Pedagang Tradisional Pasrah, Retailer Besar Kian Mengepung

Baca Juga


Pedagang pasar tradisional hanya bisa pasrah, para Retailer besar pasar modern kian mengepung kudus. Sebut saja Mall – mall seperti Swalayan ADA, Ramayana, Matahari dan Hypermart yang terlihat mencolok kokoh berdiri mengepung Kota terkecil di Jawa Tengah ini. Ditambah lagi dengan maraknya minimarket seperti Indomart dan Alfamart yang mudah dijumpai di perkotaan maupun pelosok desa. Akibatnya pedagang pasar Tradisional semakin tersisih.

Bisnis pasar modern yang dimiliki retailer besar mengalami pertumbuhan yang sangat pesat beberapa tahun ini. Berdasarkan data LensaIndonesia.com, pertumbuhan pasar modern Indonesia mencapai 31,4 persen. Sedangkan, pasar Tradisional pertumbuhan pasarnya miris, yakni minus 8,1 persen.

Siti Arofah (50), pedagang sembako di Pasar Kliwon Kudus, mengaku omset penjualannya anjlok drastis. “ Sebelum maraknya minimarket dan mall, penjualan ditoko dapat mencapai 1 juta lebih sehari. Sekarang dengan maraknya Minimarket dan Mall pendapatan 500 ribu itu susah di dapat dalam sehari,” jelasnya dengan nada sedikit kesal.

Persaingan dirasa semakin berat oleh pedagang tradisional saat iming – iming diskon membanjiri pasar modern. Penawaran ini semakin menarik perhatian konsumen untuk berbelanja di pasar modern ketimbang di pasar tradisional.

“Sekarang konsumen lebih pintar membandingkan harga produk. Bahkan selisih seratus atau dua ratus rupiah, mereka akan memilih berbelanja di minimarket atau mall,” terang Siti. Bahkan produk tertentu harganya lebih murah di pasar modern dibandingkan di pasar tradisional. Hal ini yang semakin memanjakan konsumen untuk berbelanja ke pasar modern.

Tidak berbeda dengan Siti Arofah, Kusnan (45) pedagang sembako Pasar Bitingan Kudus juga merasakan dampaknya. Namun, Kusnan lebih bersikap pasrah dalam menjalankan usahanya ini. “Wong cilik ya manut sama wong nduwur. Pengene Protes tapi ya gak berani. Jadi manut wae mbak, “ jelasnya menanggapi problem dagangnya.

Lelaki paruh baya itu bahkan maklum dengan kondisi pasar saat ini. Di era globalisasi pasar juga ikut mengalami perubahan. Terutama adanya gaya hidup masyarakat yang di bilang semakin “modern”.

Pendapatan masyarakat yang di klaim semakin meningkat selama pemerintahan SBY menjadikan masyarakat berpikir pragmatis. Semuanya ingin serba cepat dan mudah untuk mengakses sesuatu.

“Banyaknya masyarakat Kudus yang sibuk dengan pekerjaannya. Biasanya di pagi sampai sore hari bekerja. Untuk belanja mereka hanya punya waktu di malam hari,” imbuh Kusnan. Jawaban dari kesibukan masyarakat itu untuk berbelanja dapat di jawab oleh pasar modern.

Minimarket, Supermarket dan Hypermart buka dari pagi hingga malam hari. Bahkan, Minimarket seperti Alfamart dan Indomart buka sampai pukul 22.00 WIB. Di daerah tertentu misalnya Minimarket Alfamart dekat Menara Kudus buka sampai pukul 24.00 WIB.

Kemudahan akses yang ditawarkan pasar modern ini memang membantu masyarakat yang hanya memiliki waktu untuk berbelanja di malam hari. Hal ini pula yang menjadikan Kusnan semakin maklum jika pelanggannya terus berkurang.

Gaya hidup masyarakat yang semakin “modern” ini di dukung pula oleh fasilitas yang memadai di pasar modern. Bangunan megah, bersih, ber- AC, design interior apik di pasar modern menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan. Bahkan, setiap tahun nya pasar modern selalu berbenah diri menyempurnakan penampilan apiknya. Mulai dari pembenahan tempat parkir, taman, pernak – pernik, penataan ruang hingga masalah genting, seperti tempat evakuasi gawat darurat.

Bukan hanya fasilitas superior yang diperoleh masyarakat, produk di pasar modern pun juga dikenal lebih berkualitas. Siti Arifah juga menambahkan, mindset masyarakat terhadap produk pasar modern semakin membuat terpuruk usaha dagangnya. “ masyarakat akan lebih memilih pasar modern dibandingkan dengan pasar tradisional. Bukan hanya fasilitas yang memadai, tapi harga murah dan produk berkualitas sudah nyentel di pikiran masyarakat,” tuturnya.

Dulu belanja hanyalah peristiwa membeli barang, membayar lalu pulang. Sekarang banyak pelanggan yang memanfaatkan momen belanja tersebut sebagai momen berkumpul bersama keluarga. Sering dijumpai sekeluarga ngemall bersama belanja kebutuhan bulanan. Bagai mendayung dua tiga pulau terlampaui,belanja bulanan terpenuhi, rekreasi bareng juga terpenuhi. Misalnya saja di Ramayana, sehabis belanja biasanya sekeluarga menyempatkan makan bareng di Kudus Fried Chicken (KFC).

Suasana nyaman memang sngat terasa di pasar modern dibandingkan dengan pasar tradisional. Bukan hanya di Mall, Minimarket juga menawarkan fasilitas yang apik pula. Tempat yang tertata rapi, lorong jalan bersih, ber-AC serta keramahan pramuniaga yang mendukung.

Namun, seperfect apapun pasar modern menyulap dirinya menjadi kebanggaan yang mengglobal di Indonesia tetap saja masihada yang kurang. Hal ini dirasakan mengingat Indonesia berbudaya ketimuran.

Sikap ramah yang menjadi khas budaya Indonesia memang dapat dirasakan pelanggan di pasar modern. Tapi ada satu hal yang tidak dapat diberikan pasar modern kepada pelanggan, yakni toleransi berhutang.

Sikap toleransi berhutang hanya dapat di jumpai di pasar tradisional. Masalah keuangan mepet seringkali menjadi permasalahan pelik bagi setiap keluarga. Oleh karena itu, para ibu rumah tangga sering berhutang di pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Sikap pengerten inilah yang juga semakin mempererat tali persaudaraan di Indonesia. Hal ini tentu saja tidak dapat kita temui di pasar modern. Di pasar modern semuanya serba cash.

Ke-cirikhasan pasar tradisional lainnya seperti rasa kekeluargaaan juga tidak dijumpai di pasar modern. Sering pembeli curhat masalah hidupnya kepada pedagang. Pedagangpun juga tak sungkan memberi nasehat atau sekadar mendengar curhatan tersebut.

Di pasar modern memang ada para Sales Promotion Girl (SPG) yang ramah. Namun, untuk urusan curhat memang tidak pernah dijumpai seperti di pasar tradisional. Para SPG ramah hanya untuk membuat pelanggan nyaman membelanjakan uangnya.

Hal inilah yang tetap menjadi  kebanggaan di pasar tradisional walupun para pedagangnya hanya bisa pasrah akan pasar modern yang kian mengepung. Semangat dagng masih tetap berlanjut mengingat berdagang adalah jalan satu – satunya mereka mencari nafkah. “Kerja dan kerja, biarlah Allah yang memutuskan rejeki saya sampai mana, “ tutur Kusnan dengan penuh harap. ( Weny Rahmawati/Peka)
Powered by Blogger.