Header Ads

Gambar1

Bahasa Ibu Vs Bahasa Dominan

Baca Juga

      
     Ungkapan ‘bahasa sebagai cermin kepribadian bangsa’ patut kita jadikan sebagai bahan renungan. Patut diingat bahwa setiap bahasa yang hidup (baca: living language) memiliki keunikan dan potensi sebagai penjaga norma, adat istiadat, sopan santun, dan alat komunikasi yang efektif bagi penuturnya. Salah satunya adalah bahasa  Ibu (bahasa daerah). Bahasa Ibu sebagai bahasa pertama tentu memiliki daya pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan intelektual dan mental seorang anak bila dibandingkan dengan bahasa lain. Potensi besar ini ternyata sering tidak disadari atau bahkan dilupakan oleh orangtua dan pemangku kebijakan. Para orangtua lebih bangga bila anak-anak mereka dapat berbahasa kedua dan asing daripada berbahasa Ibu atau daerah.

     Dunia di abad ke-21 memang memiliki tantangan yang berbeda dengan abad sebelumnya. Hegemoni bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional mendorong bangsa-bangsa berkembang membuat kebijakan mewajibkan bahasa asing tersebut diajarkan dan dipakai dalam dunia pendidikan. Di Indonesia muncul sekolah-sekolah berlabel RSBI/SBI yang cenderung mendegradasikan peranan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
     
    Pakar Pendidikan Bahasa UPI Abdul Chaer dalam Kompas (Rabu, 25 April 2012) berpendapat bahwa penggunaan bahasa asing di RSBI/SBI tidak baik untuk pembinaan bahasa Indonesia. Praktisi pendidikan Darmaningtyas mengatakan, kebijakan RSBI/SBI salah kaprah dengan memandang bahasa Inggris lebih bergengsi dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Dari pandangan kedua pakar tersebut kita dapat menarik benang merah bahwa kebijakan RSBI/SBI tentu berakibat lebih buruk lagi terhadap perkembangan bahasa dan Sastra daerah.
    
     Bukti penelitian  yang dilakukan oleh Arni binti Zainir dan Coleman terhadap kasus program dua bahasa (bilingual) di Malaysia menerangjelaskan siswa yang belajar IPA dan Matematika dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar menunjukkan prestasi jauh lebih buruk dalam Ujian Nasional (UN) dibandingkan dengan mereka yang menggunakan bahasa Melayu sampai akhir program (Associated Press Malaysia, 8 Juli 2009). Hal yang sama juga ditunjukkan hasil penelitian dari Pinnock (2009).
 Hal tersebut terjadi tentu bukan karena bahasa Inggris yang tidak sesuai, namun lebih terhadap pengajaran bahasa Inggris yang tidak tepat dan kebijakan yang tidak komprehensif dalam pengembangan multilingualisme dalam pendidikan.
     Memasukkan Bahasa Ibu (daerah) dalam program multilingual (aneka bahasa) secara praksis sering dianggap tidak laku. Akibatnya pemangku kebijakan cenderung enggan dan abai dalam usaha pelestarian dan pemertahanan bahasa Ibu / daerah. Kebijakan yang tidak memihak itu justru mengabaikan pendidikan yang berkeadilan dari masyarakat yang tidak berbahasa dominan (Non-Dominant Language), serta mengantarkan nasib bahasa ibu kini kian tambah sekarat. Padahal trend dunia saat ini adalah ‘think globally, act locally’. Artinya, bahasa Ibu/daerah sangat penting diperhatikan dan dijaga keberlangsungannya demi menjaga keunggulan suatu bangsa.

     Ada beberapa alasan kenapa bahasa Ibu berperan penting dalam mengembangkan daya unggul bangsa di Abad ke-21 ini. Menurut Didi Suherdi (2010), Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), peran penting tersebut antara lain; (1) mengembangkan keahlian dalam pembelajaran, (2) melestarikan ‘warisan budaya kelompok etnis’, dan (3)  menjamin keadilan bagi anggota yang berasal dari kelompok bahasa yang tidak dominan. Peran penting ini sebagai bukti bahwa bahasa Ibu memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan multilingual sebagai dasar pembentukan sikap dan berpikir kritis. UNESCO menyebutnya sebagai  MTB-MLB (Mother tongue-based multilingual Education).

     Salah satu keuntungan pemakaian bahasa Ibu dalam proses pembelajaran ditahun-tahun awal sekolah adalah banyaknya konsep penting, nama benda, peristiwa serta pengalaman yang berkesan yang bias diungkapkan secara gampang dengan bahasa Ibu. Para pakar mencatat bahwa pada usia 4 atau 5 tahun, setiap anak normal telah menguasai tatabahasa ibu dengan sempurna dan mampu berbicara dengan jelas dan lancer dengan suara yang enak didengar (Bowen, 1998 dalam Didi Suherdi, 2010).
     
     Dengan kata lain, anak-anak mampu mengungkapkan ide, pikiran perasaan dengan bahasa ibu mereka. Bahasa mereka sudah berfungsi untuk mendukung semua kegiatan yang diperlukan pada kehidupan di usia mereka. Seperti apa yang dikatakan Paiget anak usia 2-7 tahun memiliki rasa keingin tahu an yang tinggi sehingga mereka mulai banyak bertanya, mulai menggunakan penalaran sederhana. Bahasa ibu juga terbukti ampuh sebagai prediktor yang efektif untuk perkembangan bahasa kedua dan keberhasilan pendidikan (young 2003; Cummins, 2000 danDutcherdan Tucker, 1995).
     
     Anak-anak dapat berpartisipasi aktif dan berlatih berpikir tingkat tinggi dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain, dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan bahasa ibu, anak-anak akan lebih dapat berpartisipasi, terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Sebaliknya, suasana berbeda ditemukan di ruang kelas yang siswanya diajar dengan bahasa kedua atau asing, mereka cenderung kurang aktif, minder atau kurang percaya diri. Hal ini bukan karena siswanya lamban belajar atau kurang berbakat, tetapi lebih karena siswa belum merasa nyaman dengan bahasa yang dipakai oleh guru. Pemaksaan penggunaan bahasa kedua atau asing akan mengorbankan kebahagian psikologis anak serta kematangan dan keberaksaraan bahasa Ibu, investasi dan warisan budaya mereka.

     DI Indonesia bahasa ibu hanya dipakai sebagai pilihan yang longgar, terutama ketika siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pengajaran (Maryanto, 2009; Sugiono, Evarinayanti, dan Suherdi, 2009). Para guru hanya melakukan alih kode atau campur kode sebagai upaya untuk mengatasi masalah komunikasi. Dengan model seperti ini, peranan bahasa ibu sangat sedikit, padahal sebagaimana yang telah dijelaskan tadi, bahasa ibu memiliki kemampuan yang sangat besar dalam membantu siswa. Situasi seperti ini menyebabkan hampir semua bahasa ibu/daerah di Indonesia sekarang dalam kondisi ‘lumpuh’ terutama di kalangan penutur muda.

    Dengan demikian, upaya-upaya pelestarian bahasa ibu perlu terus ditingkatkan, yaitu dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pada pendidikan tingkat pertama dasar dan upaya pendokumentasian dengan penelitian juga harus terus didorong agar eksistensi bahasa ibu tetap lestari dan terjaga dari kepunahan.

*Ahdi Riyono, dosen Linguistik pada Progdi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP, UMK

Powered by Blogger.