Header Ads

Gambar1

Hilma Ayunina, Mahasiswa UMK Dari Medan

Baca Juga

KALEM dan nampak tak suka banyak bicara. Namun ternyata, di balik sosoknya itu, Hilma Ayunina menyimpan impian yang sangat besar bagi masa depannya, yakni ingin memiliki butik sendiri.
Hilma Ayunina (dok, Humas UMK)
Itulah yang dikemukakan mahasiswa baru Universitas Muria Kudus (UMK) yang berasal dari Medan, Sabtu (5/9/2015). Dia mengemukakan, masuk di UMK untuk mempelajari ilmu manajemen, sehingga bisa membuka butik suatu saat nanti setelah lulus.
“Sebelum masuk UMK, saya belajar tata busana di SMK NU Banat Kudus. Saya sudah bisa diseain, dan sekarang ingin belajar manajemen, sehingga ke depan bisa menjadi bekal saya untuk mewujudkan membuka butik sendiri,” kata gadis berkacamata yang berasal dari Jl. Kapten Musim Gg. Jawa No. 73 Medan Helvetiah itu.
Hilma mengaku, kedatangannya dari pulau seberang ke Kudus untuk menuntut ilmu, adalah atas dorongan orang tuanya. “Saya berterima kasih kepada orang tua yang telah memberikan kesempatan terbaik untuk menuntut ilmu di Kudus ini, yakni di SMK NU Banat dan kemudian melanjutkan di UMK,” terangnya.
Putri sulung pasangan Sucipto dan Siti Fatimah pun berkomitmen untuk menunaikan tugas belajarnya sebaik mungkin, sebagai rasa tanggung jawab atas amanat orang tua yang memberikan kesempatan belajarr setinggi mungkin.
“Saya akan belajar sungguh-sungguh, sehingga ke depan bisa menyongsong masa depan dengan lebih baik,” tutur dara empat saudara yang menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Panca Budi Medan dan kemudian melanjutkan studinya di SMPN 19 Medan saat ditemui di sela-sela mengikuti Masa Pengenalan Akademik Mahasiswa Baru (Sapamaba) UMK.
Sementara itu, Sapamaba UMK secara resmi dibuka oleh Rektor Dr. Suparnyo SH. MS. melalui rapat senat terbuka yang diikuti oleh 2006 mahasiswa baru. “Selamat datang kepada mahasiswa baru UMK. Selamat bergabung dengan kampus yang kita banggakan,” katanya dalam kegiatan yang akan berlangsung hingga 8 September itu.
Rektor berpesan agar para mahasiswa baru bisa meningkatkan intelektualitas dan potensinya, apalagi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, tidak sekadar intelektualitas saja yang dibutuhkan. “Soft skill juga sangat penting. Maka, bersungguh-sungguhlah dalam belajar dan meniti karier, karena masa depan Indonesia tergantung pada semangat Anda,” ungkapnya. (*)
Powered by Blogger.