharap banyak padamu, karena kamu tumpuan harapan papah mamah, tapi kamu malah menyia-nyiakannya!” bentak Ardian kepada Nila. Bentakan Ardian cukup membuat Nila gemetar, dan tak lama setelah itu Nila pingsan. Ahirnya kami yang kalang kabut membawanya ke dokter. Mulai saat itu Nila menjadi sangat takut terhadap sosok Ardian. Namun bukannya Ardian sembuh dari kediktatorannya, dia malah semakin menjadi. Kediktatoran Ardian membuat mental Nila menjadi nihil. Prestasinya pun semakin menurun. 
Puncaknya saat Nila berumur sepuluh tahun, Nila mendapat nilai nol di ujian matematikanya. Ardian menjadi kalap dan memukuli Nila. Malamnya badan Nila mengalami panas tinggi, Nila kejang. Ardian tak mau tahu dengan keadaan Nila, aku yang kalang kabut membawanya ke dokter. Nila diopname beberapa hari. Beberapa bulan berlalu, aku merasa ada yang aneh dengan malaikat kecilku. Dia tak seperti Nila yang dulu, semakin lama sikapnya semakin kekanak-kanakan, prestasinya semakin lama semakin menurun, bisa ku bilang IQnya semakin jongkok. Yang membuat aku yakin bahwa Nila mengalami keterbelakangan mental adalah saat aku mengetahui dia tak bisa lagi menghitung jumlah jarinya sendiri. Air mataku tak dapat kubendung lagi, Peri cantikku sekarang tak seperti dulu, bukan Nila yang pintar dan cakap lagi. 
Mulai saat itu aku dan Ardian menjadi tidak akur. Tiap malam kami berdebat tentang sikapnya ke Nila. Aku bersikeras mengatakan bahwa tak sepantasnya Ardian melakukan itu ke Nila. Aku selalu menyalahkan Ardian. Mulanya dia hanya diam, ketika aku mulai membuka pembicaraan, dia segera pergi menjauhiku tanpa sepatah kata terucap di mulutnya. Namun semakin lama Ardian mulai geram terhadapku, dia menumpahkan kejengkelannya terhadapku ke peri kecil kami. 
Dia pukuli Nila hingga memar-memar seluruh tubuhnya dan ahirnya Nila mulai kembali kejang. Seperti yang sudah-sudah, Ardian segera pergi meninggalkan kami, dan dengan berlinang air mata aku bawa anak tersayangku ke dokter yang selalu menanganinya. Kondisi Nila semakin memburuk, dan parahnya lagi Nila tak dapat lagi mengikuti sekolah formalnya. Terpaksa aku memperkerjakan perawat khusus untuk merawat Nila saat aku bekerja atau ada keperluan. Nila menjadi bersifat kekanak-kanakan. Sikapnya berubah, dia tak pernah merasa bahwa dia beranjak dewasa. Nilaku yang sekarang selalu menjadi Nila kecil yang tak pernah menyadari bahwa dia seharusnya beranjak dewasa. 
*** 
Dua hari yang lalu, pertengkaran hebat kami terjadi lagi. Masih dengan masalah yang sama, sikap Ardian terhadap Nila tak pernah berubah malah bertambah keterlaluan. Hal itu membuat Nila semakin takut terhadapnya. “Ini semua karena kesalahanmu di masa lalu Mila, seharusnya tak aku turuti keinginan orang tua kita yang memintaku untuk menikahimu jika ahirnya sama sekali tak membahagiakanku,” ujarnya jengkel. “Jadi kamu menyesal menikahiku mas?” tanyaku.
 “Ya, aku sangat menyesal menikahimu dan sempat mencintaimu,” ucap Ardian emosi “Astagfirullah” ucapku lirih. “Aku menikahimu dalam keadaan kau tidak perawan, dasar murahan, kau pun tak bisa memberikanku anak laki-laki, dan yang aku sesalkan kau telah melahirkan anak perempuan yang bodoh, sebodoh kau yang tak bisa menjaga apa yang seharusnya untuk suamimu,” ujarnya ringan sambil mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu berlalu entah kemana. 
“Tuhan inikah yang harus kuterima, betulkah setiap perbuatan harus ada balasannya. Maafkan aku Tuhan ................,” batinku menangis. Tubuhku terasa lemas kupandangi peri kecilku yang masih berdiri disampingku. “Maafkan ibu Nak,” kupeluk Nila erat.
Powered by Blogger.