Header Ads

Gambar1

Hoshi (Bintang)

Baca Juga


Seperti biasa aku, Lia, Sasa dan Vina menyusuri lorong-lorong Kelapa Gadhing Squere, ini merupakan kegiatan kami sehari-hari setiap pulang dari sekolah. Nongkrong di CafĂ© Ben’s yang berinterior khas Negara Perancis atau hanya sekedar jalan-jalan berkeliling. Itulah ritual kami sehari-hari selepas pulang dari sekolah.
“Hoshi-chan..” teriak seseorang, seperti memanggilku, tapi siapa? Aku mencoba mencari asal suara tersebut. Dia berlari menghampiriku.
“Siapa, Bin?” Tanya Lia, Sasa dan Vina berbarengan. Aku hanya menggeleng, aku mencoba mengingat-ingat. Gadis kecil yang memanggilku sudah berdiri di depanku dan tersenyum.
“Imut banget” celetuk Sasa
“Hoshi-chan..” ucap gadis itu lagi masi dengan tersenyum. Aku masih mengingat-ingat, ku tatap wajah gadis kecil itu. Akupun sampai duduk agar tinggiku setara dengan gadis itu.
“Eemm… Adek siapa ya?” tanyaku. Aku benar-benar tak tau siapa gadis kecil ini.
“Bintang?” ucap seorang cowok yang tiba-tiba sudah di belakang gadis kecil itu.
“Hitaro?” seketika aku kaget melihat cowok yang ada di depanku, sontak aku langsung berdiri.
“Tampannya!” puji Lia pada Hitaro
“Cool” tambah Vina
“Perfect” ucap Sasa. Hitaro yang melihat ekspresi teman-temanku hanya tersenyum.
“Hitaro-chan…” ucap gadis kecil itu pada Hitaro.
“Oh my god! This is Yui?” tanyaku. Gadis kecil itu mengangguk.
Hitaro adalah teman kecilku, tapi sekarang dia tinggal di Osaka, Jepang, karena orang tuanya dipindah kerja kesana dan mengharuskan semua untuk pindah. Jadi kita hanya ketemu kalau dia sedang liburan ke Indonesia ataupun aku yang berkunjung ke Jepang.
“Hisashiburi, Bintang” ucap Hitaro padaku. Yang artinya lama tak jumpa.
“Kok gak bilang-bilang kalo mau ke Indonesia?” tanyaku pada Hitaro
“Maunya sih bikin kejutan, tapi…” dia memutar bola matanya
“Tapi apa? Udah ketemu di sini” aku menebak ucapan Hitaro
“Yapz” jawabnya. Sambil tersenyum kepada teman-temanku.

Akupun  memperkenalkan Hitaro pada teman-temanku dan merekapun langsung akrab. Akhirnya setelah ritualku dan kawan-kawan selesai, akupun langsung pulang tentunya bersama Hitaro dan Yui. Jam 19.15 WIB kami sampai di rumah.
“Konbanwa (selamat malam)” sapa Yui pada Papa dan Mamaku.
“Konbanwa Yui-chan” jawab Mamaku yang langsung memeluk dan menciumnya.
“Bagaimana kabarnya Hitaro?” Tanya Papaku
“Baik, Om” jawabnya.
Malam ini rumah menjadi ramai karena ada Hitaro dan Yui. Seneng deh.
“O ya, liburan berapa hari di sini?” tanyaku pada Hitaro
“Seminggu” jawab Hitaro
“Kok sebentar?” ucapku kecewa.
“Ayo makan malam dulu” ucap Mama yang sudah berdiri di meja makan, kamipun menuju ruang makan. Yui yang melihat masakan Mama nampak senang.
“Itadakimasu (selamat makan)” ucap Yui sambil melahap makan malam. Aku, Mama, Papa dan Hitaro hanya tersenyum. Setelah makan malam selesai, Hitaro dan Yui berpamitan untuk pulang.
“Kenapa nggak nginap di sini saja?” tanya Mama
“Maaf tante, mungkin lain kali” jawab Hitaro, sedangkan Yui mulai ketiduran di gendongan Hitaro.
“Ya sudah om anterin” ucap Papa. Aku masih kecewa karena masih kangen dengan Hitaro.
“Bin, jangan cemberut dong, besok kita jalan-jalan. Okey” ucap Hitaro padaku
“Uso (bohong)?!” jawabku
“Aku serius” ucapnya. Papa mengantarkan Hitaro pulang.
“Bin, Hitaro tambah tampan ya” tanya Mamaku padaku
“Biasa aja” jawabku mengelak
“Uh… Yang bener? Udah setahun ya kalian nggak ketemu, pasti kamu kangen banget” Mama menggodaku.
“Apaan sih ma” pipiku memerah gara-gara ucapan mama.
“Oh iya ma, masak Yui tadi panggil namaku Hoshi-chan” aku mulai teringat dulu waktu kecil juga ada yang memanggilku seperti itu.
“Hoshi itu kan artinya Bintang. Dulu Hitaro yang sering memanggil kamu seperti itu sampai kamu ngambek” ucap mama sambil senyum-senyum memandangiku.
“Oh ya? Lupa tuh aku” akupun meninggalkan mama dan menuju kamarku.
******

“Bintang!” panggil Lia dan Sasa.
Akupun menoleh, “Mana Vina?” tanyaku, biasanya mereka bertiga berangkat bersama-sama ke sekolah.
“Katanya ke toilet dulu, ya udah kita masuk ke kelas duluan, pasti ntar juga muncul” ucap Lia.
“Yuk” jawabku dan Sasa. Masih di depan ruang kelasku, Vina sudah teriak-teriak manggil namaku “Bin! Bintang! Bintang!”. Dia berlari sampai ngos-ngosan.
“Ada apa sih Vin?” tanyaku penasaran, nggak seperti biasanya Vina panggil namaku samapai teriak-teriak.
“Ikut aku” ajaknya. Aku melihat Lia dan Sasa, mereka hanya mengangkat bahu yang artinya juga tak tau maksudnya.
“Kemana?” tanyaku, tapi Vina tak menjawab dia tetap menarik tanganku dan membawaku kearah Toilet. Lia dan Sasa mengikuti kami dari belakang.
“Lihat itu!” ucapnya sambil nunjuk seseorang yang sedang berduaan di dekat Toilet cewek.
“HERU!!!” teriakku melihatnya yang sedang berduaan dengan cewek. Haiiiissh… cowok itu langsung kelabakann melihatku. Akupun menghampirinya.
“Kamu ngapain di sini?!” tanyaku pada Heru yang tak lain adalah pacarku.
“Enggak ngapa-ngapain kok yank” jawabnya mengelak, sedangkan cewek di sampingnya memukul bahu Heru.
“Hah, nggak ngapa-ngapain, berduaan di Toilet!” ucapku, aku marah dengan sikap Heru. Katanya setia tapi selingkuh.
“Kita Putus!” ucapku pada Heru
“Tapi yank…” belum selesai dia ngomong, aku pergi meninggalkannya diikuti Lia, Vina dan Sasa.

Sesampai di kelas, aku langsung duduk dibangkuku. Menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Bintang, yang sabar ya” ucap Sasa. Lia dan Vina mengangguk.
“Iya, Bin” timpal Vina.
“Heru itu emang cowok pembohong!” ucapku sambil menangis
“Udah dong Bin, jangan nangis. Kalau kamu nangis kita ikutan nangis lho” ucap Vina yang menahan nangis. Akupun menghela nafas dan berusaha tegar, mungkin ini yang terbaik. Ini yang kedua kalinya Heru selingkuh dan hari ini aku berani putusin dia. Hampir 1 tahun lebih aku pacaran dengan Heru, aku pacaran dengannya saat kami satu kelas di kelas 11, tapi sekarang kami tak satu kelas.

Gurupun masuk ke kelas, acara sedih-sedihannya udah kelar, sekarang waktunya mengikuti pelajaran.
“Bintang, kerjakan soal no 1 di papan tulis” pinta Bu Prita. Tiiiiiiiiiidaaaakk…!!! teriakku dalam hati, aku tak suka pelajaran Matematika apalagi suasana hati lagi galau.
“Bu, biar saya aja yang kerjain” Sasa menawarkan diri
“Kalau Bintang yang kerjain, nanti gak selesai-selesai bu” timpal Vina.
“Ya sudah Sasa kamu yang maju ke depan” ucap Bu Prita. Sasapun maju ke depan sambil menatapku, akupun meringis menatapnya.
“Oh iya, cowok yang kemarin kemana?” tanya Vina saat kami ngumpul di kantin sekolah.
“Hitaro, ya di rumahnya lah” jawabku
“Cakep banget ya” ucap Sasa seakan-akan sedang membayangkan wajah Hitaro.
“Bukannya dia seumuran dengan kita?” Tanya Lia
“Nggak. Dia udah kuliah, 2 tinggkat di atas kita” ucapku dengan nada tak semangat karena kejadian tadi pagi.
“Oooohh” seru Sasa dan Vina
“Udah deh Bin, lupain Heru, gak perlu mikirin cowok kayak gitu” kata-kata yang keluar dari mulut Lia memang selalu bijak nggak kayak Sasa dan Vina. Aku hanya menganguk mengiyakan ucapan Lia.

Seusai sekolah aku, Lia, Sasa, dan Vina berencana melakukan aktivitas ritual kami. Menghilangkan kegalauan gara-gara Heru. Aku sudah bersiap-siap naik mobil Lia. Tiba-tiba Hitaro nongol di depan sekolah, mau tak mau aku nggak jadi naik mobil.
“Haiii” sapa Sasa pada Hitaro sambil melambaikan tangannya. Tapi Lia menyenggol Sasa agar gak malu-maluin lebih parah. Hitaro hanya tersenyum melihat ulah Sasa.
“Ngapain kamu di sini?” tanyaku
“Jemput kamu lah” jawabnya
“Tapi aku kan nggak minta dijemput” protesku dengan nada sebal (sebal karena galau bukan sama Hitaro).
“Kayaknya kamu lebih baik pulang sama Hitaro aja deh Bin” ucap Lia sambil menatapku.
“Nggak ah, aku mau refreshing” aku masih menggerutu.
“Duh Bin, putus aja galaunya tingkat final” celetuk Sasa.
Haiiiisssh, ember banget sih Sasa. Akupun melotot kearah Sasa.
“Oh, jadi lagi patah hati” hahaha Hitaro tertawa
“Bukan urusanmu!” kupelototi juga Hitaro. Akhirnya dia berhenti tertawa.
“Dasar anak kecil” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ah… pengen” ucap Sasa yang merasa iri
“Udah, ayo kita masuk mobil” ucap Lia sambil menarik Sasa dan Vina yang masih terpana dengan Hitaro. Aku hendak mengikuti Lia.
“Eiiistt… kamu sama Hitaro aja, byee” ucapnya sambil menutup pintu mobil dan berlalu meninggalkanku. Huuuuuuffftt, nyebelin…
“Ayo” ajak Hitaro sambil memegang tanganku. Aku hendak melepasnya, tapi kulihat ada seseorang yang sedang menatapku yang tak lain adalah Heru, akhirnya kubiarkan saja Hitaro menggandengku.
“Her, siapa tuh yang sama Bintang?” tanya Bilo teman Heru.
Nggak tau” jawabnya
“Pacar barunya mungkin” timpal Bima. Heru terlihat marah dan meninggalkan teman-temannya.

*****

Aku dan Hitaro jalan-jalan ke taman kota. Hitaro masih memegangi tanganku, sesekali dia juga menatapku. Aku hanya dapat membalasnya dengan senyuman. Kangen masa-masa seperti ini, setiap bersaman Hitaro perasaanku jadi tenang.
“Kamu beneran putus?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk.
“Masalahnya?” aku menatapnya.
“Oke, aku nggak akan bahas” ucapnya lagi dengan tersenyum.
“Selingkuh” jawabku
“Siapa?” tanyanya lagi
“Ya dialah!” ucapku dengan nada tinggi.
“Hehehe” dia malah tersenyum.
“Duduk situ yuk” ajakku, menunjuk sebuah kursi.
Ayo” ucapnya sambil melambai-lambaikan tangan kami yang bergandengan. Akupun melepaskan genggamannya dan duduk. Aku masih merasa galau, terdiam cukup lama tak ada pembicaraan dengan Hitaro.
“Aku akan menghapus semua kenangan burukmu” ucap Hitaro sambil melambaikan tangannya di depan wajahku seperti sedang bermain sulap, tetapi seakan-akan dia benar-benar menghapusnya. Akupun tersenyum. Lalu Hitaro memelukku. Nyaman sekali.
“Arigato gozimasu (terima kasih)” ucapku pada Hitaro, dia mengelus-ngelus rambutku.
“Iya” ucapnya.

Hari-hariku bahagia sekali saat bersama Hitaro, tapi sayang dia nggak bisa lama-lama di Indonesia. Kenapa sih kita harus terpisah oleh jarak dan waktu. Jujur saja aku suka dengan Hitaro, apalagi sikapnya yang baik dan perhatian. Lia pernah bilang kalau Hitaro mungkin menyukaiku, tapi apa mungkin? Mungkin saja dia anggapku cuma sekedar adik. Ini hari terakhir Hitaro di Indonesia, sangat berat melepasnya pergi padahal aku kan bisa menemuinya saat liburan nanti. Aku duduk di pinggir kolam belakang rumahku, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Hitaro” ucapku. Dia ikutan duduk di sampingku, memainkan air dengan kakinya.
“Hari terakhir ya?” ucapku lagi, kutatap pantulan wajahku di kolam.
“Tapi, owakare ja nai yo ne?” ucapnya. Maksudnya ‘Bukan perpisahan kan?’. Aku hanya menatapnya, aku tak pintar bahasa jepang tapi aku masih bisa mengerti apa yang diucapkan Hitaro.
“Bintang, suki desu (Bintang, aku suka kamu)” ucap Hitaro
“Aku juga suka sama kamu Hitaro” jawabku
“Anata ni aete yokatta, Hoshi-chan” (aku bahagia bisa mengenalmu) aku tersenyum mendengar Hitaro memanggil namaku Hoshi-chan.
Watashi mo” (aku juga) ucapku. Aku sangat sangat bahagia karena bisa mengenalmu Hitaro.
“Kimi no koto waserenai yo” (aku tidak akan melupakanmu) kata-katanya so sweet.
“Hontou?” (benarkah?) tanyaku memastikan ucapannya. Hitaro memelukku. Mungkin ini udah membuktikan semuanya.
“Aku mau ngelanjutin kuliah ke Jepang biar kita tetep deket” ucapku
“O ya? Emang om sama tante ngizinin?” tanyanya, aku sedikit berfikir.
“Pasti boleh” ucapku mantap
“Oke, matte iru yo” (aku tunggu ya) ucapnya. Aku benar-benar ingin selau bersama Hitaro.



***Fin***

Foto:

Nama                                 : Chusnush Sholichah
Jenis Kelamin                   : Perempuan
Agama                               : Islam
Tempat Lahir                   : Kudus
Tanggal Lahir                   : 17 Oktober 1995
Alamat                               : Langgar dalem 312 Kudus
Status                                 : Mahasiswa Fakultas Psikologi UMK Semester 5
Powered by Blogger.