Saatnya Bangunan Berbudaya

Baca Juga

Jika keburukan terulang pada hidupmu mungkin kau masih harus menginstropeksi diri”. Begitu pula matahari yang selalu terbit dari timur dan tenggelam pada sore hari di bagian barat. Seiring pergerakannya banyak sekali terjadi sesuatu yang menarik. Begitu pula yang ada di kampus Universitas Muria Kudus, ada parkiran yang rumpun menyambut dan kebingungan mencari tempat lowong. Ada KTM yang tak kunjung jadi untuk program studi tertentu, ada pula komplain terus-menerus tentang akses wifi yang lemot serta pembatasan waktu pada malam hari.
Wahyu Dwi Pranata/Doc Pribadi
Mulai sekarang, mungkin UMK bisa mengadopsi sebuah konsep bangunan yang multi purpose. Gedung-gedung bertingkat dengan lantai dasar atau basement untuk tempat parkir roda 2 dan lantai dua untuk parkiran mobil serta lantai 3 untuk Kantin yang layak dengan konsep Vertical Garden Building. Lantai empat dan seterusnya digunakan ruang perkuliahan dan atap penutupnya dapat digunakan sebagai Pemancar Internet menuju seluruh sudut kampus UMK. Mengingat jumlah mahasiswa UMK saat ini mencapai sekitar 8 ribu; mereka membawa kendaraan, butuh makan, dan ruang perkuliahan yang hijau dan adem serta self learning melalui mobile internet.
Sebuah Konsep Bangunan Berbudaya
Orang-orang butuh solusi, mereka bilang jangan cuma kritik. UMK sebagai Kampus Kebudayaan harus mulai memikirkan bagaimana visi ini dapat diterjemahkan dalam perilaku dan pemikiran semua civitasnya. Komitmen itu bisa tercermin salah satunya lewat perencanaan pembangunannya. Mari kita lihat, apakah bangunan yang ada di UMK bisa dicategorikan sebagai bangunan yang bernilai budaya? Sebagai pembanding, kota Kudus punya Menara Kudus yang lekat dengan kesan akulturasi budaya. Jawa Tengah dengan Borobudur yang pernah masuk dalam 7 keajaiban Dunia. Indonesia memiliki Batik sebagai Warisan budaya tak benda yang disahkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Lalu apa penciri UMK sebagai kampus kebudayaan (culture university) ? dan kebudayaan semacam apa yang diharapkan sebagai penciri UMK ; apakah kebudayaan kebendaan, atau kebudayaan berperilaku.
Pemahaman UMK sebagai culture university harus diperjelas, dipertegas, dan dikawal pelaksanaannya. Pengintergrasian dari berbagai bidang untuk menyelesaikan sesuatu akan membentuk UMK menjadi kampus dengan budaya efisiensi (culture of efficiency). Dimulai dari hal yang fundamental (baca: pemikiran), sampai pada aksi/tindakan yang nyata.
Untuk mendapatkan perilaku yang efisien, dibutuhkan tingkah laku yang dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun. Setiap tahun masih bingung mencari tempat parkir ? setiap tahun masih sering jajan di warung depan kampus ? setiap tahun masih ada masalah dengan cetak KTM ? Jika masih maka itu akan menjadi budaya.

Mahasiswa yang ingin Kampus UMK bisa maju
Powered by Blogger.