Header Ads

Gambar1

Malam Sapardi "Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono"

Baca Juga

Diskusi interaktif antara narasumber dan penonton, diselingi penampilan dari Gado-gado Coustic (Doc. PEKA)

Pena kampus - Siapa yang tidak kenal Sapardi Djoko Damono? Sesorang sastrawan melalui pui-puisinya yang menggunkan kata-kata sederhana. Bebrapa diantaranya popular dikalangan sastrawan dan khalayak umum. Tak heran jika puisi-puisinya sering digunakan untuk menghiasi surat cinta hingga undangan pernikahan.

“Berbicara karya beliau, disini sangat banyak tidak hanya dalam bentuk puisi, cerpen tetapi juga bentuk yang lainnya. Seperti bukunya sosiologi sastra yang digunakan sabagai rujukan mahasiswa untuk mengkaji teori dan literaturnya,” tutur Widya Hastuti Ningrum ketika menjadi narasumber pada acara yang diselenggarakan oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus di Auditorium UMK (20/03).

Sebagai sastrawan terpandang, Fasbuk mengapresiasi karyanya melalui sebuah pertunjukan sastra dan budaya yang dipadu dengan diskusi interaktif antara narasumber dan penonton. Bertemakan “Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono”. Acara yang bernuansa pink tersebut, menyajikan musikalisasi puisi denga gaya keroncong yang dibawakan oleh Gado-gado Coustik dan SIkustik

Menurut Widya, kalau kita  menyukai seorang sastrawan kita harus memiliki karyanya. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya kita tidak hanya melihat sastra dan mendownloadnya melalui internet saja tetapi kita juga harus membeli bukunya. “Mencintai sastrawan harus mencintai bukunya dan membelinya,” jelas Sekretaris KPK (Keluarga Penulis Kudus) tersebut.

"Puisi itu mini kata, tapi punya banyak makna. Siapapun bisa membuat karya dan berpuisi kalai ia ada kemauan. Bersastra tidak memandang latar belakang. Dalam diri manusia mempunyai unsur seni. Sebagai contoh, Andrea Hirata yang Jurusan Komunikasi juga mampu bersastra,” tambah Widya. (Mathoril/Masta/PEKA Online)


Powered by Blogger.