Header Ads

Gambar1

Menyoal Minat Baca Mahasiswa Kita

Baca Juga

TRADISI lisan saat ini jauh lebih berakar dalam masyarakat. Mungkin ungkapan tersebut menjadi benar adanya. Tapi ada sebuah ungkapan “Bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca. Dengan makin banyak membaca, seseorang akan sa-dar pengetahuan yang dimilikinya masih sangat kurang. Orang yang bisa membaca, tapi tidak mau membaca, sama saja dengan orang buta huruf”.

Istimewa

Bagaimana dengan mahasiswa kampus kita (UMK)? Bisa dibilang minat baca mahasiswa rendah akibat belum membudayanya gemar membaca. Hal itu juga disebabkan rendahnya minat menuntut ilmu. Umumnya mahasiswa kita kuliah hanya untuk mencari ijazah saja, bukan mencari ilmu.
Membaca bukanlah sesuatu yang otomatis tumbuh sendiri. Ia adalah kebiasaan.
Sekarang kita lihat di sekitar kita banyak mahasiswa yang jenuh membaca buku-buku pengetahuan, karena menghabiskan waktu. Selain itu, gaya bahasa yang kaku maupun ukuran buku yang tebal cenderung membuat mahasiswa malas membaca. Benerkah? Hanya diri sendiri yang bisa menjawab.
Kalau mahasiswa sudah tidak tahan mengembangkan pikirannya dengan membaca, biasanya mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan menyerap informasi lewat tayangan televisi. Banyak juga yang menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, berfoto dengan teman dan tempat-tempat hiburan bahkan ke tempat wisata terdekat.
Menyedihkan! Itulah kata paling tepat untuk menggambarkan kegelisahan di atas, mengenai rendahnya minat baca di kalangan mahasiswa. Mahasiswa sebagai intelektual muda, mestinya minat baca menjadi tradisi, atau harus ditradisikan.
Apabila minat baca mahasiswa rendah dibiarkan begitu saja, dapat dibayangkan bagaimana? Untuk menjadikan sebuah universitas maju dan memiliki sumber daya manusia berkualitas. Bagaimana dengan universitas kita? (Imam Khanafi, penjual buku online, pemred majalah PEKA Universitas Muria Kudus (UMK) edisi xv, 2010)
Powered by Blogger.