“Kreatif itu Keren” Fasbuk Edisi Januari 2017

Baca Juga


Iwan Gunadi (Kiri), Jumari HS (Tengah), Mustafa Ismail (Kanan) ketika menjadi narasumber dalam diskusi FASBUK bertajuk “Kreatif itu Keren”. (Doc.Peka)

Pena Kampus, UMK – “Puisi yang baik itu adalah dimana ketika puisi tersebut dibaca oleh orang lain, maka orang tersebut dapat menggambarkan makna yang dimaksud dalam puisi tersebut,” terang Mustafa Ismail Sastrawan dari Aceh yang tampil membacakan puisi dalam Fasbuk akhir Januari Kemarin.
Meskipun tidak hanya dari segi puisi bisa dipahami pembaca, namun faktor yang lain juga mempengaruhi puisi baik atau tidak itu bahasa. “Setiap orang itu sebetulnya bisa membuat puisi tinggal mau atau tidak, dan baik atau tidaknya itu juga tergantung dengan bahasa yang digunakan. Penggunaan Bahasa akan berpengaruh pada kemudahan orang memaknai puisi tersebut,” tambah sastrawan yang juga sebagai Direktur Seni/budaya di Majalah Tempo.

Acara yang dimoderatori langsung oleh Jumari HS tersebut menyedot animo peserta dari berbagai daerah. Seperti dikutip dari seputarkudus.com salah satu pesertanya bernama Faizul. Faizul salah satu siswa MA NU TBS yang rela berpisah dengan teman-temannya di acara pengajian demi mengikuti acara Fasbuk ini.
“Tadinya saya berangkat sama teman-teman dari rumah, karena tidak ada yang mau saya ajak ke sini akhirnya saya memisahkan sendiri. Teman-teman saya memilih datang di pengajian di Desa Pedawang, tapi saya ingin kesini untuk belajar satra. Saya baru pertama kali ikut acara Fasbuk, tau acara ini dari pamflet di jalan,” ungkap warga Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus itu.

Selain itu narasumber yang lain Iwan Gunadi yang juga menjadi narasumber dalam diskusi yang diselenggarakan usai pembacaan puisi, sangat mengapresiasi penampilan penyair muda di Kudus. Menurutnya, sudah saatnya penyair muda Kudus memperlihatkan eksistensinya. “Saya berharap para penyair muda terus menulis dan terus membaca, dua hal itu harus dilakukan jika ingin pandai menulis. Selain itu para penyair muda saat inilah yang nanti akan menggantikan kedua sastrawan tadi (Jumari HS dan Mustafa Ismail),” ungkap Iwan.

Dalam diskusi ini Mustafa Ismail juga menjelaskan mengenai pemanfaatan media sosial sebagai tempat untuk mendokumentasikan karya puisi. “Penggunaan media sosial itu ada baik dan buruknya. Baiknya adalah kita bias menyampaikan karya secara langsung dan diketahui banyak orang. Namun jika terjadi kesalahan maka dampaknya besar. Namun setidaknya kita bisa memanfaatkan media sosial dengan baik dan karya terdokumentasi,” tutur Mustafa.


Dipenutup sambutannya Jumari HS sebagai moderator mengajak para penyair muda generasi-generasi penyair muda di Kudus terus muncul dan berkembang. Ia ingin memberi motivasi, belajar bersama dan berdiskusi. Terus berjejaring, karena butuh jaringan untuk seorang sastrawan agar dapat terus berkembang. (Reza/Masta/FAKTA)
Powered by Blogger.