Header Ads

Gambar1

Membuat Hidup Jadi Lebih Berarti

Baca Juga

Peresensi          : Siti Anisah
Judul                : Singgah
Penulis  : Jia Effendie dan kawan-kawan
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tebal                : 232 halaman
Cetakan           : I, Januari 2013
ISBN               : 978-979-22-9217-6

Fitrah manusia sebagai ciptaan yang sempurna, dibekali Tuhan dengan hati dan akal. Lewat kedua bekal itu manusia menjadi pembeda dan dititahkan menjadi khalifah. Maka itu, hakikat manusia selalu berada dalam fitnah, hendak kemana ia menorehkan langkahnya, positif atau negatif?  Langkah ini yang pada akhirnya menjadi absurd, menentukan kadar pemaknaan diri setiap insan; beragamakah, berilmukah, atau berhartakah? Semua menjadi karunia dan ujian Tuhan dalam setiap persinggahan arus lika-liku hidup manusia.
Hidup memang selalu dekat dengan tantangan, semakin dewasa seseorang maka tantangan akan semakin besar. Begitu juga semakin maju dunia ini maka tantangan akan semakin kompleks juga. Pikiran kita akan menemukan cakrawala baru. Hal ini sinergi dengan filofis kehidupan manusia, bahwa dalam rangka meneliti perjalanan hidup ia harus mampu mengkontruksi, merubah adat kebiasaan yang negative dan merevolusi diri seperti halnya kupu-kupu. Manusia lebih sempurna dari pada kupu-kupu. Manusia dibekali hati dan akal. Dengan akal fikiran manusia mampu menerapkan nilai-nilai tersembunyi dari alam pada dirinya.
Layaknya kupu-kupu manusia pun harus berusaha. Semakin manusia memiliki keinginan, maka secara bertahap maka apa yang diharapkan akan bisa terwujud. Namun semua itu membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar.
”Perjalanan tak pernah berhenti di sini. Dermaga ini mungkin sudah menjadi saksi bisu banyak perpisahan dan pertemuan, tapi ia tetap diam dan khidmat menyimpan seluruh sejarahnya sendiri. Menua dalam sunyi, melarut bersama waktu dan banyak orang yang hanya selintas lewat” (hal 141).
Pecutan kalimat  itu hendak membangunkan pembaca agar tersadar memiliki spirit, berkontribusi dalam kehidupannya. Manusia apabila mengetahui tujuan hidupnya, maka ia akan memiliki nilai dan makna.
Buku Singgah ini berisi 13 cerita pendek yang ditulis oleh 11 pengarang dengan beragam latar kebudayaan dan daerah yang masing-masing cerita memuat setidaknya sebuah nilai pendidikan yang kemudian mengantarkan pembaca untuk menikmati dan mengambil pengertian terhadap nilai tersebut.
Jia Effendie dalam dua cerpennya (Jantung) memuat getirnya kehidupan seorang remaja putri tengah berbadan dua, naasnya si lelaki enggan mengakui benih di dalam rahim perempuannya, dan (Pertemuan di Dermaga) pandangan tentang takdir yang menjadi bagian dari lika-liku perjalanan hidup manusia (hlm 219).
Dalam buku, juga menyajikan perjuangan Apuk Si Anak Kapuas untuk memberanikan diri mencelupkan kakinya ke permukaan sungai demi membuktikan bahwa ia bisa berenang seperti anak-anak Kapuas lainnya. Atau Angga, seorang penulis naskah film yang ditinggal pergi oleh Kinan, teman kecil sekaligus pujaannya, namun ia tetap memberi tempat spesial di hati. Kisah-kisah tak biasa itu hanyalah sebagian dari perjuangan hidup ketigabelas tokoh yang tak pernah menyerah pada keadaan atau pun nasib (hal 75).
Tidak semua orang memiliki lajur kehidupan yang mulus. Banyak juga pribadi-pribadi yang jatuh-bangun dalam mengejar tujuan hidup. Oleh karena itu tujuan hidup tidak didapat dengan begitu saja, membutuhkan perjuangan yang terus-menerus dan tidak kenal lelah untuk mendapatkannya (hlm 169).
Hampir semua kisah dalam buku menayangkan kondisi buruk para tokoh, akan tetapi mereka berani memperjuangkan hidupnya, bahkan menjadi permata bagi orang-orang di sekitarnya. Banyak jalan menuju Roma, begitulah pepatah kuno. Tidak ada kata menyerah atau putus asa. Man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh, akan mendapat hasilnya.
Ketika berjalan di jalur menuju sukses; seseorang harus membuang jauh pikiran negatifnya. Karena untuk menjadi orang yang sukses diperlukan pikiran sehat dan pikiran jernih pula. Sementara itu, dalam rangka menuju ‘manusia berarti’. Harus akrab dengan kata-kata bijak seperti sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Lewat penokohan dan latar kisah yang beragam, buku ini mampu menginspirasi untuk menjadi lebih baik (hlm 119).
Secara keseluruhan seluruh cerpen-cerpen ini sangatlah menarik, begitu apik dalam menorehkan kisah dan cara penuturannya yang beragam. Banyak hal-hal positif yang dapat diambil. Diantaranya yaitu: kesetiaan, keberanian, serta kegigihan dalam menghadapi segala rintangan. Namun demikian, buku ini juga mempunyai kelemahan untuk menuntaskan akhir cerita yang masih ganjil dibiarkan begitu saja.
Melalui buku ini, Jia Effendie dan para kontributor lainnya ingin memotivasi seluruh pribadi untuk bangkit dan melangkah meraih kehidupan yang lebih baik. Selama ini, saya melihat banyak pribadi yang hidupnya pasrah alias mengalir apa adanya tanpa usaha yang maksimal. Ikhtiar buku ini menggerakkan semangat manusia untuk tak berpasrah pada siapa pun. Bagitu.

Siti Anisah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus.


Powered by Blogger.