Terbang Papat Pengikis Budaya Negatif para Penjajah

Baca Juga

Group Terbang Papat (Mushlihul Wildan) tambpil diacara Fasbuk
Pena Kampus UMK – Fasbuk April mempersembahkan pertunjukan seni dan budaya dengan tema “Harmonisasi Bunyi”. Tim Fasbuk menyoroti Terbang papat yang akhir ini hampir mengalamai kepunahan, dengan adanya acara ini akan mampu membangkitkan kembali keberadaan terbang papat di kota kudus.
Di semua desa di Kudus hampir semua mempunyai terbang papat. Yang dimainkan oleh kalangan orang tua. Ini diharapkan supaya ada regenerasi yang bisa menggantikan para orang tua dan melestarikan terbang papat.

“Kita lihat anak muda sekarang bahwa terbang seperti ini sangat tidak disuka. Karena termasuk terbang kuno. Kalau boleh kita tengok, munculnya terbang papat itu sebagai upaya untuk mengikis kebudayaan para penjajah yang tradisinya bertolak belakang dengan tradisi dan pola piker masyarakat kita. Seperti mabuk-mabukan, pergaulan bebas sehingga para ulama memunculkan terbang papat ini untuk mengikis kegiatan negatif dari para penjajah. Tembang papat sudah ada sekitar tahun 1936an. Terbang papat itu seni music yang sangat murah sekali, Karena hanya terdiri alat terbangan dan jadur, “ Ungkap Komarul Adib salah satu tokoh aktivis dan pemerhati budaya Kudus.

“Bagaimana susah sedihnya dinamika regenerasi personil terbang papat dan adakah bantuan dari pemerintah untuk melestarikan?” Tanya M. Noor Ahsin, salah satu peserta diskusi ketika menanyakan bagaimana susah sedihnya dinamika regenerasi para personil terbang papat (Mushlihul Wildan) bisa eksis sampai sekarang.
“Suka dukanya kadang ada yang protes mengenai suara kalua ada orang sakit. Biasanya kita mulai pembacaan sholawat pada malam Jum’at. Kita juga memberikan motivasi pada anak-anak kecil hingga dewasa untuk melestarikan terbang papat,” jawab salah satu personil terbang papat.

Sekedar informasi, beberapa tahun lalu di kabupaten Kudus diselenggarakan festifal terbang papat dan mendapat rekor muri. Kegiatan itu sebagai wujud pelestarian terbang papat dikabupaten Kudus. Menurut Komarul Adib salah satu orang di Padurenan juga yang berkecimpung di terbang papat, merespon kegiatan seperti itu cukup efektif untuk membuat orang lain tertarik terhadap terbang papat.

“Terbang papat sebagai pelestarian kebudayaan dampaknya sangat luar biasa. Komunitas terbang papat di desa-desa mulai tumbuh bangkit. Contohnya ketika kemari nada festival maulid di kampus saja, banyak dari kampung-kampung yang mengirimkan perwakilannya dan mayoritas pemuda. Dengan sedemikian rupa mereka membuat terbang papat tampak lebih kreatif,” tabah Adib. (Thata/FAKTA)


Powered by Blogger.