Mendidik adalah Tugas Kenabian

Baca Juga


ilustrasi cermin pendidikan kita/lensaindonesia.com



Mendidik adalah sebagian dari tugas kenabian, karena pendidikan memiliki tujuan untuk mencerdaskan setiap orang. Memperoleh pendidikan yang layak adalah hak, tanpa membeda-bedakan mana yang miskin atau mana yang berduit. Hal itu sesuai dengan amanah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kalimat tersebut, yang dilontarkan oleh Darmanityas menjadi penggugah dalam bedah buku “Melawan Liberalisme Pendidikan” yang diadakan pada hari Rabu, tanggal 15 di bulan April 2015 oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus di Rang Seminar lantai 4 Gedung Rektorat.
Indonesia memiliki tantangan besar dalam mengelola pendidikan bagi rakyatnya. Aroma privatisasi dan liberalisme pendidikan mulai muncul sejak dikeluarkannya PP no. 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum oleh B.J. Habibie. Dengan dikeluarkannya UU no. 20 Tahun 2003 juga memperkokoh konsep liberalisasi pendidikan yang mengatur tentang pentingnya pembentukan badan hukum pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sekolah Menengah Atas yang memiliki label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah salah satu output dari kerangka peraturan tersebut. Label RSBI ini membuat sekolah-sekolah menjadi mahal dan eksklusif, karena sekolah memiliki peluang untuk memungut biaya pendidikan yang lebih kepada siswanya. Namun, peraturan tersebut digugat dan telah dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi, sehingga sejak awal 2013 tidak ada lagi RSBI.
“Ini bukan hanya Bertaraf Internasional, namun kenyataannya juga bertarif  Internasional,” celetuk Pak Darmaningtyas sontak membuat para peserta tertawa.
Salah satu wujud kapitalisasi dalam bidang pendidikan ialah mahalnya biaya pendidikan. Akan sangat kentara apabila biaya pendidikan Indonesia dibandingkan dengan pendidikan negeri Hindustan, India. Di India, untuk menempuh pendidikan Kedokteran selama 4 tahun hanya membutuhkan dana sekitar Rp. 2 juta. Bukan rahasia apabila butuh ratusan juta rupiah jika ingin kuliah dijurusan kedokteran diperguruan tinggi ternama di Indonesia. Ironis, karena pendidikan akan lebih mudah diakses bagi orang-orang yang memiliki banyak duit. Tidak jauh berbeda seperti Zaman kolonial, hanya orang-orang menengah ke atas, seperti Soekarno, Hatta, Sosrokartono dan Cokroaminoto yang memperoleh pendidikan berkualitas pada zamannya.
Tidak berhenti sampai di situ, dewasa ini Pendidikan juga menjadi sebuah komoditas bagi orang-orang yang memanfaatkannya. Para orang tua yang tidak percaya diri terhadap pendidikan keluarga dan sekolah harus menambah jam belajar anak-anaknya dengan memasukkannya ke sebuah Bimbingan Belajar (bimbel) yang berbiaya bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu semester. Akhirnya lembaga les-lesan atau bimbingan belajar ada di mana-mana, bahkan sampai memasuki ke desa, Seolah seperti jamur yang tumbuh di musim penghujan. Menanggapi fenomena ini, salah satu panelis, Nur Said, dosen dari STAIN Kudus mengatakan “ini bukan lagi Robohnya Surau Kami, tetapi adalah Robohnya Kepercayaan diri orang tua dalam mendidik anak-anaknya.”
“Iklan yang masif juga mempengaruhi paradigma berpikir orang tua dalam mendidik anaknya. Dalam iklan, seolah-olah Bimbingan Belajar atau les-lesan bisa meluluskan siswa dalam Ujian Nasional atau Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN). Jika tidak, maka uang akan kembali. Hal ini juga mendegradasi fungsi guru yang telah mendidikan,” ungkap Pak Darmaningtyas.
Menuju Pendidikan yang Rohmatan lil alamin
Fenomena kapitalisme pendidikan coba dijelaskan oleh Pak Nur Said. Beliau mengungkapkan bahwa ini berawal dari krisis pemikiran masyarakat (low thinking) yang mengarah pada materialisme sebagai wujud kapitalisme yang berhasil mengehegemoni masyarakat sehingga membuat manusia tidak peka pada tantangan pendidikan di masa depan. Hal tersebut juga terjadi karena tidak seimbangnya antara dimensi spiritual dengan dimensi raga manusia.
Sebenarnya ada filosofi Jawa sebagai obat penawar dari “penyakit” tersebut. “Ilmu iku Kalakone Kanthi Laku” yang dalam bahasa Indonesia maka akan bermakna, Ilmu itu seharusnya dicapai dan dilaksanakan dengan proses dan pengamalan yang hakiki. Bukan Ilmu untuk mencapai kekuasaan atau Ilmu jadi layaknya barang yang diperdagangkan, karena itu merupakan hal yang sama-sama “jahat”. Sehingga tidak mungkin lagi untuk mencapai tujuan Ilmu yang bermanfaat bagi semua makhluk, dan juga mendidik menjadi sebuah tugas Kenabian, tambah Pak Darma, panggilan akrab beliau.

Reporter          : Sidiq Permana
Editor              : Wahyu Dwi Pranata

Powered by Blogger.