Memaknai 1 April sebagai Gerakan Cinta Produk dalam Negeri

Baca Juga

Pena Kampus- Sejak 2014 lalu, 1 April memiliki arti lebih mendalam bagi insan ekonomi di Indonesia. Bagaimana tidak? Pada tanggal itu, Mari Elta Pangestu selaku menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan bahwa 1 April adalah Hari Marketing Nasional atau disingkat dengan “Hamari”. Dengan penetapan hamari tersebut, mendasari sebuah gerakan nasional yang baru untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dalam percaturan bisnis dunia. Dimana tujuan penetapan Hari Marketing Indonesia ini adalah untuk mendorong para tenaga pemasaran menjadi lebih kreatif dan inovatif. 
Istimewa
Sudah kita ketahui bahwa, salah satu tugas penting bagi pemasar/marketer adalah dengan terus menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan untuk mempertahankan pelanggan tersebut dan bahkan pelanggan yang benar-benar puas dapat merekomendasikan kepada pelanggan lain mengenai produk maupun perusahaan. Semua kegiatan perusahaan harus dicurahkan untuk mengetahui apa yang menjadi kegiatan konsumen dan kemudian memuaskan keinginan-keinginan pelanggan tersebut.
Di dalam konsep Marketing diterangkan bahwa kegiatan Marketing suatu perusahaan harus dimulai dengan usaha mengenal dan merumuskan keinginan dan kebutuhan dari konsumen. Kemudian perusahaan menyesuaikan kegiatannya agar dapat memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara efektif dan efisien. Maksud dari efektif dan efisien disini adalah dalam pemenuhan kebutuhan konsumen harus tepat sasaran dan tepat waktu, yaitu apa dan kapan konsumen menginginkannya. Namun hingga sekarang, rata-rata masyarakat indonesia masih enggan menetapkan kepercayaannya pada produk-produk lokal. Diharapkan agar sistem marketing pemilik produk atau perusahaan lebih tersosialisasi dengan lebih baik agar masyarakat dapat menerima dan mencintai produk dalam negeri.
Dengan adanya Hamari ini juga diharapkan mampu menjadikan satu langkah lebih baik dalam mendorong semangat bagi merk asli Indonesia untuk dapat sederajat dengan merk luar negeri di mata konsumen. Hal ini sangatlah penting, karena dapat meningkatkan citra merk dagang produk tersebut dalam negeri maupun luar negeri. Pastilah hal tersebut mampu membuat bangga bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebelum beranjak produk Indonesia untuk go internasional, mula-mulai harusnya dimulai dari kita sendiri, sebagai warga negara indonesia untuk mencintai produk lokal (dalam negeri).
Perekonomian Indonesia seharusnya dapat berkembang dengan baik bilamana masyarakat indonesia yang merupakan 5 besar negara dengan jumlah penduduk paling banyak di dunia dapat berperan serta dengan baik pula. Salah satunya dengan membeli dan mengkonsusi produk dalam negeri. Mengingat masyarakat indonesia yang sangat banyak tentunya perilaku ekonomi mereka sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional, bahkan internasional.
Seperti halnya yang dilansir dalam marketing.co.id menyebutkan tentang  alasan mengapa kita harus membeli produk Indonesia antara lain:
·       Produksi dalam negeri meningkat.
·       Menambah besar skala usaha dalam negeri.
·       Menambah jumlah investasi di Indonesia.
·       Meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan.
·       Mengurangi angka kemiskinan dan kriminalitas.
·       Menambah jumlah pendapatan nasional.
·       Meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang lebih stabil
·       Meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Hamari diharapkan mampu menjadi momentum yang baik dalam menunjukkan kreatifitas dan inovasi yang baru melalui program dan aktivitas marketing sehingga dapat menambah nilai pada tiap konsumen dan mereka lebih mencintai produk dalam negeri dibanding produk luar negeri. Meskipun Hamari sudah berjalan selama 3 tahun namun, Hamari masih asing di sebagian telinga masyarakat Indonesia.  Untuk tahun 2017 sendiri belum terekspos tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah maupun dari pihak yang lain. Hal ini menyebabkan “Hamari” terkesan asing dan kurang dikenal bagi masyarakat luas  terutama bagi mereka yang masih awam terkait perekonomian nasional. (dari berbagai sumber)

Penulis  : M. Lukman
Editor    : Dewi Lestari
Powered by Blogger.