Header Ads

Gambar1

Mahasiswa Berani Beretorika,Tak Mampu Mewujudkannya?

Baca Juga

RETORIKA adalah suatu gaya/seni berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan.

Dok. BEM Fakultas Psikologi
Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.  Ber-retorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.

Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi informasi).Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia.

Oleh karena itu pembicaraan setua umur bangsa manusia. Bahasa dan pembicaraan ini muncul, ketika manusia mengucapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain.
Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran , kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata – kata yang tepat, benar dan mengesankan.

Ini berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran ; dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek? dalam konteks ini sebuah pepatah cina mengatakan,”orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.”

Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para rektor atau tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum – hukum retorika dan dengan melakukan latihan yang teratur.

Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa. Imam al-Akhdlariy menyebutkan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu disebut hayawanun nathiqun artinya “binatang yang pandai berbicara”,meskipun secara etika sepertinya terlalu berani beliau menyebut manusia dengan binatang.

Demikian pula orang-orang yang mampu mengubah sejarah peradaban dunia, mereka itu pada umumnya sangat piawai dalam mengolah kata dan bermain kalimat.Mulai dari para filusuf Yunani seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato.

Sampai dengan para politikus, dan negarawan seperti Hitler, Musolini, Thomas Aquinas, Montesqueu, hingga negarawan kita yang cukup mahir dalam berorator seperti Bung Karno dan Bung Tomo.

Kita juga tentu sering tertegun menyimak pembicaraan para da’i kondang, seperti KH. Zaenuddin MZ, AaGym, Ust. Jepri Al-Bukhari, dan Ust. Arifin Ilham. Mereka memiliki karakter gaya bicara yang berbeda dan pendengar akan terlena dalam buaian kata-kata indah mereka. Kesimpulannnya adalah bahwa berbicara yang baik dan bermakna akan mengandung kekekuatan spiritual tersendiri.

Kalau kita berbicara tentang mahasiswa yang katanya kaum intelektual bangsa ,maka setidaknya kepandaian dalam berbicara/beretorika haruslah ada dalam diri mereka,karena merekalah yang biasanya punya ide-ide baru karena semangat mudanya masih ada,semua itu dapat dibuktikan dengan adanya kelompok-kelompok diskusi yang mereka lakukan bersama untuk sekedar bertukar pikiran dan pendapat.

Namun banyak dewasa ini mahsiswa yang hanya mampu beretorika,namun relisasi dari retorika mereka nol (tidak dijalankan),mereka banyak yang hanya bisanya berkoar-koar belaka  tanpa mau merealisasikan apa yang mereka koar-koarkan,kalau hal-hal semacam ini tidak dihindari maka hanya teori-teori semata yang kita hasilkan tanpa ada bukti nyatanya, contoh kecil saja dalam diskusi-diskusi yang mereka lakukan sebenarnya isi retorika yang mereka utarakan sangatlah luar biasa,namun sayangnya mereka belum mampu merealisasikan apa yang mereka retorikakan tersebut.

Maka dari itu marilah kita realisasikan retorika yang telah kita koar-koarkan dan beretorikalah akan hal-hal yang sekiranya mampu kita wujudkan,selamat beretorika dan selamat menggoncang dunia dengan merealisasikan retorika anda semua,janganlah hanya mampu menjadi seorang retorikator namun jadilah seorang yang mampu merealisasikan aa yang ada dalam retoika tersebut.

Penulis
Syaiful Huda Ibnu Mas’ud, Penggagas INMA (Insan Mulia)Training center SAR (Sekolah aksara Rahtawu) dan Mahasiswa UMK
Powered by Blogger.