Header Ads

Gambar1

Bolehkah Menuntut Anak?

Baca Juga


Ilustrasi anak depresi/image google

Oleh: Alfi Muhimmatul Fauziyyah*

Saya tergelitik ketika mendengar beberapa wali murid yang mengeluhkan nilai akademik anaknya rendah. Pasalnya, mereka tak puas dengan hasil yang dicapai anaknya. Mereka menginginkan agar anaknya menjadi nomor satu dan mencapai prestasi yang tinggi. Namun, yang dilakukan orangtua hanya menuntut tanpa melihat bakat, minat dan kemampuan anak tersebut.
Agaknya ini yang membuat mindset sebagian orang tua keliru. Mereka beranggapan bahwa keberhasilan selalu dikaitkan dengan nilai akademik yang tinggi. Seolah-olah, label bodoh melekat pada diri anak jika nilai akademiknya rendah.
Sebagai guru, saya sangat menyayangkan hal tersebut. Pada dasarnya semua anak lebih suka bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, sebagai orangtua sebaiknya tidak hanya menuntut anak supaya ia dapat meraih ranking satu di sekolahnya. Pola asuh orangtua berpengaruh terhadap kondisi perkembangan anak termasuk dalam prestasinya. Bila anak berada dalam pengasuhan yang kondusif, maka anak akan terbantu dalam proses kematangan perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotornya. Kenyataan di lapangan, anak yang dibesarkan dari keluarga yang tak banyak menuntut lebih mapan secara psikososial dan lebih berprestasi dibandingkan anak-anak yang dibesarkan dari keluarga yang banyak menuntut.
Tuntutan orangtua terhadap anak mungkin dapat berdampak positif jika ada kecocokan dengan bakat, minat, dan kemampuan anak tersebut. Tetapi sebaliknya, jika tidak cocok dan orangtua tetap menuntut anak, hal tersebut akan membebani pengembangan dirinya. Hal ini dapat membuat anak menjadi berontak dan melawan orangtua.
Ketika orangtua menginginkan anaknya untuk melakukan sesuatu atau meraih sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, orangtua tersebut perlu memperhatikan dan mempertimbangkan kemampuan, minat dan bakat anak tersebut. Selain itu, orangtua juga perlu memberikan dukungan, bimbingan, dan arahan kepada anak dengan cara turun tangan melakukannya atau membantu anak melakukan hal tersebut dengan konsisten, sabar dan ikhlas. Orangtua sebaiknya turun tangan untuk membimbing dan mengarahkan anak supaya anak semangat dalam belajar. Misalnya, dengan cara membuat suasana rumah menjadi nyaman untuk anak belajar, membantu anak belajar dalam mempersiapkan ujian sekolah dan membantu anak dalam memnghadapi kesulitan belajar.
Orangtua sebagai pendidik di keluarga harus memahami esensi dari sebuah Pendidikan. Esensi dari pendidikan adalah usaha membekali pengetahuan dan keterampilan bagi setiap manusia untuk bersikap dan berperilaku dalam lingkungan sosialnya. Perilaku merupakan manifestasi tindakan dan sikap yang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya melalui proses pendidikan. Sedangkan pendidikan itu sendiri merupakan proses merubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Perlu ditegaskan disini bahwa menuntut anak itu sah-sah saja, namun tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal. Untuk memacu prestasi, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit di atas kemampuan anak. Tuntutan yang di bawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan dirinya. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak akan mengecilkan semangatnya. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam batas kemampuannya. Jika tidak ia justru tidak akan berkemauan untuk menggapainya.
Setiap anak mempunyai minat, bakat serta kemampuan yang berbeda-beda. Sebagai orangtua harus memahami pentingnya kemampuan dari anak. Nilai akademik itu penting, tetapi orangtua juga harus memahami bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan tidak hanya sekadar nilai yang tinggi, namun juga perubahan sikap yang dihasilkan dari sebuah proses pengajaran.
*Alumni Pena Kampus 2014
Powered by Blogger.