Header Ads

Gambar1

Kegalauan Teater Kampus

Baca Juga


Dalam sebuah diskusi tentang teater, seorang rekan pernah berkata pada saya bahwa “teater kampus sama teater luar kampus nggak ada bedanya.” dan melalui tulisan ini saya ingin menjawab pernyataan rekan saya tersebut.
Kalau soal kata memang tak ada bedanya, iya sama-sama teater. Tapi, teater kampus punya bahan referensi lebih banyak, kita ingat di kampus minimal pasti punya perpustakaan. Selain itu, kampus pastinya punya akses informasi lebih mudah dibanding teater luar kampus. Selain itu kampus menyediakan dana untuk pementasan-pementasan yang akan digelar dan sarana tempat juga pasti lebih memadai. Itu bisa kita lihat bahkan komunitas seni atau teater di luar kampus saja kalau mau pentas meminjam tempat di kampus, walaupun dengan menggandeng teater atau kominitas dari dalam kampus.
Di Universitas Muria Kudus (UMK) ada beberapa komunitas teater sperti Tiga Koma, Aura, Obeng dan Coin. Teater salah satu keorganisasian dan keanggotaan sebagaimana wadah organisasi bakat mahasiswa lainnya. Kepengurusan berganti satu-dua tahun dengan keanggotaan yang silih berganti dan tambal sulam setiap tahunnya. Walau sperti itu perubahan tak kunjung terlihat. Bahkan ada yang lebih mengerikan, teater kampus ditinggalkan.
Teater kampus pelan-pelan ditinggalkan “masyarakatnya.” Ia laiknya suatu objek yang awalnya dikagumi lantas ditinggal pergi. Ada apa gerangan? Kenapa kini teater kampus tak lagi digemari masyarakat kampus (baca: mahasiswa)?
Beberapa kali meliput kegiatan teater kampus, yang meliputi pementasan teater, monolog, musikalisasi puisi dan kegiatan seni di UMK, mayoritas pengunjungnya adalah awak-awak teater sendiri.
Meskipun ada  pengunjung dari luar kampus, itupun orang-orang yang bergelut di dunia seni atau dari kelompok teater kampus lain. Tak banyak dari mahasiswa biasa yang mau menjadi saksi pementasan teater kampus. Maka, segera lakukan perubahan. Jangan berlarat-larat dalam kegalauan! Semoga. (*)
Powered by Blogger.