SORRY, I CAN’T LEAVE HIM

Baca Juga



“Senyum..”
Aku tersenyum menatap lensa kamera, sementara ia terus mengambil gambarku. Sejauh ini, entah sudah berapa kali aku berganti pose untuk memuaskan jiwa photografernya. Tersenyum, bertopang dagu atau melakukan pose-pose konyol.
“Bagaimana kak? Pasti hasilnya bagus, aku kan cantik, hehehehe,,,”
“Ya,,, tidak terlalu memalukan untuk seorang model amatir,” ucapnya tanpa ekspresi membuatku kesal.
“Apa! Kalau begitu cari saja model professional yang 100x lebih cantik dariku, silahkan,,,” timpalku kesal.
“Ini buktinya, model amatir gak tahan kritik,”
“Ah, Kak Ares,,,” Aku terus memukulinya, tapi ia hanya senyam-senyum mengejekku.
“Sudahlah, kakak Cuma bercanda. Kamu memang gadis tercantik sedunia, gak ada tandingannya dech, hahahaha… terutama kalau ngambek gini makin gemes kakak lihatnya.”ucapnya sambil mencubit kedua pipi cubiku.

Saat itu, andai bisa ku putar waktu dan kembali. Ingin ku tagih ucapanmu. Kau bilang aku satu-satunya, hanya aku. Tapi, bisakah kau ucapkan semua itu sekarang? Dapatkah kau mengatakannya di depannya, bisakah kau memilihku sekali lagi?
***
“Apa maksud kakak? Apa empat tahun kita tidak berarti sama sekali buat kakak?”
“Ini semua yang terbaik untuk kita, aku hanya tidak ingin menyakitimu,”ucapnya lembut.
“Kita? Ini hanya terbaik untuk kakak, bukan aku ! Kenapa aku harus berkorban untuk kalian, ini tidak adil !”sanggahku, menahan tangis.
“Dan, apa tadi kakak bilang, tidak ingin menyakitiku ?, huh, kakak benar-benar baik, yach.Tidak menyakitiku ? kakak tahu, kakak sudah melakukannya, kak Ares sudah sangat melukai aku, kakak kejam! Kakak meninggalkanku demi model murahan seperti dia!”
“Dia bukan model murahan !” ucapnya kasar, dan dia,,, menamparku,,,
“Kakak,,,”kini air mataku tak mampu lagi ku tahan, kak Ares tak pernah sekasar ini padaku, kakak benar-benar keterlaluan. Menamparku? Apa salahku? Ialah yang bersalah, bukannya aku.
“Sorry, I seek separation, but it will be better for you,”ucapnya sambil menjauh dariku.
Tidak, dia pasti bukan kak Ares, mereka hanya mirip. Aku yakin mereka pasti hanya mirip, empat tahun aku bersama kak Ares, aku sangat mengenalnya, mana mungkin orang yang menamparku tadi kak Aresku.
Alam bawah sadarku terus menyangkal. Tapi kenyataannya dia meninggalkanku begitu saja, tanpa mengucap maaf, tanpa kata-kata penyesalan.Apakah, ia tak merasa bersalah, telah menyakitiku?

Ingatan-ingatan itu sekali lagi menghantuiku, meskipun ia mengkhianatiku, meskipun ia menyakitiku, meskipun ia melukaiku, tetap saja hatiku tak mampu meninggalkannya.


***


“Kak Ares, kakak sedang sibuk yach,”ucapku sambil memandang sekeliling studio foto milik kak Ares.
“Wah, photographer favoritku ini semakin pintar saja yach, “
“Luna!”
“Ada apa kak?” ucapku tak berdosa.
“Aku minta jangan seperti ini, jangan berpura-pura semuanya masih baik-baik saja. Semuanya sudah berbeda, Luna!”
“Tidak kak, bagiku semuanya masih sama. Aku masih mencintai kakak seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan kakak,”ucapku jujur.
“Sudahlah, usahamu akan sia-sia, aku sudah tidak mencintaimu lagi!”
“Empat tahun !, empat tahun !  kita bersama kak, aku tidak rela semuanya tinggal kenangan, aku tidak bisa !”
“Aku tak bisa tanpa Kak Ares ! Aku mohon,,,”ucapku mengiba. Ku coba meraih tangannya,,
“Terserah!” ucapnya marah, meninggalkanku,,, sekali lagi,,,

Tak bolehkah ?, tak bolehkah aku, mencoba dari awal ?. Aku ingin memiliki hati kakak sekali lagi. Aku tidak ingin menyerah dan melepas empat tahunku. Aku yakin kakak hanya mengembara sebentar, satu-satunya tempat terakhir kakak adalah hatiku, hanya aku.
***
Aura, begitu cantikkah ia di mata kakak? Apa kelebihannya dibandingkan aku? Ia hanyalah seorang model terkenal, apa hebatnya. Kak Ares, sehebat apa dia hingga mampu menghapus empat tahun kita?
“Luna, loe,,”
“Hi Arza, udah lama di sini?,”
“Lun, loe masih waras kan? Ini acara pertunangan Ares dan Aura,”
“I know, so what? Mereka bukannya sedang akad nikah kan,”
“Aku tidak akan membiarkan Aura merebut kak Ares lebih lama dari ini,” timpalku lagi.

Arza hanya menatapku bingung, aku tidak peduli. Bahkan meski harga diriku terasa terinjak-injak, karena aku benar-benar tak bisa melepasnya. Aku tak sanggup kehilangan kak Ares, aku tidak akan membiarkan Aura bersama kak Ares lebih lama lagi.
***
Pesta megah itu telah usai, tinggal aku menyusuri jalan sepi sendiri. Tak ada kak Ares yang bersedia mengantarku pulang, tak ada kak Ares yang menemaniku. Aku yakin, ia pasti masih bersama dengan Aura meski pesta telah usai.
“Hi cantik, sendirian aja nich, butuh ditemenin gak,,,,hahahaha,,,” seru segerombolan preman yang tengah mabuk berat padaku. Mereka terus mendekatiku, dan semakin kurang ajar padaku.
“Lepas,!”
“Jangan sok jual mahal dech, sama kita-kita juga, hahahaha,,,”
“Lepassssssssssssssssssssssssssssss!”teriakku lebih kencang lagi.

Bukkk,,,,tiba-tiba mereka semua terpental ke tanah. Siapa yang menolongku? Kini dia tengah melawan preman-preman itu. Ia benar-benar mengagumkan membuat orang-orang kurang ajar itu lari terbirit-birit.
“Thanks,” ucapku, dan aku kaget sekali ketika melihat wajah penyelamatku. Dia?
***
Hari ini, aku akan membeberkan semuanya pada wartawan, biar si Aura centil itu tahu rasa. Berani-beraninya dia merebut kak Ares dariku. Aku akan melangkah ke ruang konferensi pers, saat seseorang menarik tanganku…
“Arza,! Apa-apaan sich, lepasin aku!”
“Gak akan! Sudahlah lun, relain aja Ares kenapa sich,”
“Relain loe bilang, gampang banget !”ucapku tanpa sadar menggunakan kata’loe’, bukan seperti diriku.
“Lun, Ares udah nentuin pilihan, dia lebih milih aura. Biarin mereka bahagia, dan loe juga berhak dapet cinta yang lain,”
“The other love?”
“Loe gak lupa kan, kalo dari dulu gue cinta sama loe, kenapa loe gak bisa coba terima gue? Loe gak harus berubah jadi jahat kayak gini,”
“Arza, I want to do that, but you know, I can’t leave him. Not now.”
“You can try, Lun.Please !,”
Aku tak lagi mendengarkan perkataan Arza, tekadku sudah bulat. Aura, dia harus merasakan akibatnya karena telah merebut kak Ares dariku.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu. Karir Aura sebagai model benar-benar terguncang karena aku, tapi mengapa aku masih tidak bisa merasa senang. Meskipun karir Aura hancur, meski kini banyak orang yang mencibirnya, tetap saja kak Ares tak kembali padaku.
Apakah aku menyesal? Tidak. Aku tidak menyesal melakukannya. Aku hanya sedih, karena segala usahaku, tak mampu membuat kak Ares kembali padaku. Benarkah aku harus merelakan empat tahunku?
“Arza!”
 Entah sejak kapan ia berdiri di depanku. Ia benar-benar tak terduga, selalu muncul tiba-tiba.
“Luna, aku mohon beri aku kesempatan, aku mungkin tak bisa seperti Ares, tapi aku bisa mencintaimu dengan tulus.”
“Aku?Ada apa ini, sejak kapan seorang  Arza bicara dengan aku, kamu seperti ini?”
“Kau tahu, cinta bisa merubah orang baik menjadi jahat, orang urakan menjadi rapi. Akupun seperti itu. Lupakan Ares, dan cobalah bersamaku.”
“Tapi aku tidak mencintaimu, Arza!”
“Aku akan selalu menerimamu,”timpal Arza.
“Bisakah kau menerimaku? sementara aku masih menyimpan kak Ares di hatiku. Bisakah kau menerimaku? sementara di mataku hanya ada kak Ares. Ini semua hanya akan menyakitimu,”

Arza terdiam mendengar ucapanku. Aku yakin ia pun tahu tak mudah bagiku melupakan Kak Ares begitu saja. Kak Ares adalah satu-satunya cinta yang perrnah ku miliki selama hidupku, kehilangannya benar-benar membuatku gila. Dan untuk mencoba cinta lain, hatiku tak cukup siap. Aku pun tak yakin, sanggupkah aku mencintai orang lain seperti aku mencintai kak Ares?

Maaf Arza, untuk saat ini aku tidak bisa membuka hatiku untukmu. Aku belum bisa melupakan kak Ares untuk saat sekarang, aku hanya tak ingin menjadikanmu sebagai pelarianku saja. Itu sangat tak adil buatmu, sorry, I can’t let him for now, I need much time to forget him.Sorry,,,
***

Otty Lovariqus
Litbang bagian weekly Metting
2013/2014
Pena Kampus 










Powered by Blogger.