Mencari Kampus Kebudayaan

Baca Juga

pegiat Organisasi LPM Pena Kampus UMK Kudus, warga Purwodadi

Universitas merupakan tempat di mana kita belajar dan mengajarkan ilmu. Seorang dosen dapat bertemu dengan mahasiswanya di dalam kelas. Lalu memberikan materi yang mencakup bidang keilmuan mereka. memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan dalam waktu tertentu. Atau hanya menjadi bahan untuk belajar di rumah, tidak perlu dikumpulkan.
Bagi mahasiswa, universitas merupakan tempat tertinggi di mana ia dapat memperoleh pendidikan secara formal. Kemudian, mendapatkan sebuah ijazah yang menjadi hasil dari kerja kerasnya belajar. Serta dapat mengenal teman-teman dari berbagai daerah yang memiliki bermacam-macam kepribadian dan mengembangkan kemampuan akademis maupun non akademis di kampus.
Kemampuan akademis mereka asah melalui kehidupan kelas yang sudah terjadwal dan mereka lakoni selama satu semester. Namun bagi kampus yang memanfaatkan teknologi, mahasiswa juga dapat meningkatkan keilmuan akademis mereka melalui media internet. Mencari referensi melalui jurnal, atau website yang mereka buka setiap waktunya.
Kehidupan non akademis akan lebih beraneka ragam dalam sebuah kampus. Bagi mahasiswa dan dosen, mereka dapat mempelajarinya dengan lebih luas. Dalam berorganisasi misalnya. Mahasiswa akan belajar mengenai sebuah sistem keorganisasian, dapat mengenal berbagai macam perwatakan orang lain, belajar menumbuhkan sikap empati, toleransi, tanggung jawab, kebersamaan serta membangun relasi. Penting bagi mahasiswa memiliki kepribadian yang tangguh. Tangguh dalam mental dan sikap. Berorganisasi merupakan tempat menempa hal tersebut.
Kehidupan kebudayaan juga terus tumbuh seiring dengan keberadaan manusia. Dalam kampus kebudayaan, maka kebudayaan haruslah menjadi sesuatu yang dapat mendorong menuju arah yang lebih baik. Bukan maksud saya untuk mengacuhkan teori kebudayaan yang mencakup hal-hal negatif. Korupsi misalnya apakah itu dapat kita sebut menjadi sebuah kebudayaan? jawabannya tergantung dari perspektif teori kebudayaan mana kita akan melihatnya.

Saya akan mengutip orasi seorang guru besar emeritus ITB, Imam Buchori Zainuddin. “Motto  universitas seyogyanya mencerminkan pesona institusi, landasan falsafah yang dianut, citra alumni yang diinginkan, spirit kerja masyarakat akademisnya, nilai dan etika akademis yang dianut dan produk ilmunya. Tidak hanya itu, adakalanya motto perguruan tinggi bersinggungan dengan cita-cita bangsa dan negaranya. Cambridge university di Inggris yang didirikan sejak tahun 1209 mempunyai motto Hinc Lucern et Pokula Sacra. Yang artinya dari tempat ini, kita peroleh pencerahan dan pengetahuan yang berharga. Oxford University, Dominus Illuminatio Mea yang memiliki arti The Lord is My Light”. Motto tersebut harus menjadi ilham bagi setiap warga kampus dalam menjalankan aktivitasnya. Semangat melayani, semangat menuntut ilmu, semangat berbagi, semangat solidaritas serta semangat yang lainnya.
Ketika masuk dalam kelas, beberapa mahasiswa terlihat gaduh sehingga dosen terpaksa berbicara dengan nada yang tinggi untuk mengimbanginya. Ketika hal tersebut terus berulang maka dosen berusaha untuk menegur mahasiswa yang membuat suasana tidak kondusif didalam kelas pengajaran. Dalam kasus lain ada seorang dosen yang tidak on the track. Maksud saya, ia tidak mengajarkan apa yang seharusnya ia ajarkan. Ia malah banyak bercerita mengenai kehidupan pribadinya, bagaimana ia pernah membangun sebuah proyek, masa-masa kuliah dia. Yah, saya rasa seperti pelajaran motivasi lah. Sangat sedikit ia menyampaikan tentang analisis dan perancangan sistem informasi.
Lain lagi dengan kasus ini. Jadwal kuliah harusnya sudah dimulai, setelah beberapa saat saya menunggu ternyata dosen baru tiba lalu masuk kedalam ruangan untuk mengajar. Ada pula beberapa dosen yang disiplin tiba tepat waktu seperti dosen PKN saya. Ia mengajarkan materi dengan detail dan baik.
Sebuah kepribadian muncul dari sebuah berilaku yang kita lakukan secara kesinambungan. Perilaku tersebut dinamakan sebagai kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan secara berjamaah akan menjadi sebuah kebudayaan karena pada dasarnya sebuah kebiasaan juga merupakan hasil dari karya, cipta dan karsa manusia. Perlu diingat bahwa budaya merupakan sesuatu yang dinamis. Budaya dapat berkembang seiring laju perubahan peradaban manusia. Bagaimana manusia berperan sebagai subjek utama penggerak kebudayaan. Lalu bagaimana dengan kasus-kasus diatas jika dilakukan dengan berulang-ulang? Tentunya akan ada banyak budaya baru yang muncul dikampus.
Jika perubahan budaya yang negatif terus berkembang dan tidak disikapi serius oleh pihak akademik maka dikhawatirkan budaya positif akan terkikis hingga lambat laun menjadi minoritas. Cara pertama untuk membangun kebudayaan dikampus adalah melalui media pendidikan formal dengan memasukkan kurikulum kebudayaan dalam matakuliah. Dalam mata kuliah ini akan mengajarkan pentingnya kebudayaan bagi kita. Menciptakan pemikiran bagi setiap elemen pendidikan yang ada bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan di kampus maupun di luar kampus akan bermuara menciptakan ‘kehidupan’ yang baru.
Bagaimana setiap tingkah laku kita bisa menjadi sebuah kebiasaan dan turut menjadi kebudayaan yang akan diikuti oleh warga kampus lainnya. Kedua, yaitu dengan pendidikan non formal dimana kita bisa menanamkan nilai-nilai kebudayaan yang berbasis kearifan lokal dalam kehidupan non formal. Pendidikan non formal merupakan pendidikan praktis yang dijalankan setelah mendapatkan teori-teori didalam kelas. Pendidikan ini juga menjadi sangat jitu ketika didukung oleh semua elemen warga kampus dalam aplikasinya. Sehingga menciptakan suasana berbudaya yang positif.
Powered by Blogger.