Header Ads

Gambar1

Mengenal Situs Patiayam Kudus

Baca Juga

BERADA di Kota Kudus, Jawa Tengah, akan sayang jika kita tidak mengunjungi dan menyempatkan diri ke Patiayam. Di tempat ini ada situs purba Patiayam yang terletak di Pegunungan Patiayam, Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Situs Patiayam merupakan bagian dari Gunung Muria.
Ilustrasi : Salah satu fosil yang ada dalam museum Patiayam (istimewa)
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pena Kampus, Universitas Muria Kudus, Sabtu (26/11), mengunjungi situs ini. Ini merupakan salah satu upaya peserta LPM untuk belajar membuat reportase tentang situs Patiayam.
Mustofa, juru kunci situs, menjelaskan, situs Patiayam memiliki persamaan dengan situs purba lainnya, seperti Sangiran, Trinil, Mojokerto, dan Nganjuk. Keunggulan situs Patiayam adalah fosilnya utuh karena tertimbun abu vulkanik halus.
Saat kami menjelajahi area Patiayam, terlihat di wilayah sekitar situs tidak ada sungai besar sehingga fosil tidak berpindah lokasi karena erosi. Keadaan ini berbeda dengan situs purbakala di tempat lain. Biasanya fosil ditemukan pada endapan sungai.
Situs Patiayam merupakan kubah (dome) dengan ketinggian puncak (bukit Patiayam) sekitar 350 meter di atas permukaan laut. Di sini terdapat batuan dari zaman Plestosen yang mengandung fosil vertebrata, dan manusia purba yang terendap di sungai dan rawa-rawa.
Masih menurut Mustofa, sejak 2 Oktober 2005, pemerintah menetapkan lokasi ini sebagai kawasan benda cagar budaya. Penetapannya melalui Surat Keputusan Kepala Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah nomor 988/102.SP/BP3/P.IX/2005.

Penemuan situs
Mustofa juga menunjukkan beberapa temuan dan sejarah penemuan situs Patiayam. Situs tersebut pertama kali ditemukan tahun 1979 oleh Dr Yahdi, ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung. Pertama kali Yahdi menemukan sebuah gigi geraham dan tujuh pecahan tengkorak manusia purba. Tiga tahun kemudian, 1982 ditemukan gading Stegodon sepanjang 3,5 meter dan geraham manusia oleh warga yang sedang mencangkul di tegalan di perbukitan Patiayam. Pada 2002 warga kembali mendapatkan beberapa temuan.
Pada 2005 di lubang galian pasir berukuran 2 x 1,5 meter kembali ditemukan serpihan fosil. Penemuan ini berjarak sekitar 100 meter dari lokasi penemuan sebelumnya. Warga menyebut fosil tersebut sebagai Watu Butho (batu raksasa), karena ukuran fosil yang besar dan keras.
Penemuan terakhir terjadi pada penggalian tahun 2007. Pada penggalian ini ditemukan gading Stegodon trigonocephalus dengan panjang 3,7 meter.
Selain sejarah penemuan, terjadi dua kali perpindahan tempat penampungan fosil situs Patiayam. Tahun 2008- 2010 semua fosil temuan diletakkan di rumah Mustofa yang sekarang menjadi juru kunci situs Patiayam.
Maret 2010 sampai kini, fosil–fosil tersebut dipindahkan ke klinik desa yang digunakan sebagai museum sederhana.
Dengan semakin banyaknya fosil yang ditemukan, perlu segera dibangun museum khusus sebagai tempat penampungan fosil Patiayam. Dengan demikian, fosil purba berusia 700.000-1 juta tahun itu punya tempat layak.
Lewat cara itu diharapkan Patiayam, yang merupakan situs prasejarah, dapat menjadi lahan penelitian dan ekskavasi yang tetap terjaga. Situs Patiayam ke depan bisa menjadi tujuan para akademisi untuk melakukan penelitian sekaligus menjadikan kawasan itu tetap lestari.

Imam Khanafi Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Pena Kampus, Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah

Dimuat di Kompas, 13 Desember 2011
Sumber : internasional.kompas.com
Powered by Blogger.