Aku Ingin Pulang

Baca Juga


 Kopi sore ini begitu hambar. Meski racikannya sama persis seperti sebelum-sebelumnya. Rupanya kejadian tadi siang di kantor, membuat selera Rohman hilang. Matanya hanya tertuju pada secangkir kopi. Lalu tanpa sadar, berulangkali ia menggerakkan telunjukknya melingkari mulut-mulut cangkir.

Di hari pertamanya bekerja, Rohman sudah harus melihat hal-hal yang tidak sesuai dengannya. Apa yang sudah ia pelajari di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sama sekali berbeda dengan apa yang sudah ia lihat tadi siang. 

“Apakah ini dunia yang sesungguhnya?” gumam Rohman. “Lantas buat apa pelajaran Kewarganegaraan dan Agama? Toh mereka juga tidak menerapkannya,” gumamnya lagi.

Hati kecilnya memberontak. Sebentar-sebentar menyalahkan. Namun, ia tak tahu siapa yang patut disalahkan dalam hal ini. Hal itu semakin membuatnya gonduk.
Kring....kring....kring...!!!” Tiba-tiba handphone Rohman berdering.

Hampir saja Rohman melempar handphone nya sendiri. Untung ia cepat tersadar dan menjawab panggilan tersebut.

“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa Saya bantu?” Rohman berusaha untuk sopan, meski sebenarnya ia sudah tahu arah pembicaraan tersebut.

Ternyata benar dugaannya. Ia menghela nafas panjang. Lagi-lagi hati kecilnya memberontak. Di sisi lain, ia juga butuh uang untuk makan dan membayar tunggakan kontrakan selama tiga bulan.

Rohman merasa berat menanggung beban ini sendirian. Ia lalu mencoba sms teman sejawatnya, Irwan dan Sholeh untuk meminta sarannya. Beberapa menit kemudian, mereka membalas sms tersebut. Hal itu ternyata tidak cukup membantu. Rohman justru semakin terbebani karena teman-temannya sendiri malah memakinya dan menganggapnya munafik.

Malam itu, Rohman semakin tidak menemukan dunianya. Kepalanya berat karena terlalu memikirkan hal itu. Diminumnya obat sakit kepala di dalam laci. Beberapa saat kemudian, ia terlelap dalam gejolak jiwa yang memberontak.
***
Tok...tok...tok...!!
Suara itu membangunkan Rohman. Tidak terasa ia sudah terlalu lama memejamkan matanya. Ia membuka gorden jendela kamarnya. Cahaya matahari dengan sekejap menyilaukan matanya.
 Tok...tok...tok...!!
Lagi-lagi suara itu terdengar. Ternyata, Ibu yang punya rumah berkunjung.
“Silahkan duduk, Bu,” ucap Rohman mempersilahkan.
“Nggak kerja, Mas?” Tanya Ibu itu penasaran.
“Emm... nanti, Bu. Sekalian bersama surat pengunduran diri Saya,” kata Rohman lirih.
“Tidak cocok lagi, Mas?”
“Iya, Bu. Belum cocok.”
“Wah, sayang sekali ya, Mas. Tapi Saya juga butuh uang. Besok akan ada yang datang untuk melihat rumah ini.”
“Oh, begitu ya, Bu.”
“Syukurlah kalau Mas mau mengerti.”
Di dalam hati kecil Rohman, ia menjerit sekeras-kerasnya. Mengapa hidupnya menjadi terlunta-lunta begini. Tapi ia harus mengemasi barang-barangnya secepat mungkin dan pergi ke kantor untuk menyerahkan suratnya.
***
Rohman termenung di pinggir jembatan dengan ditemani koper-koper besar. Berulang-ulang kali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Sesekali ia memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya. Ia tidak memperdulikan kendaraan yang sibuk lalu lalang dibelakangnya.
“Apakah tidak ada lagi tempat untukku?”
“Apakah aku harus meruntuhkan benteng kejujuran ini?”
“Ah, masa bodoh dengan semua ini.”

Setidaknya hari ini Rohman merasa lega. Dadanya terasa lapang. Ia merasakan semilir angin berhembus lagi kepadanya. Sekarang, ia tidak harus melawan hati kecilnya lagi. Sudah lima kali Rohman harus keluar masuk kantor baru karena alasan yang sama.

Rohman sangat menjunjung tinggi sebuah kejujuran. Nampaknya, semua itu tidak ia temui di lima kantor sebelumnya. Ia selalu dipaksa untuk membuat laporan palsu mengenai keuangan kantor dengan iming-iming bonus dua kali lipat gaji pokoknya. Namun, hatinya selalu bergejolak dan akhirnya ia memilih untuk berhenti dari pada harus menikmati uang yang bukan haknya.

“Aku ingin pulang.”
Tiba-tiba ia rindu kampung halamannya. Kampung halaman, dimana ia dididik dan dibesarkan untuk menjadi pribadi yang jujur. Dimana ia pernah merasakan kedamaian jiwa tanpa harus membohongi diri sendiri

Tapi tekad Rohman ternyata jauh lebih besar dibandingkan keinginannya untuk pulang. Ia selalu yakin, kalau ia tidak menemukan dunianya di kota ini, ia pasti akan menemukannya di kota lain.  

 Sri Haryati
Anggota Pena Kampus

pernah menjabat Pemimpin redaksi(pempred)
Ketua UKM JUNALISTIK,

Universitas Muria Kudus



Powered by Blogger.