Peran Akademisi terhadap Sumber Daya Air di Kudus

Baca Juga


 
suasana diskusi privatisasi air di colo/dok. panitia
            Memperingati hari air sedunia,  Pusat Studi Kebjakan Publik (PSKB) Magister Ilmu Hukum (MIH), Universitas Muria Kudus (UMK) berkerjasama dengan MuriaResearch Center (MRC) Indonesia menyelengarakan diskusi jogan muria. Diskusi bertajuk “Air Milik Publik Untuk Siapa?”. Diskusi berlangsung di gedung MIH UMK, senin (30/3). Acara tersebut digalakkan supaya akademisi di UMK turut serta mengkritisi bahwa air harus dilindungi dan dijaga.
           Hal tersebut diungkapkan oleh Supriyono, Dekan Hukum UMK. Dia juga mengungkapkan dalam sambutannya, bahwa pasca putusan mahkamah konstitusi yang membatalkan pasal-pasal UU. No. 7 tahun 2014  tentang sumber daya air. Hal tersebut menyadarkan dan menantang kaum akademisi untuk berani memberikan solusi dan action demi kepentingan bersama “saya mengingatkan, agar diskusi ini bisa berlanjut terutama kepada mahasiswa,” ujarnya.
           Sedangkan peneliti di MRC, Mokhamad  Khasan. Dia menceritakan kondisi air nantinya akan menjadi masalah besar di dunia. Sehingga, diperkirakan 2/3 penduduk dunia akan kekurangan air pada tahun 2050. “Hal ini disebabkan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang berimbas terjadinya kerusakan ekosistem. Dan nantinya akan menjadi  krisis air,”ujarnya.
            Khasan juga mengungkapkan krisis air juga akan dihadapi oleh Kudus, dimana  hasil beberapa penelitian perusahaan air minum daerah dan Intitut Teknologi Bandung (ITB). Kudus akan mengalami krisis air bersih pada tahun 2032.  “Keadaan saat ini, debit air di kawasan Colo  turun dari 7,5 liter per-detik, menjadi 5 liter per-detik. Jika kita tidak cepat bertindak, krisis airlah yang akan terjadi,”ujarnya.
            Senada dengan Khasan, Hidayatullah ketua program studi MIH, mengingatkan bahwa dalam sejarah Indonesia krisis pangan yang meliputi krisis air dapat menjadi pemantik krisis–krisis yang lain, seperti krisis sosial. Dengan demikian jika krisis tersebut tidak segera ditangani dengan baik, krisis yang lain akan bertumpuk-tumpuk.
            Dia juga berharap permasalahan air yang terjadi sekarang, khususnya di Kudus. Untuk dapat diselesaikan semua pihak, baik dari pemerintah ataupun kaum akademisi. Kaum akademisi sangat membantu dalam mencegah krisisnya air dan menjaga air untuk tetap terlindungi. “Kalau hal ini tidak di tanggulagi dengan baik oleh kita sebagai akademisi. Maka akan menjadi permasalahan yang lebih besar,”ujarnya.
Reporter : Sidiq Permana 
Editor     : Ulin Noor Baroroh
Powered by Blogger.