Diajarkan Turun-temurun Masih Diminati Kalangan Muda

Baca Juga


SEJAK berkembangnya kaligrafi di Kabupaten Kudus sekitar 1950 silam, hingga kini tetap memikat. Seni menulis huruf Arab dengan indah itu, diajarkan turun-temurun hingga generasi sekarang. Terlebih bagi para santri yang lebih banyak menyukai seni ini.
Seperti yang terlihat di rumah yang tepat berada di sebelah utara Masjid Al-Aqsho (Masjid Menara Kudus), Kauman Menara Kudus. Rumah milik H Muchammad Noor Syukron, pria yang berhasil meraih gelar hajinya berkat menekuni kaligrafi itu, terlihat ramai dengan remaja untuk ngangsu kaweruh tentang khat –kata lain kaligrafi Arab.
Kata kaligrafi berasal dari kata colios dan graphos. Colios berarti indah, sementara graphos adalah tulisan. Sehingga kaligrafi bermakna tulisan indah. Sebutan lain untuk kaligrafi Arab adalah khath yang secara harfiah berarti garis. Namun secara terminologi bermakna menulis huruf Arab dengan indah. Orang yang menekuni seni khath disebut khattath.
Menurut Syukron, kaligrafi sangat diminati banyak orang, terlebih di eks-Karisidenan Pati. “Banyaknya orang yang memesan kaligrafi pada saya. Ini membuat saya yakin banyak pula yang ingin tahu bagaimana cara membuatnya, terutama di kalangan remaja,” katanya.
Hal tersebut yang mendorong pria kelahiran 1973 ini, membuka les kaligrafi di rumahnya. Les tersebut didominasi anak seusia SD dan SMP. Walaupun mereka masih remaja, tetapi sudah banyak yang karyanya menarik.
Ulayya, salah satu murid Syukron yang masih duduk di kelas I SMP NU Putri Nawakartika mengaku sangat menyukai kaligrafi. Dia ingin memiliki kemampuan menulis indah. “Saya suka kaligrafi semenjak SD. Agar saya bisa, ikut les, tuturnya.
Syukron menerangkan, kelas kaligrafi terbagi menjadi dua. Tiap kelasnya ada 20 murid baik putra maupun putri setiap Jum’at. Untuk kelas putra, dimulai pukul 14.00 hingga 15.00. Sementara kelas putri, dibuka pukul 16.00 sampai 17.00. “Saya membatasi kelas agar kelas efektif. Sehingga murid-murid mampu menangkap pelajaran dengan baik dan serius berlatih.
Biaya les, lanjutnya, tidak mahal. Yakni setiap murid hanya dibebani Rp 100 ribu untuk mendaftar dan Rp 10 ribu untuk tiap pertemuannya.

Ada Enam Jenis Khath Wajib
Proses belajar kaligrafi yang bertempat di kediaman H Syukron, murid yang datang harus mengambil nomor urut maju untuk proses penilaian tulisannya. Setelah waktu menunjukkan pukul 14.00, Syukron membuka proses belajar kaligrafi dengan do’a dan memberikan sedikit motivasi supaya para murid bersemangat.
Bapak satu anak ini, kemudian memberikan ulasan materi minggu sebelumnya. Kemudian, dia merpersilakan murid untuk membuka modul yang di berikan ketika pendaftaran awal. Modul tersebut, menyajikan berbagai teknik atau kiat-kiat dalam penulisan kaligrafi. Mulai dari dasar sampai tingkat rumit.
Sekitar lima belas menit, Syukron memanggil nomor urut yang telah dipegang semua murid. Satu persatu murid maju ke hadapan Syukron untuk mendapatkan bimbingan. Murid-murid menunjukkan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan minggu lalu untuk dinilai. Kemudian dievaluasi, lalu Syukron meluruskan kekurangan dalam tulisan muridnya dengan cara memberikan masukan.
Setelah itu, dia memberikan kembali tugas kepada murid dengan disuruh mengambil kertas untuk menulis teknik baru yang telah diberikan. Tak selang lama, ketika murid sudah selesai, peserta didik itu menghadap kembali untuk memperlihatkan hasilnya. “Ini bertujuan mengukur pemahaman dan tingkat ketelitian dalam penulisan,” jelasnya.
Dia menjelaskan jenis-jenis kaligrafi yang mempunyai ciri khas dan teknik cara pembuataanya. Masing-masing, khath nasakhi, tsulutsi, diwani yang dibagi dua yakni diwani ‘aady dan diwani jaly. Kemudian ada lagi khath ta’liq atau Farisi, riq’ah, dan koufi. Keenam jenis tulisan ini yang sering dilombakan, baik di nasional maupun tingkat dunia. Termasuk di Indonesia, enam jenis tulisan ini menjadi khath wajib saat Musabaqoh Khathil Qur’an (MKQ) dari tingkat kota sampai nasional.

Antusias, Terbentuk Komunitas Kaligrafi
Kaligrafi mendapat sambutan bagus dari murid-murid baik di lingkup sekolah formal maupun non formal. Bapak yang mengajar kaligrafi di MAN 1 Kudus ini menyatakan, semangat murid-murid dalam mengerjakan tugas yang diberikan menunjukkan wujud kaligrafi mendapat sambutan baik dari para generasi muda.
Selain hal tersebut, pria penyuka makanan gado-gado ini menambahkan, hal serupa juga terlihat dari berdirinya komunitas pecinta kaligrafi. Komunitas ini, belum lama terbentuk dan belum memiliki nama, namun sudah banyak pesertanya. “Anggota komunitas ini tidak hanya dari Kudus, tapi juga dari kota lain seperti Jepara dan Semarang,” ujar pria pencinta kaligrafi ini.
Disinggung mengenai kecintaannya terhadap kaligrafi, pria berkaca mata ini memiliki beberapa alasan. Selain sebagai hobi, menulis kaligrafi termasuk ibadah. Selain alasan tersebut, semangat menulis kaligrafi semakin menggeliat saat dia mengikuti lomba  di sekolahnya pada 1986. Tepatnya, sejak Syukron masih duduk di bangku MTs Qudsiyyah. Kemudian, berlanjut pada 1988 meraih juara di Surakarta.
Tidak berhenti sampai di situ. Koleksi gelarnya berlanjut pada 1991 pada sayembara kaligrafi di Jakarta dan berlanjut pada even ini yang kedua pada 1996. Selanjutnya, pada 1997 keberuntungan besar dia raih. Keberhasilannya kembali menyabet juara, dia mendapat kehormatan naik haji gratis karena mendapat bantuan dari gubernur Jawa Tengah. (Ahmad Miftahul Ulum dan Lina Fusha)
Powered by Blogger.