Header Ads

Gambar1

Menipisnya Air Kehidupan

Baca Juga

DALAM rangka memperingati hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret lalu, hari Kamis 24 Maret 2016 BEM fakultas pertanian UMK mengadakan diskusi umum. Dengan dihadiri para mahasiswa UMK dan umum, acara ini berlangsung dengan sukses. Bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti MRC, para fotografer lokal, dan media-media cetak yang ada di Kudus.
Istimewa
Acara diskusi umum ini digelar sebagai rasa introspeksi diri bagaimana kita menggunakan air. Air, sebagai sumber daya alam yang sangat vital bagi kehidupan jika digunakan berlebihan akan habis dan kita akan susah mencari gantinya. Juga sebagai ajang untuk menyadarkan khalayak umum bahwa ketersediaan air di sekitar mereka (baca: Kudus) sangat memprihatinkan. Banyak dari masyarakat yang telah mengetahui bahwa sumber-sumber air di Kudus telah dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan air minum. Namun mereka diam seribu bahasa tanpa melakukan suatu tindakan. Jika musim kemarau tiba dan kekeringan telah terjadi mereka saling mensalahkan berbagai pihak.
Menurut Presiden BEM Fakultas Pertanian UMK M. Unggul Budiharjo, acara ini digelar sebagai rasa prihatin terhadap ketersediaan air di Kudus yang banyak di eksploitasi dan memberikan edukasi pada kaula muda dalam menggunakan air, menghemat air saat ini lebih baik daripada kekurangan air saat membutuhkan. “Untuk semuanya, berpikirlah terbuka pada sekitar kita, manfaatkanlah air sebaik-baiknya dan jangan dieksploitasi, dan jangan menjadi pribadi yang individual,” pesan Unggul kepada peserta seminar.
Acara diskusi ini dibuat dengan konsep sangat santai, dengan penataan kursi yang berbentuk setengah lingkaran, meja narasumber berada ditengah-tengah namun tidak monoton, dan saat pertama kali masuk ruangan peserta diskusi disuguhi foto-foto penampakan alam disekitar kita. Dari yang sangat indah hingga yang sangat perlu perhatian dan tindakan.
Dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten dibidangnya, seperti dari Kementrian Agraria, Sukono sang pemerhati lingkungan daerah Rahtawu, dan dihadiri pula direktur MRC yang menyajikan data-data rill di lapangan. “Diskusi ini sangat bermanfaat bagi banyak pihak, dari yang tidak tahu apa yang terjadi di lapangan menjadi tahu, apa yang harus dilakukan dan perilaku  apa yang harus ditinggalkan. Dari yang tidak peduli dan tidak sadar menjadi peduli dan sadar pada lingkungan,” ungkap Ayu salah satu peserta seminar. (Iim/ Thata/Fakta)
Powered by Blogger.