Header Ads

Gambar1

Tahun Baru Hijriyah “Bukan untuk Pesta”

Baca Juga

PENA KAMPUS-Pergantian tahun hiriyyah 1438 H baru saja beberapa hari berlalu. Begitu juga dengan datangnya bulan Muharram yang mulia. Mungkin sebagian umat muslim tidak terlalu menganggap hal ini sebagai momen yang sangat penting. Wajar saja hal ini terjadi karena system penanggalan yang lahir terlebih dahulu adalah sistem kalender Masehi (berdasarkan perputaran Matahari), jadi meskipun orang Indonesia memiliki kalender Jawa, namun kalender Masehi lebih dipilih karena lebih populer sehingga perayaan tahun baru justru lebih ramai pada tahun baru Masehi. Lalu, bagaimana cara umat muslim untuk merayakan tahun baru Hijriah?
Zamhuri pengurus Masjid Darul Ilmi/Istimewa
Bukan dengan tiupan terompet, gemerlapan kembang api, menunggu detik 00.00 WIB ataupun beramai-ramai di pusat alun-alun kota pada umumnya. Tahun baru Hijriyah merupakan momen Muhasabah (instropeksi) bagi seorang muslim akan kesalahan-kesalahannya pada tahun yang telah berlalu. Maka hal yang harus dilakukan adalah memperbanyak ibadah, terlebih pada bulan Muharram ini mengingat bulan Muharram adalah bulan mulia kedua setelah bulan Ramadhan. Selain Puasa Tasyu’a ‘Asyura masih banyak amalan-amalan yang dianjurkan seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin, sholat malam, dan memperbanyak berdzikir. Meskipun beberapa amalan atau tradisi diatas bisa dilakukan pada bulan yang lain, namun menurut Rasulullah bila dilakukan pada bulan Muharram akan lebih mulia. Jadi semakin bertambahnya waktu yang kita habiskan, harus disertai dengan peningkatan amal yang kita kerjakan seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya (tidak bisa memanfatkan waktu)”. Jadi , panjang umur disini bukan berarti orang yang umurnya sampai ratusan tahun, namun orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Orang yang bijaksana akan menempatkan bulan Muharram untuk menata dirinya agar lebih baik dan lebih baik lagi.
Sebagai mahasiswa Universitas Muria Kudus yang cerdas dan santun sudah sepatutnya kita selalu meningkatkan nilai spiritual kita. Tidak hanya itu, mahasiswa adalah seorang pemuda yang memiliki kesempatan total untuk terus belajar mengasah dirinya mencari jati diri dan memantaskan diri. Bukan hanya dari sisi kecerdasan, kemampuan, dan juga emosionalnya namun juga baik dari pandangan sang Khaliq-Nya. Untuk itu para mahasiswa harus pintar-pintar memilih kegiatan rutinitasnya agar tujuan yang akan tercapai tidak mengurangi etos kerja dan juga etos imannya. Intinya adalah ‘Pikir dan Dzikir’.  Bila kita mampu mnyeimbangkan keduanya, maka hal ini adalah modal utama yang sangat berguna saat seorang mahasiswa lulus dari perguran tinggi.” Tutur Zamhuri, S. Ag. Pengurus Masjid Darul Ilmi UMK. (Amrita/Thata/FAKTA)
Powered by Blogger.