Header Ads

Gambar1

Pesan Soegija untuk Bangsa

Baca Juga


Diresensi Oleh Ahmad Miftahul Ulum*

Judul Buku      : Soegija 100% Indonesia
Penulis Buku    : Ayu Utami
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2012
Tebal               : 139 halaman
ISBN-13         : 978-979-91-0454-0


     Soegija, salah satu ikon semangat nasionalisme bagi bangsa Indonesia di tahun 1940-an. Dia selalu mementingkan kepentingan bangsa dan rela mengalahkan kepentingan pribadinya, bahkan rela mengorbankan dirinya. Dimana Romo Kanjeng Mgr. Soegijapranata SJ berhasil melakukan diplomasi damai yang tegas, untuk mengembangkan ke-Indonesia-an di pentas politik dunia internasional.

     Soegija, lahir 25 November 1896, di Soerakarta, Jawa Tengah. Nama lengkapnya, Mgr. Albertus Soegijapranata. Keluarganya terbilang cukup mapan, bahkan lebih dari cukup. Ia bukan rakyat biasa, melainkan bagian dari Abdi Dalem Kasunanan Surakarta. Karena dasar latar keluarga itulah, ia berkesempatan masuk ke suatu sekolah yang cukup prestise.

     Dari sekolah Kolose Xaverius Muntilan, Soegija mendapatkan kesempatan bersekolah memperdalam ilmu ke Eropa. Ia direstui oleh gurunya, Romo Frans van Lith –bernama lengkap Franciscus Georgius Josephus van Lith. Frans van Lith merupakan pendiri sekolah Kolose Xaverius Muntilan. Tergabung sebagai Yesuit Oirschot, Belanda.

     Paus Yohanes Paulus II memercayainya sebagai penopang kristen di Jawa, khususnya di Jawa bagian tengah, saat Paus tersebut berpidato di Yogyakarta, 1989. Frans van Lithalah orang yang mampu menyelaraskan ajaran kristen terhadap tradisi-tradisi Jawa –selayaknya Nomensen dalam penyebaran Kristen Protestan di tanah Batak. Di tangannyalah banyak orang pribumi masuk ke dalam ajaran Kristen, awalnya mencapai 170-an orang, di Kulon Progo.
     

      Ketika Romo Kanjeng (saat itu masih frater atau calon pastor) sedang belajar ilmu filsafat dan teologi di Oudenbosch, Belanda (1923-1926), para pemuda Indonesia di Belanda (Indische Vereeniging atau Perhimpunan India) juga sedang giat membantu perjuangan bangsa di tanah air. Sehingga nurani kebangsaan Soegija ikut serta dalam perjuangan tersebut. 
     
     Mereka merumuskan identitas mereka, walau sekolah di Belanda, hati tetap Indonesia.(hal48) Kedatangan jepang mengubah keadaan secara derastis,  diantaranya: mengubah nama Batavia menjadi Jakarta, menurunkan bendera merah-putih-biru( 350 tahun berkibar), merobohkan patung Jan Pieterzoon coen dan monumen anjing Pudel di atas keju Edam di Waterloopein, Jepang juga melarang berbahasa Belanda. Politik Jepang adalah menghapus pengaruh Barat di tanag jajahannya, termasuk Kristen.
Salah satu strategi jepang adalah mempertajam konflik agama. Tahun 1938 jepang mensponsori Islam dunia di Tokyo, mengundang delegasi dari Indonesia. Jepang juga menunding Kristen sebagai kolaborator Belanda dan kekerasan yang terjadi sampai pertempuran kemerdekaan.

     Tiba-tiba terdengar isu, bahwa soegija telah di tangkap tentara Jepang. Ini membuat rakyat merasa was-was, karena beberapa pastor di hukum mati jepang(18 September 1943) tetapi isu tersebut  tidak terjadi. Pada hari itu juga, soegija berkeliling menyuruh umat katolik keluar dari persembunyian.

     Di saat keadaan mulai gentar, terdapat berita bahwa AS mengebom  Hiroshima  dan Nagasaki, jepang pun menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 17 Agustus 1945: Indonesia merdeka. Harapan besar muncul di tengah rakyat: kita akan bebas dan merdeka. Akan tetapi, kemerdekaan tak semudah yang dibayangkan.

     Di Semarang, tentara Jepang tidak mau menyerahkan senjata. Perang pun berkobar selama berhari-hari. Bersamaan dengan itu, kekacauan terjadi di mana-mana: penjarahan, kelaparan, dan lain-lain. Lagi-lagi, Romo Soegija punya adil besar: ia berusaha bernegosiasi agar terjadi gencatan senjata.

     Romo Soegija juga aktif  berhubungan dengan pemimpin Republik: Bung Karno, Sjahrir, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Romo Kanjeng sering memberikan usulan-usulan kepada pemimpin Republik itu. Dan, sebagai bentuk dukungan kepada Republik, Romo Soegija memindahkan keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta.

     Gaya diplomasi Romo Soegija juga cukup mumpuni. Ia berhasil menyeret Vatikan sebagai negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Kedatangan perwakilan Vatikan ke Jogjakarta, Ibukota Republik, ditemani langsung oleh Romo Soegija ketika bertemu Bung Karno.

     Dalam buku ini, ’Soegija’ seakan lebih banyak membawa pesan untuk pemimpin dan bangsa Indonesia sekarang. Bagaimana memajukan harkat dan martabat rakyat. Itu merupakan pesan singkat untuk pemimpin dan elit sekarang. kalau kamu jadi pemimpin, jangan lupa bahwa darah para pejuanglah yang menjadi pupuk bagi tanah negeri ini.

     Ini sesuai dengan pesan Romo Soegija sendiri: “Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri sendiri.”kamu harus mengusahakan agar negara menjamin hak warganya tanpa memandang suku dan agama apa mereka.”

    Buah karya Ayu utami mengombinasikan dengan baik, bagaimana ia dapat mengambarkan kisah soegija dengan detail, yakni menggunakan sumber-sumber yang valid dan memadukan dengan foto-foto yang menarik. Dan di kemas dengan bagus, mulai dari cover, huruf dan kertas bergambar. Sehingga terasa menarik untuk di baca.

*Peresensi mahasiswa Universitas Muria Kudus

 

Powered by Blogger.