Deteksi dan Penanganan LGBT

Baca Juga

Fakultas Psikologi Univeristas Muria Kudus telah melaksanakan kuliah umum yang mengangkat materi “Deteksi dan Penanganan LGBT (Lesbian Gay Bisexual dan Transgender)”. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Seminar Gd. Rektorat itu meghadirkan pembicara Kusumawijaya Paputungan dari Jogja (23/03).
Foto : Mahasiswa tengah mendengarkan penjelasan dari Bp. Kusumawijaya dalam kuliah umum F.Psi

Dalam kuliah umum tersebut mahasiswa diajak untuk berbagi ilmu mengenai dunia orientasi non-heteroseksual khususnya LGBT. Ia memaparkan bahwa seseorang yang termasuk dalam masalah seksual LGBT harus didampingi, bukan dijauhi. “Kebanyakan saat kita tahu bahwa orang itu memiliki ciri-ciri seorang lesbian/gay justru dibully. Padahal dari hati terdalam mereka, mereka tidak ingin menjadi seseorang yang keluar dari fitrah manusia semestinya. Hal yang harus kita lakukan adalah mendampinginya, jadilah sahabat yang peduli untuk meluruskannya” ujar wakil ketua yayasan Peduli Sahabat Kusumawijaya Paputungan.
Berdasarkan data temuan dari yayasan peduli sahabat, ada sebanyak 2 : 35 dari total keseluruhan penduduk Indonesia yang termasuk LGBT. Menurut Kusumawijaya, waktu awal seseorang untuk mengarah ke LGBT bisa terjadi saat Balita. “Umur Balita merupakan titik awal berbelok, misalnya dari figur yang ia lihat serta pola asuh yang salah. Umur 6-10 tahun merupakan masa penguatan akan fitrahnya melalui lingkungan dan pengalaman. Umur 11-14 tahun masa kebingungan dan penguatan. Umur 15 tahun ke atas masa pengkristalan” jelasnya. Keterangan tersebut ia dapatkan dari banyak klien yang berkonsultasi dengannya. Tanda-tanda seorang LGBT dapat dideteksi dari sifatnya yang sering menyendiri, namun tidak bisa diglobalkan bahwa penyendiri adalah LGBT.
Faktor-faktor yang turut membentuk LGBT dapat dipengaruhi dari film yang ditonton, rasa keingintahuan tinggi, pemilihan kegiatan, self hipnotis sampai yang secara terang tergabung dalam kelompok LGBT. Hal terpenting jika mengetahui seseorang yang termasuk dari LGBT dan mau berubah, maka jadilah sahabat yang peduli seperti jargon dari yayasan Peduli Sahabat “Menjadi Sahabat, memberi informasi, pendampingan dan konsultasi,” tutur Kusuma.(IN, Saya/Thata/Pena Kampus Online)
Powered by Blogger.