Kemerdekaan Berfikir Ala Tan Malaka

Baca Juga

TAN Malaka jelas bukan Ali Topan, yang bisa dikemas dalam kemewahan panggung diskusi dan untuk kalangan mahasiswa sosialita yang haus hiburan tentang literasi.
Tan Malaka bukan tokoh misterius, namun ada, nyata, dan menjadi pelaku sejarah yang melintasi separoh bulatan bumi, dan kian mewujud di negerinya sendiri. Jika kemudian ia kadang menyembunyikan identitasnya, yang melatari sebutannya sebagai sosok misterius, itu tak lain untuk keselamatan perjuangannya karena tak sedikit musuh-musuh politik yang mengincarnya, baik dari kalangan kolonial, feodal maupun bangsa sendiri yang berbeda ideologi.
Menurut Tan Malaka, logika adalah cara berpikir antimistik dan antidogmatik. Cara berpikir antimistik adalah penolakan terhadap caraberpikir yang bersifat mistis, gaib dan takhayul dalam berpikir. Cara berpikir antidogmatik adalah penolakan terhadap cara berpikir yang bersifat pasif, dogmatik, dan ketergantungan atau ketidakmandirian untuk menentukan keputusan bagi diri atau bangsanya sendiri. Artinya, orang tidak mau berpikir sendiri.
Bagi Tan Malaka, cara berpikir harus berdasarkan materi dan dialektika, atau logika terkait dengan materialisme dan dialektika materialisme. Pertama, logika terkait materialisme adalah cara berpikir mempertimbangkan materi, sehingga dapat dibuktikan. Menurut Tan Malaka, materi adalah benda-benda dan kondisi masyarakat. Materi dapat diketahui melalui pancaindra manusia. Untuk mengetahui materi tersebut, orang akan dibantu oleh metode ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Kedua, logika terkait dialektika materialisme adalah cara berpikir dialektis dan tidak hanya menggunakan prinsip identitas dan non-kontradiksi. Bangsa Indonesia akan mempertanyakan, mempertentangkan (dialektik) dan mengolah segala sesuatu yang diterima dengan akal budinya untuk menjadi hal baru. Dengan demikian, logika Tan Malaka menjadi kritik atas logika mistika, sehingga akan membantu melepaskan dari penjajahan kultural. Dan akan memiliki kemerdekaan dalam berpikir.

Logika dan Tan Malaka
Tan Malaka mengambil Logika sebagai jembatan terakhirnya, bukan Historis. Hal ini disebabkan tesis historis sendiri menurut banyak pihak termasuk Tan Malaka menyalahi aturan dialektika.
Dalam tesis Historis Marx fase pada masyarakat adalah seperti ini komunis primitif, masyarakat hamba sahaya, masyarakat feodal, masyarakat kapitalis, dan masyarakat sosialis. Dan menurut Marx masyarakat sosialis pasti akan menuju masyarakat komunis seiring dengan hilangnya perbedaan dan kelas-kelas di dalam masyarakat.
Tan Malaka mengajak masyarakat Indonesia untuk berfikir logis yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya atau menempatkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas benda tersebut bukan pada prinsip kontradiksi. Bahwa benda A tidak mungkin sama dengan benda yang bukan A. artinya ketika kita berbicara mengenai benda A maka harus berpegang pada benda A tersebut.
Inti dari madilog sendiri adalah mengeluarkan manusia pada penghambaan dan hal-hal yang berbau dogmatis mutlak. sehingga ia menulis di pengantarnya "Kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang minimum sudah mendapatkan latihan otak, berhati lapang, dan seksama serta akhirnya berkemauan keras untuk memahaminya."
Tan Malaka sebagaimana sosok penting lainnya adalah milik semua orang, milik anak bangsa. Bahkan Tan Malaka itu milik kita. Kapan kita membincangkannya dan membaca karyanya. MADILOG.

*) I.K Suro, mahasiswa Sistem Informasi UMK, penggemar karya Tan Malaka tapi tak pernah menyelesaikan dalam membaca karya Tan Malaka
Powered by Blogger.