Header Ads

Gambar1

Hangat Pelukmu

Baca Juga


Oleh : Lady Roem

Pagi itu, suasana kelas IPS 5 sudah mulai ramai. Jono dan teman-temannya asyik menertawakan Ula yang latahnya minta ampun. Sedangkan Eneng sibuk memamerkan gadget barunya. Enemy and the gengs malah asyik berdandan ria.
Jam pelajaran pertama di kelas sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu.
“Put”  panggil teman sebelahku.
“Ya”  jawabku sekenanya.
“Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Daritadi diem terus,” sahabatku itu mulai berbicara lagi.
“Nggak kenapa-kenapa kok,” jawabku lagi dengan nada yang masih sama.
Jam pelajaran pertama sudah selesai dan dilanjutkan dengan pelajaran kedua, Bahasa Indonesia. Bu Lestari, guru yang paling susah diajak kompromi tapi sangat memperhatikan murid-muridnya sudah memasuki kelas.
“Selamat pagi anak-anak tersayangku,” sapaan pertama kali yang selalu beliau ucapkan ketika memasuki kelas.
“Selamat pagi bu guru cantiiiikkkkkk,”jawab anak-anak serentak.
“Oke, hari ini kita akan bahas tentang impian seperti yang sudah ibu janjikan kemarin,” ucap bu Lestari.
“Silahkan tulis masing-masing impian kalian, boleh dimasa kecil ataupun dimasa sekarang,” ucapnya lagi.
Satu jam berlalu dan tugas tersebut sudah harus segera dikumpulkan. Tak ada 5 menit lalu bu Lestari memanggil nama seorang murid.
“Puput,” ucap bu Lestari.
“Eh em iya bu?” balasku gelagapan.
“Kamu maju kedepan ya, baca tulisan mu,” ucap beliau.
Dengan tersenyum lebar dan percaya diri, aku maju kedepan kelas (padahal aslinya aku sangat tak pede bila harus membacakannya).
“Bismillah,” batinku dalam hati.
Aku maju ke depan kelas dan mulai membaca paragraf demi paragraf yang aku tulis.
“Ehm,” ucapku berusaha menghilangkan grogi ku sendiri.
Hatiku seketika tertegun apabila berbicara tentang impian. Impian yang selama ini aku punya hanya menjadi seonggok impian yang terus ada di otakku dan tak kunjung terwujud. Impian yang selalu dan selalu membayangiku.
Masa kecilku dipenuhi dengan sejuta impian. Masa anak-anak yang mempunyai sejuta impian masa depan. Namun ketika beranjak dewasa impian itu belum bisa terwujud. Entah apa yang menghalangiku mewujudkan itu semua, aku sendiri tak tau. Impian terbesar yang aku inginkan saat aku sudah dewasa, adalah aku ingin jadi seorang penulis, penulis yang karya-karyanya dikagumi dan dijadikan penyemangat untuk setiap orang yang membacanya. Penulis yang karya-karyanya menjadi best seller di setiap toko-toko buku.
Akan tetapi bukan cerita tentang cinta yang akan aku angkat, tetapi cerita tentang sebuah perjuangan hidup. Tentang sebuah perjuangan hidup untuk meraih impian. Memang hidup perlu perjuangan, dan disetiap perjuangan yang gigih akan membuahkan hasil yang sempurna.
Aku menghayati setiap tulisan yang sedang aku baca di depan kelas itu. Tanpa kusadari, ada air yang membasahi pipiku, air mata haru tentunya.
Setelah selesai membaca cerpen itu, bu Lestari langsung memelukku erat sambil berbisik “Ibu yakin nak, kelak kau akan menjadi penulis hebat, penulis yang karya-karyanya dikagumui banyak orang, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”
Hatiku tertegun dan tambah pecah airmata ku, aku tambah mempererat pelukan itu. Namun setelah aku melepaskan pelukan itu, tiba-tiba sahabat-sahabatku maju kedepan dan langsung erat-erat memelukku.
“Aku yakin Put kamu akan jadi seperti yang kamu inginkan,” ucap Nana.
“Aku akan selalu mendukungmu, sayang,” ucap Ula.
“Aku bakal jadi orang yang setia membaca karya-karyamu Put,” ucap Caca.
“Terimakasih sahabat-sahabatku,” ucapku tak kuasa lagi menahan tangis.
Sambil menghapus airmata, aku jalan menuju bangku. Bu Lestari lalu memberikan pesan kepada kami semua.
“Ibu yakin, kalian akan jadi orang hebat, orang yang selalu jujur dan tak lupa akan Tuhan.”
Lalu Bu Lestari mengakhiri pembicaraan beliau dan berpamit untuk keluar kelas karena jam pelajaran ke dua telah usai. Setelah semua pelajaran hari itu usai, aku memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Tak menggubris ajakan sahabat-sahabatku itu untuk shopping.
Sesampainya dirumah aku merebahkan badanku di kasur yang tak lagi empuk itu. Kamar yang tak lagi sempurna untuk dibilang sebuah kamar anak perempuan. Saat aku sedang menikmati istirahatku, tiba-tiba seluruh perhatianku dialihkan oleh suara bising dari ponselku, dengan tanganku aku mulai meraih ponselku yang tergeletak di sudut tempat tidurku. Dengan mata yang sedikit berat karena menahan rasa kantuk, aku melirik ponselku, aku tertegun saat aku tau yang menghubungiku siang itu adalah bu Lestari. Ya, Bu Lestari guruku Bahasa Indonesia yang baru beberapa jam lalu bertemu denganku dan memeluk erat tubuhku. Beliau ingin bertemu denganku, dan aku menyetujuinya.
Lalu kurebahkan lagi badanku ke kasur sambil mendengarkan lagu grup band Jikustik yang dulu pernah sangat booming tahun 2006, Puisi. Aku kembali melirik jam dinding, pukul 17.00 itu artinya aku harus segera mandi, menunggu adzan maghrib lalu sholat dan bersiap untuk kerumah Bu Lestari.
Sesampainya di rumah Bu Lestari, beliau kembali memeluk ku erat. Erat sekali dan bisa dikatakan sangat erat sampai-sampai aku bisa merasakan debaran jantung bu guruku itu. Lalu beliau menyuruhku duduk di sofa empuknya dan membuat kan ku segelas es sirup frambos kesukaanku. Ternyata beliau faham betul apa minuman yang selalu aku pesan di kantin.
Aku menyeruput nya.
“Enak sekali bu sirupnya,” ucapku sambil cengengesan.
“Habiskan, nanti Ibu buatkan lagi,” timpalnya.
Lalu beliau mulai membuka pembicaraan yang cukup serius, menurutku.
“Ibu menyayangimu nak, Ibu menyayangimu seperti anak Ibu sendiri. Ketika Ibu mendengarkan ceritamu tadi didepan kelas, Ibu teringat sosok Tasya,” ucapnya.
“Tasya siapa bu?” aku berusaha meraba-raba pikirannya.
“Tasya, anak Ibu,” senyumnya merona.
“Ibu punya seorang putri, sangat anggun dan cantik walaupun umurnya masih tergolong muda, tapi dia anak yang penuh semangat dan pantang menyerah,” senyum simpul itu beliau perlihatkan lagi.
“Lalu dimana putri Ibu sekarang? Siapa tau aku dan Tasya bisa main-main bareng bu,” masih dengan sikapku yang cengengesan.
“Tasya sudah disurga bersama papanya nak,” Bu Lestari tetap tersenyum namun ada airmata yang sekarang membasahi pipinya.
“Dulu Tasya punya keinginan sepertimu nak. Dia sangat ingin menjadi seorang penulis,” ucap beliau.
Namun beliau tak menceritakan keseluruhan tentang Tasya, tapi aku terus meraba-raba pikiran dan perasaannya. Aku tau ada sesuatu yang ingin diceritakannya kepadaku. Namun entah apa yang mengurungkan niat beliau menceritakannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 aku pun harus lekas pulang, karena aku tau jarak rumah Bu Lestari ke rumah ku lumayan jauh. Setelah sampai rumah aku disambut lagi dengan pelukan hangat ibuku. Entah kenapa hari ini adalah hari penuh pelukan, pelukan kasih sayang tentunya.
Powered by Blogger.