Revolusi untuk TKI

Baca Juga

Sedih ketika mengetahui bangsa Indonesia yang mengais rizki di luar negeri dengan kondisi yang sangat memprihatinkan , ini berarti secara tidak lansung menunjukan bahwa Negara Indonesia kita ini belum mampu memberikan pekerjaan dan rizki yang cukup, dan salah satu jalan lain bagi orang yang kekurangan secara materi yang memiliki tekat yang kuat untuk menjadi TKI, tekat yang kuat ini sayang tidak diimbangi dengan ketrampilan yang cukup untuk bisa beradaptasi di Negara lain
Dan fakta menunjukan banyak  TKI kita di aniaya sampai ada yang di hukum pancung, sebenarnya ini salah siapa, kok sampai nyawa yang dianugrahi oleh sang pencipta di rengut oleh algojo ?
Apa yang seharusnya diperbaiki agar bangsa ini memiliki martabat  di mata internasional, bukan hanya sekedar janji atau omong kosong, seperti pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Sidang ILO soal buruh di Markas PBB pada 14 juni di Jenewa, Isi pidato SBY ini merupakan hembusan angin dari surga untuk bangsa kita khususnya para TKI, tapi sia-sia belaka setelah salah seorang tenaga kerja Indonesia mendapatkan hukuman pancung di Arab Saudi   (alm Ruyati). sungguh ironis, yang perlu di pertanyakan dari sebuah fenomena ini yakni, untuk apa SBY berpidato? Apa hanya sebagai politik pencitraan diluar negeri saja.?
Sebenarnya kalau kita semua ingin memperbaiki kondisi yang bisa dikatakan kacau, mari kita semua dari berbagai golongan harus mengambil sikap, berawalan dari pemerintah terlebih dahulu, pemerintah harus segera memperbaikan merevisi UU No 39 tahun 2004  Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, yang dimana isi tentang perlindungan masih minim sekali.
Berikutnya revolusi di para jasa pengiriman TKI, seharusnya sebelum TKI dikirim  ke luar negeri harusnya TKI itu sendiri dibekali ketrampilan dalam bahasa yang akan dituju, contoh TKI akan dikirim ke Arab maka sebelum kesana seharusnya di beri pengetahuan yang cukup terkait bahasa nantinya. Banyak masalah yang lahir dari tidak kesepahaman bahasa,
Berikutnya revolusi pada diri pelaku TKI itu sendiri. TKI harus memiliki ketrampilan dalam bidang yang akan dilakukan, jika TKI kita banyak yang bekerja di sector informal seperti pembantu rumah tangga, maka kenalkan lah dan beritahu dengan caras dikasih Diklat (pendidikan dan pelatihan) terhadap segala jenis alat-alat yang modern, karena mayoritas para TKI berasal dari Desa yang kurang, bahkan belum tau cara pengunaan alat modern pada semestinya, ini juga bisa menjadi factor permicu kekerasan, contoh,, jika TKI kita tidak dapat menggunakan strika dengan baik yang mengakibatkan baju kesayangan majikan rusak terbakar, pasti majikan itu marah ini salah satu penyebab timbulnya penganiayaan terhadap TKI, menyedihkan bukan.
Ada komponen yang disini sangat penting yakni pendidikan, harusnya ada batas pendidikan untuk para TKI, setidaknya SLTA karena ini mempengaruhi pola pikir seorang TKI untuk dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat, contoh jika seorang TKI lulusan SLTA mungkin jika TKI diperlakukan tidak manusiawi, larinya ke Kedubes (Kedutaan besar) Indoneisa untuk segera mendapatkan protection, dan jika yang bermasalah seorang TKI lulusan SMP,SD bahkan dia tidak pernah menggenyam pendidikan, maka TKI yang pendidikan lemah dia hanya bisa diam dan mengurung diri.
Berikutnya perkenalkan kebudayaan social masyarakat disana agar para TKI kita dapat segera mungkin menyesuaikan diri disana, jika ini semua telah terjalankan ,maka insyaallh segala kemungkinan yang buruk bisa terminimalisir, jadi selalu berdoa dan bekerja dengan baik.

Sugiyarto

Ilmu Hukum
Powered by Blogger.