Turn Back Hoax, Upaya Mengatasi Hoax

Baca Juga

Pena Kampus-Memasuki zaman yang semakin modern ini tentunya sangat banyak teknologi yang telah diciptakan oleh pakar-pakar terkemuka dunia untuk membantu memecahkan berbagai macam hambatan-hambatan yang dialami manusia agar hidup semakin menjadi mudah. Salah satu dari sekian banyak teknologi tersebut adalah kecanggihan teknologi saat melakukan telekomunikasi berupa  internet.
Doc. Peka

Dalam satu dekade terakhir, internet menjadi suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Segala kebutuhan yang dilakukan manusia tidak bisa terlepas tanpa adanya internet. Seperti berita misalnya, dengan adanya internet masyarakat dapat mengakses berita yang mereka butuhkan hanya dalam hitungan detik, dimanapun dan kapanpun. Berbeda dengan sebelum adanya internet, dimana mereka harus menuggu setiap pagi untuk mengetahui hal-hal terbaru yang sedang terjadi di kawasan skala kota, nasional maupun internasional melalui koran langganannya. Atau mereka harus menunggu seseorang yang memberi kabar tentang hal-hal penting di sekitar tempat dimana mereka tinggal.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu yang paling baikpun tentu memiliki dampak buruk, tidak terkecuali dengan berita di internet. Akhir-akhir ini banyak sekali berita bohong yang yang sangat tidak relevan, masyarakat sering menyebutnya berita hoax yang keberadannya sangat meresahkan. Sepert akhir-akhir ini marak berita hoax tentang penculikan anak. Di Surabaya, seorang perempuan dituduh akan melakukan penculikan di SDN Mojo I, Kamis (24/3) kemarin. Namun dugaan penculikan tersebut tidak terbukti. Wanita tersebut ternyata seorang gelandangan.
Foto: Hakim Ghani/ detikcom

Dilansir oleh news.detik.com “Isu penculikan anak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Isu tersebut juga mengakibatkan banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban salah tangkap dan amuk massa.” Jumat, 24 maret 2017.
Menurut viva.co.id hoax juga mulai disebarluaskan karena, Pertama, ketidaksenangan kepada rezim atau suatu kelompok dalam perebutan kekuasaan. Ketidaksenangan kepada rezim bisa memicu orang membuat hoax dan ini sudah kita lihat di Indonesia. Ketidaksenangan ini bisa disebabkan oleh kekalahan di pemilu atau berbagai alasan lain. 
Kedua adalah iseng. Keisengan di internet yang berbuah pendapatan. Seperti yang dijelaskan oleh salah seorang pelaku pembuat hoax di saat pemilihan umum di AS, ia membuat hoax semata karena iseng dan ternyata keisengan tersebut kemudian dipercaya orang lain. Terlebih kemudian keisengan berbuah pendapatan yang tidak disangka-sangkanya. Keisengan tersebut terus meningkat karena pengguna internet sedemikian mudahnya dikelabuhi. Mereka tidak pernah melakukan cek dan ricek ketika membaca sebuah artikel tertentu dan langsung membaginya ke teman-teman mereka. 
Ketiga adalah motif pendapatan. Sangat banyak pelaku hoax dengan motif pendapatan ini. Mereka secara sengaja atau tidak mengetahui bahwa pengguna internet sangat mudah dipengaruhi oleh berita-berita bombastis dengan kebenaran yang dipelintir apalagi kalau sudah dikaitkan dengan kesukaan atau kebencian terhadap sesuatu. Dalam pemilu AS yang lalu, ada pembuat konten palsu di Facebook yang bermarkas di Macedonia yang semata-mata hanya membuat hoax yang pro ke Trump dan mendeskreditkan Hillary. Hoax yang mereka buat ini kemudian disebar di Facebook dan memperoleh angka re-share yang sangat tinggi.
Menghadapi maraknya hoax tersebut, saat ini telah dibuat beberapa solusi penangnan hoax salah satunya yaitu apikasi turn back hoax yang di rilis oleh Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Aplikasi ini Berbentuk ekstensi peramban Chrome dengan mengandalkan mekanisme crowdsourcing. Cara kerja aplikasi ini yaitu memberikan kesempatan bagi pengunanya untuk melaporkan konten yang berisi hoax. Berita-berita itu kemudian dikumpulkan dalam satu basis data disertai dengan rincian tentang berita tersebut. Dengan begitu pengguna yang lain bisa tahu bahwa suatu berita merupakan hoax dengan mengunjungi situs turn back hoax (data.turnbackhoax.id).
istimewa

Sejauh ini respon masyarakat terhadap adanya situs turn back hoax masih minim. Selain itu tanggapan mereka terhadap penangan hoax juga kurang begitu baik sehingga hoax masih sering meresahkan mereka.
Di luar negeri sendiri, Jerman tepatnya sedang menjalin kerja sama dengan facebook. Jerman menilai bahwa hoax akan sangat meresahkan masyarakat mereka. Apalagi menjelang pemilu yang akan dilaksanakan di negara itu, mereka hawatir hoax akan mempengaruhi masyarakat seperti yang terjadi pada pemilu AS pada 2016 lalu.
Facebook akan bekerja sama dengan pihak ketiga “Correctiv”, organisasi berita nirlaba yang berpusat di Berlin, Jerman. Berita yang muncul di laman facebook akan di filter, lalu   diberikan tanda jika berita tersebut merupakan hoax. Hal ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan terhadap masyarakat Jerman mejelang pemilu tahun ini. Facebook juga berharap fitur ini bisa diterapkan di negara lainnya agar penyebaran hoax dapat ditangkal. (dari berbagai sumber)

Penulis : Luqman

Editor   : Rifa 
Powered by Blogger.