Header Ads

Gambar1

Wakapolda Jawa Tengah Minta Mahasiswa Bangun Idealisme Sebagai Pilar Bangsa

Baca Juga

pena online.doc

Seperti yang telah diketahui, bahwa akhir-akhir ini di Indonesia mudah terjadi konflik. Sebut saja aksi 411, 212, 121 dan aksi lainnya yang didominasi oleh pemuda. Aksi yang mencerminkan masyarakat Indonesia yang emosional dan mudah terpecah belah. Mudahnya konflik horizontal yang terjadi, karena masyarakat Indonesia belum bisa menghormati, menghargai perbedaan dan ketidaksepahaman pendapat.

Sadar akan peran mahasiswa untuk menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI, Badan Eksekutif Mahasiswa bersama Resimen Mahasiswa Universitas Muria Kudus gelar talkshow kebangsaan-kebhinekaan. Acara yang diadakan di Auditoirum Sabtu (14/01) kemarin, dihadiri oleh perwakilan pengurus BEM dan Menwa Se-jawa tengah. Selain itu turut pula hadir perwakilan Ormas dan lembaga di kabupaten Kudus.

Bersama empat narasumber, idealisme mahasiswa yang dirasa kurang terhadap perannya sebagai pilar bangsa dikupas melalui empat sudut pandang. Kasdam IV Diponegoro berbicara tentang ancaman dari luar negera, Wakapolda Jawa tengah membahas stabilitas keamanan dalam negeri. Sementara itu narasumber lain, KH Ahmad Badawi Basyir mengulas konteks bela negara dalam islam, dan Subarkah membahas penanaman nasionalisme dalam lingkup akademik.

Pentingnya membangun idealisme mahasiswa sebagai pilar bangsa, terus ditegaskan oleh Kasdam. Terlebih, ancaman dari luar terus berdatangan.“Mahasiswa generasi luar biasa penerus ke depan. Jadilah agent of change yang memiliki kepekaan tinggi. Jangan langsung merubah dunia, mulai dari merubah diri sendiri menjadi benar dan pintar,” jelasnya. Ia juga menambahkan “Bela negara tak harus angkat senjata,”

Begitu pula oleh Wakapolda jateng, yang berharap penuh  pada generasi muda. “Jika bangsa diibaratkan sebuah rumah, maka mahasiswa adalah tiangnya. Bisa saja keropos, rusak. Tetapi jika mahasiswa memiliki idealisme menjadi pilar, maka pasti kita semua tidak khawatir,” terang Brigjen Pol Firli.

Idealisme mahasiswa tetap harus berpedoman pada Pancasila, UUD, dan Bhineka Tunggal Ika. “Bhineka Tunggal Ika harga mati, kita harus bertanggung jawab untuk mempertahankannya” tambahnya.

Bila dilihat dari sudut pandang islam, maka pendapat Ahmad Badawi atau yang akrab  dipanggil yi Badawi pun tak jauh berbeda,”Mencintai tanah air adalah sebagain dari iman.”

“Idealisme tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi juga bukti nyata bahwa kita bisa hidup berdampingan. Saling mendukung. Jadi, orang yang tidak bisa menghargai simbol negara tidak berhak hidup di Indonesia,” tambah Penasehat Forum Ulama Nusantara se-Asia Tenggara itu.

Sekitar 700 peserta menghadiri talkshow tersebut. Tari Kretek dihadirkan sebagai penyambut acara sekitar pukul 09.00 WIB. Melalui moderator Sulistyowati konsultan hukum, talkshow berakhir pada pukul 13.30 WIB dan berhasil menarik antusias peserta. “Ini pertama kalinya kita mendatangkan TNI, Polri, Kyai dan ahli hukum duduk berdampingan. Peserta yang datang melebihi target kami yang awalnya 500 peserta menjadi 800 peserta. Harapannya, peserta tidak hanya keluar sebagai audience, tetapi juga membawa jiwa nasionalisme yang lebih dan membawa jiwa NKRI harga mati,” pungkas ketua panitia, Ayu Puspitowati. IN/ Pena Online
Powered by Blogger.