Menatap Indonesia ke Depan

Baca Juga



Pemilu Presiden akan segera dilaksanakan, yang berarti sebentar lagi adalah periode pemerintahan yang baru. Tentu kita berharap ada perubahan dan perkembangan pembangunan nasional pada periode Selanjutnya. Kita sudah lelah terlalu lama menanti kebangkitan kejayaan bangsa tercinta kita ini. Pertanyaanya adalah apakah pada periode baru ini Indonesia akan bangkit? atau hanya suatu periode yang hanya akan terbuang percuma (lagi)?

Visi pembangunan nasional mengarah pada pencapaian tujuan nasional, seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu “Indonesia yang Mandiri, Maju , Adil dan Makmur”.

· Mandiri berarti mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
· Maju berarti Sumber Daya Manusia Indonesia telah mencapai kualitas yang tinggi dengan tingkat kemakmuran yang juga tinggi disertai dengan sistem dan kelembagaan politik dan hukum yang mantap.
· Adil berarti tidak ada pembatasan/diskriminasi dalam bentuk apapun, baik antarindividu, gender, maupun wilayah.
· Makmur berarti seluruh kebutuhan hidup masyarakat Indonesia telah terpenuhi sehingga dapat memberikan makna dan arti penting bagi bangsa-bangsa lain.

Banyak sekali tantangan Indonesia ke depan dalam usaha mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar dapat dianggap sebagai salah satu Negara yang maju. Pembangunan nasional menghadapi berbagai tantangan yang bersumber dari eksternal maupun internal itu sendiri. Tantangan eksternal utamanya adalah kesiapan Indonesia untuk menyongsong AEC yang diberlakukan sejak tahun 2015, pelaksanaan agenda pembangunan global paska 2015, dan perubahan iklim global. Sedangkan tantangan dari dalam internal utamanya adalah mewujudkan manfaat bonus demografi yang hanya terjadi satu kali dalam suatu Negara yaitu antara tahun 2015 hingga tahun2035.

Dari latar belakang tersebut, ada beberapa isu strategis yang dirasa sangat krusial bagi Indonesia ke depan. Beberapa isu strategis tersebut adalah :

Pengendalian Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Indonesia semakin tahun semakin meledak. Tahun ini diperkirakan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah melebihi angka 250 juta jiwa dan diperkirakan akan menjadi 273,2 juta pada tahun 2025. [1] Persentase laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekarang adalah 0,92 persen (peringkat 124 di dunia ) dengan angka kelahiran total (TFR/ Total Fertility Rate ) sebesar 2,6 per perempuan pada usia produktif. Untuk menangani ini pemerintah sudah meluncurkan program KB. Tapi program tersebut dirasa belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah pelayanan KB berkualitas belum terjangkau dan belum merata dan tentu juga pemahaman masyarakat itu sendiri terkait pentingnya KB dirasa masih belum optimal.

Reformasi Pembangunan Kesehatandan Pendidikan
Angka kematian rata rata Indonesia adalah 6,34 kematian / 1000 penduduk [2] ( Peringkat 156 Dunia) dan angka kematian ibu melahirkan sebesar 359 kematian / 100.000 kelahiran. Ini merupakan angka yang sangat besar untuk mengindikasi kondisi kesehatan di Indonesia. Belum lagi jika kita lihat banyak terjadi kesenjangan pelayanan “si miskin” dengan “orang mampu” dan tentu juga dapat kita lihat dengan tingginya biaya kesehatan di Indonesia.
Pendidikan adalah salah satu kunci keberhasilan perkembangan bangsa di masa depan. Pembangunan pendidikan masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain 1) Belum meratanya pelayanan pendidikan yang ditunjukkan oleh masih terdapatnya kesenjangan partisipasi pendidikan terutama antarkelompok sosial-ekonomi dan antarwilayah baik untuk pendidikan dasar dan menengah; 2) masih belum memadainya kualitas pendidikan menengah, dan masih kurangnya relevansi pendidikan menengah dengan kebutuhan pasar kerja; 3) Masih rendahnya akses, kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan tinggi serta masih kurang mampunya pendidikan tinggi dalam mengembangkan iptek melalui penelitian dasar dan terapan, serta melakukan inovasi dan intervensi; 4) Belum memadainya kompetensi dan profesionalisme pendidik; dan 5) Masih belum efisiennya pemanfaatan anggaran pendidikan dan tata kelola pendidikan.

Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
Kepala BPS Suryamin mengatakan indeks kedalaman kemiskinan naik dari 1,75% (Maret 2013) menjadi 1,89%. Kemudian indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,43% (Maret) menjadi 0,48%. [3]
Hal ini mengindikasikan bahwa kemiskinan di Indonesia semakin naik, padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia terus naik. Hal demikianlah yang dirasa mengapa rasio GINI (rasio perbedaan kaya dan miskin) juga naik dari 0.39 menjadi 0.41persen. Apabila dibandingkan, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi daripada perkotaan. Tercatat secara kedalaman perkotaan sebesar 1,41% dan perdesaan jauh lebih tinggi, yaitu 2,37%.

Peningkatan Daya Saing Tenaga Kerja
Dalam upaya persiapan menghadapi AEC yang akan mulai dihadapi Indonesia pada tahun 2015, maka peningkatan daya saing tenaga kerja sangatlah dibutuhkan oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan pada AEC nanti para pekerja Indonesia tidak hanya akan bersaing dengan saudara sebangsa ini sendiri melainkan dengan para pekerja dari Negara yang tergabung dengan program AEC. Dan juga jumlah dan rasio tenaga kerja yang professional dan kompeten perlu ditingkatkan mengingat masih senjangnya tenaga kerja yang kompeten dan yang tidak kompeten di Indonesia dan tingginya angka pengangguran di Indonesia.

Tranformasi Sektor Industri
Jika kita melihat dan membandingkan dengan Negara Negara maju seperti Amerika dan Jerman,untuk mencapai ekonomi yang maju maka Indonesia juga harus mengembangkan sektor Industrinya. Pada tahun 2015 industri pengolahan ditargetkan tumbuh sebesar 5,5-6,0 persen, [4] dengan demikian industri nonmigas ditargetkan tumbuh 6,2 persen. Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam untuk mencapai target tersebut, yaitu 1) Pembangunan wilayah Industri. 2)Penumbuhan populasi dan pemerataan persebaran industri. Dan 3) Peningkatan kreativitas dan Daya saing industri.

Peningkatan Kapasitas IPTEK

Salah satu tolok ukur agar Negara dikatakan sebagai Negara maju adalah teknologi. Di zaman globalisasi ini kita harus selalu mengikuti perkembangan teknologi jaman modern ini. Untuk meningkatakan daya saing sektor produksi bahan dan jasa, keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan penyiapan sosial budaya masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan global yang maju dan modern maka sangat dibutuhkanlah pengembangan IPTEK.

PeningkatanKetersediaan Infrastruktur

Rasio elektrifikasi nasional saat ini masih relatif tergolong rendah, terutama di wilayah-wilayah timur Indonesia, yang mana sampai dengan tahun 2013 sekitar 80,51 persen dengan variasi yang berbada-beda di berbagai wilayah.[5] Selain itu ketersediaan air bersih dan sanitasi masih jadi salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketersediaannya. Dan pemukiman warga juga salah satu hal yang perlu diperhatikan mengingat masih banyaknya rumah tidak layak huni dan ketersediaan tempat tinggal untuk seluruh penduduk, terutama masyarakat dengan penghasilan rendah.

Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

Mungkin ini adalah “primadona” permasalahan yang dihadapi Indonesia setiap tahunnya. Indonesia menempati peringkat 64 dalam hal Negara paling korup didunia.[6] Peringkat korupsi ini memperlihatkan kelas Indonesia dalam kancah korupsi di dunia internasional sangat memperihatinkan. Mungkin bisa dibilang bahwa korupsi di negeri ini masuk dalam tingkat “darurat”. Betapa banyak kerugian Negara akibat penyelewengan penyelewengan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tak bertanggung jawab ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memberantas “virus” ini, dengan salah satunya membentuk KPK. KPK selama ini telah banyak sekali membunuh ”virus” ini dan menyelamatkan uang Negara sebanyak Rp 153 Triliun semenjak pertama kali dibentuk tahun 2003. Akan tetapi masih banyak saja kasus dan pelaku korupsi di negeri kita ini.

Peningkatan Tahanan Pangan dan Energi

Dahulu kita dikenal dengan sebutan “Macan Asia” karena kita dapat melaksanakan swasembada beras. Hal ini sangat kontras dengan kondisi kekinian dari Indonesia dimana kita sebagai Negara dengan mayoritas petani masih harus mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan pangan di Negara kita sendiri. Bukan hanya beras, akan tetapi kebutuhan pokok yang lain pun masih harus impor ke Negara lain. Dan juga  distribusi bahan pokok ini dirasa masih sangat tidak merata. Selain itu kualitas pangan yang dikonsumsi masyarakat dan gizi masyarakat di Indonesia dapat dikatakan masih sangat minim.

Begitu juga dengan ketersediaan energi di Indonesia yang masih sangat minim. Untuk memenuhi kebutuhan energi yang kita gunakan sehari hari,kita juga harus mengimpor banyak sekali BBM dari Negara luar. Impor ini dikarenakan jumlah produksi energi dan konsumsi energi itu lebih banyak jumlah konsumsi energi itu. Untuk menyelesaikan masalah ini, sekarang sedang dikembangkan upaya peningkatan energi terbarukan. Hal ini diharapkan sebagai langkah yang tepat untuk mengatasi krisis energy di Negara ini.

Kompleksnya permasalahan Indonesia tentu tidak bisa diselesaikan dengan kerja satu dua orang. Perubahan akan terjadi bila rakyat bisa bersinergi dalam pembangunan Indonesia. Indonesia bukanlah negera monarki, melainkan demokrasi. Demokrasi bukan berarti hanya perlu memilih setiap 5 tahun sekali. Rakyat harus terus menjadi bagian dari Negara itu sendiri. Pemilu yangakan berlangsung dalam hitungan hari haruslah dimanfaatkan dengan baik. Tentunya tidak dengan melupakan konsep demokrasi itu sendiri. Rakyat haruslah menjalankan fungsi kontrolnya terhadap pemerintah. Rakyat tidak perlu memusingkan permainan politik praktis yang banyak dimainkan oleh para politisi kini. Tidak hanya pada 9 Juli rakyat mampu berkoar, tapi tuntutan dan evaluas ipada pemerintahan harus terus berjalan. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.




Sumber Referensi



 [1] Proyeksi Penduduk 2000-2025. (2014, Juli 5). Retrieved from BPS Demografi:http://demografi.bps.go.id/proyeksi/index.php/jumlah-dan-laju-pertumbuhan-penduduk
[2] Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk. (n.d.). Retrieved from BPS Demografi:http://demografi.bps.go.id/proyeksi/index.php/jumlah-dan-laju-pertumbuhan-penduduk
[3] Jefriando, M. (2014, Januari 2). BPS Akui Kemiskinan Indonesia Semakin Dalam dan Parah. Retrieved from Detik Finance:http://finance.detik.com/read/2014/01/02/152910/2456793/4/bps-akui-kemiskinan-di-indonesia-semakin-dalam-dan-parah
 [4] Supriadin, J. (2014, Mei 20). Pertumbuhan 2015 Ditargetkan 6 Persen. Retrieved from Tempo.co: http://www.tempo.co/read/news/2014/05/20/087579049/Pertumbuhan-2015-Ditargetkan-6-Persen
[5] Ratio Elektrifikasi Nasional Ditarget Mencapai 81,51%. (2014, Februari 4). Retrieved from Energy Today: http://energitoday.com/2014/02/04/ratio-elektrifikasi-nasional-ditarget-mencapai-8151/
[6] Indonesia Peringkat 64 Negara Paling Korup di Dunia. (2013, Desember 3). Retrieved from MetroTV News: http://news.metrotvnews.com/read/2013/12/03/198717/indonesia-peringkat-64-negara-paling-korup-di-dunia


Dimas Ery Tritama S.
Mahasiswa Jurusan S1 Fisika FMIPA ITS
Peneliti di Pusat Studi & Kajian Strategis 1.0 (PUSTAKA 1.0) ITS Surabaya
Powered by Blogger.