Berdagang Bertuntunan Syariah

Baca Juga

Pada semiar yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekomoni UMK dengan tema “Local Wisdom In entrepeneurship” yang digelar di gedung auditorium UMK 31-3-2015 dan narasumber Ir. Zaim Saidi, MPA (Praktisi Mukalimat) dan Yuli Astuti (Pengusaha Muria Batik Kudus).
Dalam pemaparan materi yang disampaikan oleh Zaim Saidi, beliau mengutip dalam quran yang berbunyi “berdagang dan beribadah dalam posisi sejajar” sesuai yang tertulis dalam surat Al jumah ayat 10.
“ibadah dan berdagang yakni berdaganglah sesuai dengan ketentuan agama jika agama mengiyakan maka lakukan dan jika sebaliknya maka tinggalkan” ujarnya
Prosedur berdagang haruslah sesuai dengan syariah islam, dalam kajian islam berdagang sama dengan muamalah. Selain melakukan pekerjaan juga harus berbuat kebaikan yang menguntungkan. Dalam islam mengenal adanya riba yakni mengambil yang bukan haknya.
Dalam berdagang jika pembeli mengambil untung dari jual-beli maka diperbolehkan, namun jika dia mengambil untung dari perhutangan maka itu bersifat haram. Rukum jual-beli islam yakni suka sama suka, tunai dan setara dengan setara. Artinya antara penjual dan pembeli saling menyetujui dan saling berimbang tidak ada yang dirugukan satu sama lainnya.
Dan pada jaman sekarang nilai rupiah menurun, itu karena disebabkan oleh melembungnya uang yang dicetak jika uang kertas makin banyak dicetak makan negara akan mengalami kemiskinan karena uang kertas(rupiah) di luar negri tidak berlaku.
“emas dan perak lebih bernilai dari pada uang terbuat dari kertas, karena uang kertas itu adalah sihir yang tidak nampak nilainya dibandingkan dengan emas dan perak” tuturnya.
Pada jaman dahulu Indonesia menggunakan perak dan emas sebagai bahan pembuatan uang kemudia diganti dengan ketas. Nilai perak dan emas lebih tinggi dibandingkan dengan selembar kertas, maka dari itu pihal luar negri tidak mau menerima uang kertas rupiah karena nilainya rendah mereka lebih memilih uang logam perak dan emas.
Tri handoyo, ketua panitia mengatakan “Acara ini merupakan kegiatan pertama kalinya yang di lakukan oleh BEM fakultas Ekomoni.” Ia menambahkan tema itu diambil karena kita ingin mengangkat batik kudus kembali agar dikenal olah para mahasiswa dan yang lainnya dan juga untuk memberikan pengetahuan cara dagang yang benar sesuai dengan tuntunan islam.”
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya dengan benar sesuai dengan syariat islam dam memberikan motivasi bagi kalangan muda untuk berani berwirausaha dan juga memperkenalkan batik kudus.
Acara yang berlangsung di sela-sela kegiatan perkuliahan berjalan dengan lancar dan sangat menarik. Menurut Fatkhur Rohaman salah satu peserta seminar mengatakan “Acaranya sangat bagus, karena memberikan informasi kepada kita terutama mahasiswa yang tabu tentang adanya batik kudus, dari sini kita tahu bahwa kudus ternyata memiliki batik dan hal tersebut haruslah kita jaga dan kita lestarikan. Selain itu adaya acara ini juga memberikan bekal kepada kami untuk memiliki jiwa kewirausahaan sesuai dengan ajaran islam.”




Riska
Powered by Blogger.