Mengangkat Kearifan Lokal dengan Berdagang

Baca Juga


 
ilustrasi dalam persaingan bisnis. apakah indonesia siap?/google image
          Di dunia ekomoni tidak terlepas dari adanya persaingan dalam perdagangan yang membuat para pedangan memutar otak agar dagangannya laku. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menggali potensi para pedagang ataupun pembisnis untuk memajukan usahanya.
Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi menyelenggarakan seminar yangberlangsung di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK).(31/3)
          Menurut Tri handoyo, ketua panitia seminar” LOCAL WISDOM IN ENTERPENEURSHIP bertujuan untuk memperkenalkan budaya dengan benar sesuai dengan syariat islam seta untuk memberikan pengetahuan cara dagang yang benar sesuai dengan tuntunan islam dan memberikan motivasi bagi kalangan muda untuk berani berwirausaha dan juga memperkenalkan batik kudus.
         Fatkhur Rohaman peserta seminar mengatakan,” Acaranya sangat bagus, karena memberikan informasi kepada kita terutama mahasiswa yang tabu tentang adanya batik kudus, dari sini kita tahu bahwa kudus ternyata memiliki batik dan hal tersebut haruslah kita jaga dan kita lestarikan. Selain itu adaya acara ini juga memberikan bekal kepada kami untuk memiliki jiwa kewirausahaan sesuai dengan ajaran islam, materi dari Ir. Zaim Saidi, MPA (Praktisi Mukalimat) dan Yuli Astuti (Pengusaha Muria Batik Kudus).
         Yuli Astuti, mengatakan bahwa mengangkat budaya yang sudah punah dan budaya yang telah tertinggal itu adalah salah satu langkah untuk menghadapi MEA.“menghidupkan kembali budaya kudus yakni batik Kudus yang tak banyak orang tahu, agar dikenal kembali di kab. Kudus adalah salah satu cara dalam menghadapi MEA, kearifan lokal seperti tersebut merupakan suatu nilai tersendiri di dunia perdagangan karena batik memiliki nilai jual yang tinggi dan sangat menjunjung budaya terutama budaya di Kudus” ujarnya.
         Senada dengan Yuli Astuti, Zaim Saidi, beliau mengutip dalam quran yang berbunyi “berdagang dan beribadah dalam posisi sejajar sesuai yang tertulis dalam surat Al jumah ayat 10.Prosedur berdagang haruslah sesuai dengan syariah islam, dalam kajian islam berdagang sama dengan muamalah. Selain melakukan pekerjaan juga harus berbuat kebaikan yang menguntungkan. Dalam islam mengenal adanya riba yakni mengambil yang bukan haknya, tuturnya.”

AYDA/FAKTA
Powered by Blogger.