TRANSFORMASI UNIVERSITAS MURIA KUDUS MENJADI INDIGENOUS UNIVERSITY

Baca Juga

Pena Kampus-Pemaknaan bahwa Universitas Muria Kudus sebagai Culture University masih sangat awam di masyarakat. Sebagai perguruan tinggi yang berbasis Culture University, ternyata masih banyak pihak yang salah mengartikan pemaknaan kata “culture”. Pemahaman masyarakat mengenai culture atau kebudayaan adalah terkait seni khas daerah lokal (Kudus, seperti gamelan). Padahal, makna kata “budaya” terdiri dari tiga hal, diantaranya: cipta, karsa, dan karya. Pada kenyataannya, indikator culture di UMK masih belum jelas dan belum mengarah pada pemaknaan kata “culture”. Hal tersebut yang melatarbelakangi diubahnya konsep Culture University menjadi Indigenous University.
 “Usulan Indigenous University dari Senat, tentu setelah dilakukan penelitian. Karena universitas yang paling dapat diterima oleh pusat adalah universitas yang mampu mengangkat kearifan lokal dan mengemasnya dengan baik. Hal tersebut dapat menjadi kekuatan dan keunggulan dari sebuah universitas. Konsep Indigenous University mengangkat local wisdom dari masyarakat Kudus dan sekitarnya seperti Demak, Pati dan Jepara” Terang Murtono selaku wakil rektor 1.
Sebagai antisipasi perkembangan IPTEK yang pesat di global, UMK terus berupaya menjadi perguruan tinggi yang diterima di tingkat nasional maupun internasional. Melalui konsep terbaru yaitu Indigenous, diharapkan UMK mampu mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal untuk menuju persaingan global.
Perubahan konsep UMK menjadi Indigenous University diikuti dengan perubahan tag line dan visi&misinya. Tag line “Cerdas dan Santun” kini diubah dan disesuaikan dengan konsep yang baru yaitu “Santun, Cerdas, dan Berjiwa Wirausaha”. Perubahan ini dipengaruhi oleh filosofi indigenous, yaitu “gusjigang” yang sejatinya telah tertanam pada diri masyarakat Kudus khususnya. Adapun artinya yaitu “gus yaitu bagus atau baik akhlaknya, “ji” yang berarti ngaji atau menuntut ilmu, dan “gang yaitu dagang atau memanfaatkan ilmu untuk hal yang baik. Filosofi “gusjigang” ini akan diterapkan kepada seluruh civitas akademika di Universitas Muria Kudus.
Melalui filosofi tersebut, visi UMK adalah menjadi universitas yang unggul berbasis kearifan lokal berdaya saing global untuk menghasilkan insan-insan yang santun, cerdas dan berjiwa wirausaha. Langkah-langkah yang ditempuh dalam mewujudkan Indigenous University telah dijelaskan dalam misinya.
Langkah pertama adalah dengan lebih menonjolkan jiwa wirausaha pada mahasiswa. Dalam menanamkan jiwa wirausaha, Universitas Muria Kudus telah menerapkan keterampilan wajib wirausaha. Namun, keterampilan wajib dirasa kurang dalam menanamkan jiwa wirausaha mahasiswa. Keterampilan wajib wirausaha hanyalah dasar dan belum teraplikasi. Dalam mengaplikasikan jiwa wirausaha kepada mahasiswa, mata kuliah disemua program studi akan disisipi kewirausahaan. Langkah kedua, dengan menyelenggarakan program penelitian yang lebih kreatif dan inovatif serta berwawasan global. Bukan hanya mahasiswa yang dituntut aktif dalam membuat karya ilmiah, dosen juga diharuskan untuk menulis jurnal ilmiah yang nantinya dapat dimasukkan dalam jurnal nasional dan internasional. Selanjutnya, menyelenggarakan pelayanan untuk masyarakat berbasis penelitian yang profesional dan dapat berhasil guna.
Konsep terbaru Universitas Muria Kudus ini nantinya disosialisasikan melalui berbagai media salah satunya dengan menempel visi dan misi terbaru pada mading di seluruh kampus dan mensosialisasikan kepada seluruh mahasiswa dan civitas akademika terkait perubahan tersebut.
Dengan adanya perubahan konsep tersebut, diharapkan mahasiswa Universitas Muria Kudus dapat menjadi mahasiswa yang berkualitas. Mahasiswa yang tidak hanya pandai akademis namun juga softskill yang mumpuni, selain itu juga mendorong mahasiswa lebih aktif untuk membuat karya tulis seperti PKM, jadi tidak hanya berprestasi di lingkungan kampus namun, diluar kampus juga.
 “Mahasiswa Universitas Muria Kudus harus selalu semangat. Terlepas dari fakta bahwa kita berada di kota kecil, kita harus dikuatkan secara global. Perubahan itu perlu untuk inovasi agar lebih baik. Tanggapi perubahan yang ada dengan positive thingking, simak dengan seksama, serta selalu berhati-hati agar tidak tersesat. Semua civitas akademika di Universitas Muria Kudus harus berubah menjadi yang lebih baik. Yang paling penting adalah berani mencoba, karena masih banyak mahasiswa yang sebenarnya penuh potensi dan berbakat namun masih takut untuk mencoba. Kerja keras, berani mencoba, dan selamat berkreasi” Tutur Murtono.
Demi mewujudkan visi dan misi terbaru, Universitas Muria Kudus senantiasa melakukan inovasi. Salah satunya, dengan pendaftaran Online untuk calon mahasiswa baru tahun 2017/2018. Inovasi lainnya adalah mempercepat keluarnya ijazah, sehingga saat wisuda ijazah kelulusan dapat diberikan saat itu juga dan ini telah direalisasikan pada wisuda periode April 2017. Selain itu, masih banyak inovasi baru yang selalu ter-update dan mengikuti perkembangan zaman. (Vividka)


Powered by Blogger.