FASBuK : Hoax, Mengharuskan Masyarakat Berpikir Kritis

Baca Juga

Diskusi Interaktif Forum Apresiasi Sastra dan Budaya yang dipimpin langsung ketua Fasbuk Arfin Am (Tiga dari Kiri)

Pena Kampus UMK – Informasi Hoax yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat menjadi perhatian tersendiri yang harus segera diantisipasi. Salah satunya Fasbuk (Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus) juga ikut berperan serta mengatasi masalah ini. Salah satunya yaitu digelarnya forum diskusi dan pertunjukan sastra berupa teater dan puisi Sabtu (20/05) di lapangan Basket Universitas Muria Kudus.

Dengan Judul Hoax Hoex Hoam menunjukkan betapa muaknya masyarakat dengan berita palsu yang belakangan ini mengganggu bahkan meresahkan sebagian besar masyarakat. Maka dari itu sangat diperlukan cara untuk mengantisipasi hal tersebut,” tutur Neno salah satu Crew Fasbuk.

Acara ini menampilkan kreatifitas sastra para mahasiswa diantaranya adalah Naela Khusna Faea Shufa dari UMK dengan membawakan puisi berjudul Negeri Makam Suram, Sri Ellyyanti Octavianti dari Stikes Muhammadiyah Kudus membawakan puisi berjudul Negeri Berbalut Politikus dan Risa dari Stain Kudus membawakan puisi berjudul Kabar Sesat. selain itu juga ada penampilan dari Teater Bledug dan acara kemudian diakhiri dengan sebuah diskusi yang dinarasumberi oleh Muhammad Noor Ahsin dosen Umk dan Akrom Hazami Redaktur murianews.com

“Melalui media masa, hoax sangat berkembang pesat karena masyarakat yang sebagian besar adalah remaja mudah percaya kepada seluruh berita yang ada. Apalagi dengan judul berita yang sangat menarik serta berita yang diatur sedemikian rupa seperti fakta padahal tidak demikian kenyataannya. Hal ini juga diperparah lagi karena adanya beberapa wartawan yang kurang menghormati kode etik jurnalistik, dimana mereka terlalu banyak memberikan bumbu pada berita yang mereka tulis mempengaruhi pemahaman pembaca melenceng dari keberanan berita sesungguhnya” ungkap Akrom.

Pers atau media massa terutama yang berada di dunia maya tentu sadar bahwa tindakan memberitakan sesuatu yang tidak benar merupakan sebuah kejahatan sesuai dengan UU. ITE. Maka meski berita yang disampaikan bila dipahami secara keseluruhan akan meberikan pemahaman  yang melenceng namun berita tersebut masih masih relevan sehngga mereka tidak terjerat dengan UU ITE.

Semua itu seharusnya merupakan sebuah tanggung jawab dari editor dan redaktur karena merekalah yang dapat menentukan apakah sebuah berita bisa di publikasikan ataupun tidak.

Noor ahsin menghimbau agar masyarakat dapat berpikir kritis terhadap seluruh berita yang mereka terima. Seperti pada berita yang sering muncul di media sosial dimana si penerima berita diharuskan untuk membagikan beritanya kepada orang lain, berita yang demikian harus di kros cek terlebih dahulu, apakah berita tersebut sesuai baik secara isi maupun tulisannya serta layak atau tidakkah seseorang menerima berita tersebut.


Berita hoax secara tidak langsung juga terjadi secara lisan dimana setiap orang yang menyampaikan berita pada orang lain seperti tetangganya sendiri, biasanya berita tersebut diberikan tambahan agar terdengar wah dan menarik untuk didengarkan,” tambah Ahsin (Lukman/Peka Online)
Powered by Blogger.