Mengejar Mimpi di United States of America

Baca Juga


Mulut penulis mengeluarkan asap dingin ketika penulis pertama kali menginjakkan kaki di University of Kansas  Lawrence Kansas Amerika Serikat. Bersama 19 mahasiswa di seluruh Indonesia, penulis yang juga belajar di Universitas Muria Kudus mendapatkan beasiswa Indonesian English language Study Program (IELSP) dari pemerintah Amerika yang di selenggarakan oleh Indonesian International Education Foundation  (IIEF) di Jakarta.
Berawal dari sebuah mimpi untuk belajar ke lua negeri, penulis memulai perjalanan ini. Penulis yakin bahwa setiap orang mempunyai mimpi, tak terkecuali  orang yang kekurangan. Namun banyak dari mereka hanya bermimpi kosong, tidak dikejar dengan sepenuh tenaga.  Penulis berusaha dengan keras untuk bisa mengejar mimpi itu. Ketika  masuk kuliah di Universitas Muria Kudus, penulis harus bekerja keras untuk bisa menikmati hidup, mulai dari membuat kursusan sampai jualan ke pasar-pasar.
Mimpi itu pun terwujud pada tanggal 28 Mei 2012, penulis berangkat menuju University of Kansas. Proses perjalanan yang tidak mudah untuk mewujudkan mimpi ini. Ujian pertama adalah test TOEFL yang harus mempunyai  nilai di atas 450. Penulis mencari refrensi baik di internet maupun orang yang dikenal untuk mencari dimana penulis bisa mengikuti test tersebut. Akhirnya penulis memilih lembaga bahasa di UNIKA Semarang. Masalah financial juga menjadi kendala, meski hanya Rp. 290.000 penulis kesulitan untuk mendapatkannya. Akhirnya penulis memutuskan untuk memecah tabungan yang ada dirumah. Dengan belajar mengerjakan soal-soal tiap hari, akhirnya penulis bisa mendapatkan TOEFL yang bisa memenuhi syarat meski tidak sesuai harapan di awal.
Selanjutnya penulispun meminta rekomendasi dari dosen. Karena persiapan yang kurang baik dengan dikejar waktu dan hasil ujian TOEFL yang mepet, penulis meminta dua dosen UMK untuk bisa memberikan rekomendasi dengan cepat, meski waktu itu adalah waktu liburan. Satu dari dosen tersebut tidak bisa dengan alasan yang tidak jelas, namun satu dosen lagi bisa. Dengan penuh semangat Ahdi Riono memberikan rekomendasi yang sesuai dengan keinginan dan tepat waktu.
Hal yang terakhir adalah menyiapkan berkas. Terlihat dalam formulir pendaftaran bahwa semua dokumen harus dicopy menjadi empat bagian.  Berbekal pengalaman menulis sejak SMA sampai dengan bergabung dengan majalah kampus Pena Kampus (Peka) dan ikut organisasi lain, penulis dengan yakin mengisi form dengan melampirkan semua tulisan yang sudah pernah masuk di media nasional dan lokal serta pengalaman organisasi baik di sekolah, kampus maupun di masyarakat.
Tidak lupa penulis juga menuliskan tentang keluarga dan statment motivasi. Disini kata banyak orang akan mempengaruhi proses beasiswa itu sendiri. Tidak mau salah, penulis mengirimkan tulisan ini ke teman yang ada di Belanda untuk mengkoreksi dan memberikan saran. Setelah berjuang selama sekitar satu bulan untuk bisa melengkapi sebuah berkas, akhirnya penulis mengirim berkas yang beratnya sekitar satu kilo di kantor pos dengan penuh keyakinan dan doa,  penulis bisa lolos beasiswa ini.
Setelah sekitar dua bulan, penumuman untuk wawancara itupun datang. Namun insiden terjadi ketika hari dimana ada pengumuman, HP penulis hilang. Untung diaplikasi dituliskan nomor kakak yang akhirnya memberitahu kalau ada telfon untuk wawancara di Semarang.
Proses persiapan wawancara itu pun tidak mudah, sebelum wawancara penulis mencari refrensi di internet untuk bisa lolos wawancara. Selain itu, penulis juga belajar dari saudara yang lolos beasiswa ke Australia dan juga belajar tip dan trik untuk lolos wawancara.
Akhirnya telfon nomor yang dimulai 021 itu berdering di HP penulis. Sebelum mengangkat penulis sudah berdebar debar bahwa itu adalah pengumuman lolos untuk bisa belajar di Amerika. Hal itu pun benar. Meski di warung, penulis berteriak kencang dengan mengucap syukur kepada Tuhan setelah diberitahu lolos.
Perjalanan menuju Amerika itu dimulai pada Kamis (28/6). Dengan naik pesawat dari Semarang menuju Jakarta memenggunakan Lio Air merupakan pengalaman pertama bagi penulis naik pesawat terbang. Sebelum memulai perjalanan ke Amerika, penulis diberi pengarahan oleh petugas IIEF dan diperiksa koper yang akan dibawa.
Singapura menjadi negara pertama yang dikunjungi penulis dengan menggunakan maskapai Lufthansa milik Jerman. Sesampai di Singapura, penulis masih mempunyai waktu tujuh jam. Kesempatan ini sangat langka, sehingga penulis gunakan untuk jalan-jalan menggunakan bus singapura utnuk mengililingi bandara dan melihat luar bandara. Perjanan dilanjutkan ke Jepang, Chicago dan sampai di Lawrence.
Ketika di Amerika, penulis tinggal di Hanshinger sebuah asrama kampus tingkat 8. Penulis tinggal di lantai tujuh nomor 717 bersama John Nguyen, orang asli Amerika. Selain itu banyak juga mahasiswa internasional yang dinggal disana seperti Vietnam, Brasil, Jepang, Zimbawe dan banyak Negara lain.
Setelah dua hari tinggal, kami pun langsung diberi ujian untuk menentukan kelas. Berbagai jenis soal reading, grammar, listening dan writing menjadi ujian untuk dapat menentukan level.   Penulis berada di level tiga yang menandakan kemampuan penulis masih standard dan butuh belajar untuk bisa lulus.
Selama 8 minggu para pendidik di University of Kansas dengan penuh tanggung jawab memberikan materi dan pendidikan dengan sangat bagus. Rasa tanggungjawab seorang pendidik benar-benar bisa dirasakan. Bagaimana pendidik juga bisa memahami karakter muridnya. Mereka juga menggunakan buku-buku yang terkini yang didasarkan oleh penelitian di Amerika.
Setiap hari senin sampai jum’at pagi penulis disibukkan dengan kuliah dan tugas. Namun kuliah itu tak terasa karena penulis senang dengan pelajarannya dan ini terbalik dengan pendidikan di Indonesia. Penulis sering tidak mau masuk karena pengajar (bukan pendidik) tidak faham dengan apa yang di ajarkannya. Tanggungjawab merekapun kurang, apalagi umpan balik dari dosen tidak ada.
Protes untuk pindah kelas dan minta ganti dosenpun menjadi hal biasa di Amerika. Siswa adalah raja yang ingin diajarkan ilmu dan faham, bukan sekadar manusia hidup yang beri ceramah terus selesai. Harapan yang sangat besar agar model ini bisa diterapkan di Universitas Muria Kudus. Setiap orang boleh bermimpi besar dan bisa mendapatkannya. Ayo kejar penulis untuk menyusul angkatan selanjutnya.
Powered by Blogger.