Header Ads

Gambar1

Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Baca Juga

“Seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya”, itulah kiranya kepribadian anak yang juga tak jauh beda dari bagaimana cara orang tua mendidiknya . “Penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak” adalah bagaimana upaya keluarga menjalankan perannya sebagai pendidik. Yang memberikan pengarahan, pengendalian serta pengawasan dalam mendidik anak, khususnya pada sosialisasi kepribadian yang mengarah pada perkembangan sosio-emosionalnya.
            Penerapan cara mendidik anak dari masing-masing orang tua tentu memiliki gaya yang berbeda, yang nantinya akan berpengaruh besar bagi perkembangan anak. Namun point terpenting dalam hal tersebut adalah, tidak berlebihan memberikan kasih sayang dan tidak pula kurang dalam memberikannya. Dalam kata lain berikanlah secara proporsional. Ada kalanya orang tua harus tegas pada anak, dan ada kalanya orang tua memberikan sikap lemah lembut padanya. Masalah apapun itu, usahakanlah agar tidak  berkata kasar atau marah pada anak sampai melewati batas wajarnya.
            Carilah jalan lain jika anak memang benar melakukan kesalahan, seperti memberikan pengertian padanya, bahwa apa yang ia lakukan adalah suatu kesalahan, maka yang seharusnya ia lakukan kedepannya ialah tidak mengulanginya kembali, katakan dampak logis yang akan ia terima dari perbuatannya, agar ia pun mengerti dan berintropeksi diri. Hal yang perlu di ingat bagi para orang tua yakni, “Penerapan cara mendidik yang keras dan kasar akan berdampak negatif bagi perkembangan mental dan sosio-emosional anak”.
            Tanamkanlah pendidikan moral atas dasar agama, maka yang demikian itu adalah upaya terbaik keluarga agar dapat membangun pondasi kuat bagi kepribadian anak.
Kita bisa meniru metode Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra dalam mendidik anak berdasarkan pada tahap perkembangannya, yakni:
·    Fase 7 tahun pertama
Terjadi pada usia 1-7 tahun. Dalam fase ini jadikanlah anak sebagai “raja”, dalam artian, orang tua memberikan pelayanan yang baik untuk anak, meladeni segala hal yang dibutuhkannya, jangan memberikan contoh- contoh negatif pada anak, karena pada tahap ini daya rangsang otak anak mulai sempurna dan cepat menerima apa saja yang ia tangkap melalui panca indranya.
                    Fase 7 tahun kedua
   Terjadi pada usia 8-14 tahun. Jadikanlah anak sebagai “tawanan”, yakni didiklah dengan pengawasan ketat serta terapkanlah peraturan tegas dan penuh komitmen. Seperti sabda Rosulullah SAW, yang di dalamnya menerangkan bahwasannya, jika sampai pada usia tujuh tahun anak masih saja meningggalkan sholat, maka hendaklah dipukul (dengan tujuan mendidik).
   Pada tahap ini, anak mulai bisa membedakan sesuatu yang baik dan buruk. Anjuran bagi para orang tua yakni, membiasakannya melakukan hal- hal yang bersifat mandiri. Kita dapat memberi reward bila ia melakukan suatu hal bersifat prestatif, atau menghukumnya bila melakukan kesalahan. Namun jangan sekali-kali menjanjikan reward bila memenuhi apa yang kita perintahkan, karena hal ini dapat membentuk pribadi yang pamrih pada anak.
·         Fase 7 tahun ketiga
   Yang mana terjadi pada usia 15- 21 tahun, dalam fase ini jadikanlah anak sebagai “sahabat”, sebab pada tahap ini anak cenderung mencari kenyamanan, tak ayal jika yang sangat dibutuhkannya adalah seseorang yang dapat mendengar curhatnya, menjadi sandaran bila ia membutuhkan solusi, dan menjadi pendengar setia saat di rundung masalah, meski tidak semua permasalahan kita dapat memberi solusi. Bagi para orang tua berusahalah mengontrol puncak labilitasnya. Belum lagi pada masa- masa ini juga, ia dalam pencarian jati dirinya.
   Hal yang menjadi penunjang tahap-tahap tersebut adalah menanamkam pokok- pokok Islam yang bersumber dari Al-qur’an, seperti yang telah tersebut dalam hadist yang diriwayatkan  Bukhari dan Muslim: “Sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar Al-qur’an dan kemudian mengajarkannya”. Contohnya yakni: pendidikan akidah, ibadah dan akhlaqul karimah.
   Satu pernyataan dari sahabat Umar bin Khatab RA : “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”. Bukan membandingkan dengan 14 abad silam atau 30-40 tahun dari Indonesia sekarang ini, maka orang tua harus menyesuaikan kondisi.
   Hindari menanam atau memberi contoh apapun dari budaya kebarat-baratan, meski suguhan gadget yang sewaktu- waktu anak nikmati. Namun, sebagai orang tua yang bijak, hendaklah memantau apa- apa saja infomasi yang ia tangkap di kesehariannya. Mensortir kembali pergaulan lain di sekelilingnya, teman bermain dan lingkungannya. Tetapkan kesepakatan schedule pada 24 jam aktivitas hariannya, meluangkan 15- 30 menit yang kita punya sebagai media evaluasi kesibukan hariannya. Ciptakan keharmonisan dengan anak sebaik- baiknya, agar anak pun terbuka dan tidak berpaling ke tempat curhat lain selain daripada orang tuanya.
   Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi orang tua dalam mendidik anak, sebagai upaya mencetak generasi berkualitas dan tangguh (Generasi Rabbani).
Wallaahu A’lam bi ash-Shawaab.

oleh : Fadia Khizzahul Fitryah
Powered by Blogger.