Header Ads

Gambar1

Mbah Jaenah Bergaji 15 Ribu Rupiah

Baca Juga



Mbah Jaenah berusia sekitar 60 tahunan. Ia bekerja sebagai tukang ayak sisa produksi gula tebu di pabrik Rendeng sejak 10 tahun lalu. Bekerja dari pagi pukul setengah enam pagi sampai 2 siang harus ia lakoni. Usaha kerasnya yang demikian hanya mendapat imbalan sebesar 15 ribu rupiah.
            Sepulang dari basecamp Pena Kampus (Peka) untuk menyelesaikan input Kartu Rencana Studi (KRS) dan melakukan liputan dengan ketua UKM Seni Kampus untuk mengisi bulletin Fakta saya bertemu mbah Jaenah sedang berjalan sendiri di depan Blok Ruangan tempat lokomotif dan beberapa peralatan yang biasa untuk mengangkut tebu-tebu milik pabrik gula(PG) Rendeng.
            Mbah Jaenah yang kala itu mengenakan pakaian jawa dengan atasan berwarna hitam dan bawahan berjarik batik cokelat, sangat berani menyetop saya. Ia melambaikan-tangannya sambil menanyakan, “mau kemana le? Aku nunut.”
            “nggih mbah, mbah lajeng teng pundi ?” aku menimpali pertanyaannya.
            “ngidul mrono lee, neng Jepang Pakis”
            Ia kemudian membonceng nyemplo di motorku. Dibagian belakang sambil berpegangan pada tas ransel yang aku pakai.
            Sepanjang perjalanan kami mulai berbincang tentang kesibukan mbah Jaenah. Ternyata ia adalah pekerja Rendeng. Sebagai seorang wanita yang cukup tua, ia masih mampu mengayak ampas tebu dari pagi ubun-ubun sampai terik pukul 2 siang. Meskipun begitu ternyata mbah Jaenah masih berpuasa.
            Mbah Jaenah mengayak tebu dengan tangannya sendiri dengan peralatan yang sederhana. Katanya hasil ayakan yang halus tersebut akan dicampur semen untuk kemudian dibuat bata oleh orang lain, Yang mana mereka masih bekerja pula pada PG Rendeng.
            Aku tak menyangka wanita tua berperawakan kecil itu ternyata berangkat dan pulang dengan jalan kaki. Syukur-syukur jika ada yang mau ditumpangi maka ia akan nunut sampai manapun orang baik hati tadi mau mengantarkan. “ya, kalo beruntung biasanya ada yang mau ditumpangi, nang.” Begitu kira-kira jika mbah jaenah berbicara dalam bahasa Indonesia.
            Mbah Jaenah selalu berbicara menggunakan bahasa Jawa.
            Meskipun bulan puasa seperti ini mbah Jaenah dan kawan-kawan sejawatnya ternyata tetap bekerja dari hari senin sampai hari sabtu. Tidak ada hal khusus yang diberikan. Aku menangkap pula beberapa keluhan mbah Jaenah tentang kehidupannya.
            Pada hari-hari sebelumnya, ketika tidak puasa, setiap hari jum’at mbah Jaenah selalu membawa bekal makan siang. Karena pada hari tersebut warung yang biasa menjadi tempat untuk membeli makan siang tidak buka terpaksa mbah Ia membawa Nasi sisa kemarin. Orang desa menyebutnya sebagai Sego Wadhang.
            “nanti kalo ada waktu mungkin bisa main ke sini lagi mbah.” Kalimat penutup saya untuk mbah Jaenah saat pergi meninggalkan ia di depan Perempatan dekat Rumahnya.

Reporter : Wahyu Dwi Pranata
Powered by Blogger.