Pentas Monolog Tiga Koma

Baca Juga

Langit Senin (02/07/12)  mulai memerah, namun antusias para penonton di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) tak memudar. Dengan sabar mereka menanti pentas monolog teater Tiga Koma yang mendapat peringkat ke-8 di Pekan Seni Daerah, di Universitas Negeri Semarang (Unnes).
“Sebenarnya pentas monolog ini sudah pernah dipentaskan saat Pekan Seni Daerah di Unnes dan menduduki peringkat ke-8 dari 28 peserta. Karena itu kami berfikir kenapa tidak kita pentaskan lagi di tempat sendiri,” ujar Najib, ketua panitia pementasan monolog tersebut.
Pemilihan naskah yang diangkat tersebut merupakan keputusan bersama dari anggota Tiga Koma. “Pemilihan naskah, kenapa memilih demokrasi? Karena tema tersebut sedang marak. Terbukti dalam ajang Pentas Seni Daerah banyak sekali yang mengangkat demokrasi. Pentas monolog ini juga disutradarai oleh giok dari teater Putu, Kaliwungu,” cerita Yulian Atmaja selaku aktor.
Pentas monolog yang merupakan bagian dari rangkaian acara sinau bareng Tiga Koma. Menurut tokoh utama pentas ini, Yulian Atmaja, sistem demokrasi yang ada di Indonesia masih belum jelas. Dia mencontohkan dengan mudahnya orang menyuap untuk menyelesaikan masalah.
“Banyak yang berkoar-koar soal demokrasi. Tapi dia tidak tahu apa itu demokrasi sebenarnya. Demokrasi tidak seperti itu, ada money politik dan lain sebagainya,” ujar pria yang akrab di sapa Penceng tersebut.  (Shobatini/Peka)
Powered by Blogger.