Header Ads

Gambar1

CETEK OTAKNYA, GELAP NURANINYA, BESAR MULUTNYA : KITA MAHASISWA

Baca Juga



Introduksi masalah nurani

Mungkin sudah saatnya saya mengeluarkan tulisan ini. Apabila kawan-kawan saya menulis tulisan dengan data-data komprehensif, jujur saya tidak memiliki data untuk tulisan ini, namun melalui pemikiran dan opini saja. Jangan dianggap sebagai berita apalagi dijadikan maslahat setelah ini. Saya hanya ingin sekedar mengadu kepada kawan-kawan sekalian, atau sedikit meyentil mereka yang tersinggung atas judul diatas.

Apabila kawan menanyakan apakah ada hubungannya dengan pemilu? Jelas saya katakan iya. Jujur saya kecewa berat dengan beberapa kawan mahasiswa kita, khususnya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang tercinta. Sadarkah anda bahwa banyak dari kawan-kawan mahasiswa yang sudah gelap mata? Awalnya saya tidak mau terlibat dengan hal-hal seperti ini. Menurut saya ada orang seperti itu di suatu keluarga besar wajar, namun entah kenapa bagaikan penyakit ia menular ke kawan-kawan saya yang tadinya sangat saya hormati. Ternyata jabatan tidak sebanding dengan massa otak. Mungkin kali ini saya sangat berlebihan, bahkan memulai suatu tulisan dari perasaan pribadi yang jelas-jelas membuat tulisan ini menjadi tidak kredibel. Tapi saya tidak peduli, saya harap kawan membaca tulisan ini sampai akhir. Karena mahasiswa itu adalah calon Intelektual Bangsa.

Mahasiswa angkatan 2000 

Sudah dua bulan ini saya memperhatikan kawan semua, para intelektual-intelektual muda. Mereka tidak bisa lagi membedakan antara yang mana berita bohong dan yang mana berita benar. Katanya kampus dengan mayoritas islam, namun mahasiswanya malah melakukan ghibah di jejaring sosial. Mereka sok tahu tentang sejarah 98, sejarah komunisme, dan agama padahal referensi mereka hanyalah sekedar googling-googling yang dilakukan sehari semalam. Bahkan banyak diantara mereka yang hanya sekedarshare tanpa mengkonfirmasi isinya. Apa bedanya mahasiswa dengan masyarakat lain yang bahkan membeli buku pun tak sanggup? Bahkan seorang pelayan warung kopi pun bisa mengeluarkan statement yang sama dengan yang mereka keluarkan sekarang. Berarti jika ada diantara mereka yang mengeluarkan statement sama seperti pelayan warung kopi, lebih baik mereka lepas gelar mahasiswa saja.

Mahasiswa adalah agen perubahan, merekalah yang membawa angin segar perubahan menuju Indonesia lebih baik. Sayangnya memang mungkin tugas ini terlalu berat untuk disandang mahasiswa saat ini. Kenapa saya katakan demikian? Karena pengetahuannya dangkal. Hanya sekian banyak mahasiswa yang pernah membaca buku-buku humaniora apalagi buku-buku sejarah dan mereka yang pernah jumlahnya sangatlah jauh dibandingkan abang-abang kita sesama mahasiswa dahulu (bacaan saya-pun masih sedikit).Tetapi mereka berani membuat tuntutan seakan mereka adalah lulusan professor dari Harvard yang tahu banyak hal. Soekarno Muda membaca banyak hal sejak dirinya SMP, ia menghabiskan seluruh buku Marx dan Engels sebelum ia kuliah,dan ia membuat tulisan dan pidato-pidato mencengangkan semasa ia kuliah. Abang kita aktivis 98 membaca banyak buku ketika mereka kuliah, mungkin tidak sebanyak anak angkatan 45, tapi isi otak mereka dapat memberi tuntutan-tuntutan yang jelas dan bisa menurunkan orde baru saat itu.

Mohon kepada seluruh mahasiswa, membacalah! Apabila anda hari ini membaca bukuagama yang konservatif, bacalah buku-buku agama yang plural hari berikutnya. Apabila anda hari ini membaca buku-buku john locke, bacalah buku karl marx esok harinya. Apabila anda membaca sejarah timor leste berdasarkan Indonesia hari ini, bacalah sejarah timor leste berdasarkan Australia besok. Dari sana anda membuka pikiran anda sehingga anda tidak berfikir sempit, jangan takut anda meninggalkan Ideologi anda apalagi sampai-sampai anda meninggalkan agama anda. Jangan takut untuk membaca sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan dan ideologi anda, sehingga anda bisa meneguhkan keyakinan dan ideologi anda ataubahkan mensintesa sesuatu yang baru sehingga anda bisa menjadi seorang mahasiswa intelektual sejati. Bahkan seorang Guru besar ITS yang menurut saya memiliki pegangan agama yang sangat kuat, Prof. Dr. Ir, Abdullah Sahab banyak membaca buku yang saling bertolak belakang (beliau bercerita ketika penerimaansaya sebagai mahasiswa baru), namun karena hal itu pula ia sekarang memiliki iman yang teguh terhadap keyakinannya. Jika anda membaca banyak buku, jelasakan terlihat dari argumen yang anda keluarkan dan bagaimana cara anda menulis. Silahkan saudara refleksikan sendiri.

Cara berfikir mahasiswa yang sempit jelas terlihat dari seberapa jauhkah mereka termakan isu-isu yang bukan saja bodoh namun juga tidak penting. “Prabowo itu fasis,tidak punya kemaluan, seorang duda, kudanya harganya satu triliun, rumahnya satu bukit” sedangkan di satu kubu lain “Jokowi itu kafir, komunis, keturunancina, antek liberal, punya nama baptis Herbertus, rumah di menteng 400 miliar,capres boneka”, maaf tapi bagi saya itu adalah hal-hal yang sangat tidak penting untuk dibahas oleh mahasiswa. Diskusi semacam itu sekelas diskusi orang-orang tidak tamat SMA. Ada banyak hal yang lebih penting kita bahas. Bukan pembodohan-pembodohan yang sangat tidak etis dan sangat barbar. Saya sangat lebih respek terhadap orang yang membahas tentang rekam jejak Prabowosaat masih berkilah di militer, dan Jokowi saat ia masih berkilah di Solo danJakarta, baik itu memuji maupun mengkritisiKarena kedua hal tersebut mempunyai rekam sejarah, dan lebih baik lagi disertai dengan data-data yang valid. Tapi sayangnya yang saya lihat malah serangan-serangan bodoh yang keluar disertai gambar yang bahkan lebih bodoh lagi. Bahkan ada saja yang memposting berita-berita bohong dan hoax tentang apayang diucapkan dan dilakukan kedua pasang capres cawapres semasa pemilu. Sungguh sangat bodoh dan tidak intelektual. Inikah agen perubahan yang dijanjikanuntuk masyarakat Indonesia?

Epilog

Memihak boleh saja,saya tidak melarang anda untuk memihak. Memihak adalah hal yang harus dilakukan sehingga saudara mempunyai prinsip. Namun saudara jangan pernah sekali-kali memihak dengan fanatisme yang gelap mata. Karena saudara sekelas mahasiswa maka saudara cerdaslah dalam memihak dan fikirkanlah apa yang saudara lakukan saat ini.

Sekali lagi saya mohon maaf jika tulisan ini menyinggung beberapa pihak, ini hanya tulisan opini belaka. Namun sepertinya banyak diantara saudara yang berfikiran sama seperti saya. Mari kita memilih 9 Juli nanti, dan silahkan sebelum anda mencoblos berdoalah berdasar keyakinan saudara masing-masing, yakinlah Yang Maha Kuasa akan membantu mereka yang berada di jalan-Nya.

Untuk mereka yang sudah muak dengan fitnah dan hinaan di pilpres kali ini.....



Oxi Putra Merdeka
Mahasiswa Jurusan S1 Teknik Mesin ITS
Wakil Pimpinan Redaksi LPM 1.0
Powered by Blogger.